Berita, Nasional

Rupiah Jatuh dan Ekonomi Bergejolak, Anies Baswedan Desak Pemerintah Buka Data dan Setop Beri Obat Tidur

Repelita.net

20 May 2026 14:02 WIB • 747 view

Rupiah Jatuh dan Ekonomi Bergejolak, Anies Baswedan Desak Pemerintah Buka Data dan Setop Beri Obat Tidur
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Gejolak yang tengah melanda sektor perekonomian nasional belakangan ini mendapat perhatian mendalam dari mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

Mantan Calon Presiden tersebut menilai kondisi finansial tanah air sedang mengalami masa-masa krusial dan mendesak otoritas eksekutif untuk segera mengambil tindakan konkret yang berbasis keterbukaan informasi.

ADVERTISEMENT

Menurut pandangannya, para pelaku pasar serta masyarakat luas saat ini tidak memerlukan ketenteraman yang bersifat semu, melainkan jaminan regulasi dan kepastian arah pembangunan demi menghadapi tekanan global maupun domestik.

Melalui saluran media sosial Instagram pribadinya pada Rabu 20 Mei 2026, ia secara lugas memaparkan kemerosotan daya beli masyarakat yang kian mengkhawatirkan akibat perpaduan anjloknya nilai tukar mata uang domestik serta lonjakan harga komoditas utama.

Fenomena tersebut dinilai menjadi beban finansial yang sangat berat bagi kehidupan warga, terlebih situasi pelik ini terjadi bersamaan dengan penyusutan ketersediaan lapangan kerja serta terkurasnya dana simpanan publik.

"Teman-teman semua izinkan saya berbagi pandangan. Saya mengikuti dengan seksama apa yang sedang terjadi di negeri ini. Dan terus terang kondisinya tidak baik-baik saja. Rupiah jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah, harga-harga naik, kesempatan kerja menyempit, daya beli rumah tangga melemah, tabungan tergerus. Dan ini berdampak pada hajat hidup orang banyak," ujar Anies.

Selain dipicu oleh faktor internal dalam negeri, tantangan ekonomi ke depan diprediksi akan semakin kompleks akibat memanasnya tensi politik di kawasan Timur Tengah serta ancaman nyata dari perubahan iklim dunia.

"Tantangan di depan juga masih panjang. Geopolitik yang memanas, konflik membayangi di Timur Tengah, dan para ilmuwan mengingatkan El Nino terkuat dalam sejarah pengamatan itu sudah ada depan mata. Satu ujian saja berat, saat ini beberapa datang bersamaan maka beratnya berlipat," lanjutnya.

Anies juga melayangkan kritik tajam terhadap respons para pembuat kebijakan yang dinilai cenderung menutup-nyalakan fakta riil di lapangan dengan hanya menonjolkan indikator-indikator yang bernilai positif ke hadapan publik.

Akibat inkonsistensi regulasi yang sering berubah dalam waktu singkat, iklim investasi menjadi tidak menentu sehingga memicu kebingungan yang mendalam bagi para penanam modal asing maupun lokal.

"Dalam situasi seperti ini yang paling dibutuhkan pasar dan publik adalah satu hal, kepastian. Bukan ketenangan semu, bukan masalah yang ditaburi gula-gula. Tapi kepastian yang lahir dari transparansi dan kejujuran, dari arah yang jelas, dari pemerintah yang tahu akan ke mana negeri ini dibawa. Sayangnya itu yang justru tidak kita dapatkan," kritik Anies.

Ia menyayangkan sikap sejumlah pejabat publik yang kerap mengeluarkan pernyataan yang meremehkan persoalan fundamental ekonomi serta minimnya teladan penghematan dari kalangan elit birokrasi saat masyarakat diminta bertahan.

"Data dipilih-pilih hanya yang baik yang ditampilkan, yang buruk disembunyikan. Komentar pejabat soal situasi serius sering terdengar enteng bahkan bercanda. Kebijakan berubah-ubah, hari ini begini besok berbeda. Pasar bingung, publik bingung, investor menahan diri bahkan sebagian kabur," sambungnya.

Di tengah banyaknya indikator peringatan dari para pengamat ekonomi serta institusi keuangan berskala global, ia mendesak perombakan total pada pola komunikasi kepemimpinan nasional agar menghentikan narasi penenang yang tidak realistis.

"Keteladanan juga tidak hadir. Di saat rakyat diminta berhemat mengencangkan ikat pinggang, pemerintah justru sibuk dengan hal-hal yang bukan prioritas. Pemborosan di atas, pengetatan di bawah," tegasnya.

Persoalan menyangkut kebutuhan pokok ratusan juta jiwa ini dinilai wajib dikelola dengan tingkat keseriusan yang tinggi, bukan dengan menyembunyikan data riil atau memberikan janji manis yang menidurkan kewaspadaan bersama.

"Ini tampak sebagai ketidakpekaan. Peringatan sudah datang dari mana-mana. Dari ekonom dalam negeri, dari lembaga keuangan internasional, dari media-media nasional dan internasional yang mengamati Indonesia. Tidak mungkin mereka semua keliru bersama-sama di saat yang sama. Ini yang dipertaruhkan hajat hidup ratusan juta orang. Maka situasi ini harus diperlakukan dengan keseriusan yang sepadan," kata Anies.

Oleh karena itu, tata kelola pemerintahan yang solid, ajeg, serta jujur dari tingkat atas hingga bawah menjadi kunci utama untuk memulihkan kepercayaan pasar global serta memberikan ketenangan bagi warga.

"Oleh karena itu saya mengajak kepada pemerintah, berhentilah memberi obat tidur kepada publik. Buka data apa adanya, sampaikan masalah dengan jujur, berikan arah kebijakan yang jelas dan konsisten, pimpin secara solid, ajeg, dan dari atas sampai bawah. Itu yang menenangkan pasar dan itu yang akan menenangkan rakyat," katanya.

Pada akhir penyampaiannya, ia mengimbau segenap lapisan masyarakat untuk menggalang kesiapan mental dan finansial dalam menghadapi potensi fase sulit ke depan dengan tetap memelihara optimisme yang realistis.

"Lalu kepada teman-teman semua bersiaplah. Suka tidak suka masa-masa berat masih ada di depan kita. Tekanan ekonomi belum reda, cuaca ekstrem akan hadir dan menerpa, dan dunia di luar sedang bergolak. Tentu kita tetap harus optimis bahwa kita akan bisa melewati itu semua, asal kita berjalan dengan mata terbuka bukan dengan ilusi yang dibuat-buat. Kita pasti bisa, tapi syaratnya satu, serius. Mari kita serius mengurus bangsa ini," katanya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung