Repelita Jakarta - Narasi seputar pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menuai sorotan tajam dari kalangan akademisi karena dianggap berdampak langsung pada seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
Pernyataan dari pihak otoritas yang menyebutkan bahwa stabilitas ekonomi masyarakat di wilayah pedesaan tidak akan terganggu oleh dinamika mata uang asing tersebut dinilai kurang tepat dan tidak sesuai dengan realitas di lapangan.
ADVERTISEMENT
Ketergantungan terhadap komoditas impor yang masih sangat tinggi membuat gejolak moneter di tingkat global dapat langsung memicu kenaikan harga barang konsumsi dasar di pasar tradisional hingga ke pelosok daerah.
"dan nilai tukar rupiah yang sekarang sudah mencapai 17.600 itu tanda menuju krisis moneter hm jadi kalau krisis fiskal bersamaan dengan krisis moneter itu terjadi ini yang disebut dengan krisis yang dampaknya besar pada dinamika sosial dan politik ya itu mengakibatkan gejolak politik yang luar biasa itu yang menyebabkan ee the ekonomis mencermati Indonesia," ungkap Ubedilah Badrun mengenai ancaman sistemik yang kini mengintai perekonomian nasional.
Beliau memaparkan bahwa logika yang digunakan dalam komunikasi publik pemerintah terkesan mengabaikan rantai pasok energi dan pangan yang saat ini sebagian besar transaksinya masih menggunakan mata uang dolar.
"jadi kalau Prabowo bilang bahwa ee orang desa enggak pakai dolar artinya dia mau mengatakan bahwa dolar yang gagah dibanding ee rupiah atau rupiah melemah itu tidak berdampak kepada orang desa itu salah narasinya itu di desa itu makan minyak goreng kan masak pakai BBM h sementara BBM kita masih banyak impor impor tuh pakai dolar kenaikan harga minyak BBM itu berdampak pada orang-orang di desa hm ya jadi kalau bilang orang desa itu enggak pakai dolar dan tidak terdampak terdampak sangat kuat jadi saya heran ini kok Prabowo salah ngomong ya jadi aneh," tegasnya menutup ulasan kritis tersebut.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok