Berita, Nasional

Rupiah Jebol Rp17.310 per Dolar AS, Terlemah Sepanjang Sejarah

Repelita.net

23 April 2026 15:46 WIB • 915 view

Rupiah Jebol Rp17.310 per Dolar AS, Terlemah Sepanjang Sejarah
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Nilai tukar Rupiah kembali tertekan dan berhasil menembus level terlemah sepanjang sejarah pada perdagangan Kamis siang, 23 April 2026.

Berdasarkan data dari Bloomberg pada pukul 13.30 WIB, mata uang Garuda terpantau berada di level Rp17.310 per Dolar Amerika Serikat.

ADVERTISEMENT

Posisi tersebut mencatatkan pelemahan sebesar 0,74 persen jika dibandingkan dengan perdagangan pada hari sebelumnya yang masih di bawah ambang batas tersebut.

Level Rp17.310 ini sekaligus menjadi titik terendah yang pernah dicapai oleh Rupiah sejak berakhirnya krisis moneter yang melanda Asia pada tahun 1998.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menyebut bahwa pelemahan Rupiah saat ini terutama dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global.

"Tekanan terhadap Rupiah hari ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global yang juga menekan mata uang regional," ujar Destry dalam pernyataan resminya.

Ia menjelaskan bahwa kondisi ketidakpastian tersebut berasal dari berbagai faktor termasuk eskalasi konflik geopolitik di beberapa belahan dunia.

Menurut Destry, pergerakan Rupiah yang melemah ini masih sejalan dengan mata uang negara-negara lain di kawasan Asia.

Secara year-to-date atau sejak awal tahun 2026, pelemahan Rupiah tercatat sebesar 3,54 persen jika dihitung secara akumulatif.

Untuk meredam gejolak yang semakin meningkat ini, Bank Indonesia akan memperkuat intervensi di pasar keuangan secara agresif.

"Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui intervensi di pasar offshore (NDF), pasar domestik (spot dan DNDF), serta pembelian SBN di pasar sekunder," jelas Destry memerinci strategi BI.

Ia juga memastikan bahwa posisi cadangan devisa Indonesia masih tetap kuat dan mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional.

"Cadangan devisa tetap kuat sebesar 148,2 miliar Dolar AS pada akhir Maret 2026," ungkapnya memberikan jaminan kepada publik dan pelaku pasar.

Selain intervensi langsung, Bank Indonesia juga akan memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter yang pro-market.

Langkah ini ditempuh untuk menjaga daya tarik aset domestik di mata investor asing di tengah ketidakpastian global yang tinggi.

Destry secara khusus menyebut bahwa dampak konflik geopolitik termasuk yang terjadi di kawasan Timur Tengah turut menekan Rupiah.

Ia menegaskan bahwa Bank Indonesia akan senantiasa hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar mata uang Garuda.

"Bank Indonesia senantiasa hadir di pasar dan akan terus mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur," tandas Destry mengakhiri pernyataannya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung