Repelita [Jakarta] - Pernyataan kepala negara mengenai kekebalan masyarakat pedesaan terhadap gejolak mata uang asing memicu diskusi mendalam di kalangan pengamat ekonomi nasional terkait realitas rantai pasok domestik saat ini.
Saat meresmikan fasilitas sosial di wilayah Jawa Timur, pemimpin tertinggi meminta publik tidak risau atas depresiasi mata uang garuda karena menganggap fondasi perekonomian domestik masih berada pada koridor yang aman.
ADVERTISEMENT
"Rupiah begini, rupiah begini, apa? Dolar begini, dolar begini. Orang, rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan?" kata Prabowo.
"Pangan aman, energi aman, ya banyak negara panik. Indonesia masih oke," imbuhnya.
Meskipun secara kasatmata aktivitas jual beli di kawasan urban maupun pedalaman mutlak menggunakan mata uang rupiah, ketergantungan terhadap barang komoditas luar negeri nyatanya tetap tidak dapat dihindarkan begitu saja.
Sektor pangan pokok yang dikonsumsi massal oleh warga desa seperti olahan tahu dan tempe justru menjadi contoh nyata di mana bahan baku utamanya masih didatangkan melalui jalur perdagangan internasional.
Data proyeksi kebutuhan logistik terbaru menunjukkan angka ketergantungan yang masif di mana sembilan puluh persen pasokan kacang kedelai di dalam negeri masih harus dipenuhi dari pasar global.
Kondisi tersebut dipicu oleh ketimpangan antara kapasitas panen lokal yang minim dengan tingkat konsumsi masyarakat yang menembus angka jutaan ton per tahunnya.
Lembaga pencatat data statistik resmi mengonfirmasi tren tahunan ini di mana volume pasokan eksternal untuk komoditas tersebut secara konsisten bertahan di atas level dua juta ton demi menjaga stabilitas pasar.
Tingginya angka importasi ini berjalan selaras dengan pola konsumsi masyarakat yang menempatkan olahan pangan tradisional tersebut sebagai menu harian utama dengan tingkat serapan yang cukup tinggi per kapita.
Guna menjaga keberlangsungan pasokan tersebut, asosiasi pelaku usaha terkait mendukung penuh langkah taktis pemerintah dalam memperkuat komitmen dagang jangka panjang bersama negara mitra utama di kawasan Amerika Utara.
Melalui kesepakatan pemenuhan timbal balik, pihak eksportir global berkomitmen mengalokasikan jutaan ton komoditas agrikultur tersebut secara berkala demi menjamin kelancaran distribusi bahan pangan di tanah air.
"Komitmen pembelian kedelai merupakan bagian dari upaya untuk menjamin kepastian pasokan kedelai nasional dan menjaga kelancaran distribusinya," ujar Ketua Akindo, Hidayatullah Suralaga.
Di sisi lain, kalangan ekonom memperingatkan bahwa pandangan yang mengabaikan dampak depresiasi mata uang ini berpotensi memicu kepanikan baru akibat adanya rambatan inflasi tersembunyi yang lambat laun akan mencapai wilayah pelosok.
Pakar ekonomi menegaskan bahwa lonjakan harga jual valuta asing yang kian melambung tinggi secara otomatis akan mengerek naik ongkos produksi dan biaya hidup dasar di tingkat daerah.
"Jangan dikira pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang sudah Rp17.600, tidak akan menjalar ke biaya hidup yang naik, sampai ke level desa," ujar Bhima, Minggu (17/5/2026).
Fenomena ini terjadi karena instrumen pendukung aktivitas warga pedesaan mulai dari gawai elektronik, sarana transportasi motor, hingga peralatan rumah tangga umumnya diproduksi menggunakan komponen impor.
Kondisi tersebut diperparah oleh realitas sektor energi nasional di mana sebagian pasokan bahan bakar minyak serta gas tabung melon masih harus didatangkan dari luar negeri sehingga harganya rentan bergejolak saat nilai tukar melemah.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok