Repelita Jakarta - Debat panas yang sejak awal sudah tercium ketegangannya di ruang publik akhirnya benar-benar berlangsung sengit antara Rismon Sianipar dan Roy Suryo.
Nama Rismon Sianipar sebelumnya dikenal lantang menantang Roy Suryo untuk bertukar argumen secara terbuka mengenai polemik ijazah Presiden Joko Widodo.
ADVERTISEMENT
Narasi yang dibangun oleh Rismon terlihat tegas, seolah-olah ia telah siap membongkar seluruh persoalan tersebut di hadapan khalayak ramai.
Namun, ketika panggung debat yang dipandu oleh Aiman Wicaksono dimulai, arah permainan berubah dengan sangat cepat.
Roy Suryo tidak memulai dengan sikap defensif, melainkan langsung melancarkan serangan ke titik paling lemah yang dimiliki oleh lawannya.
Pertanyaan-pertanyaan tajam yang dilontarkan secara beruntun oleh Roy membuat Rismon tampak kehilangan ritme perdebatannya sejak menit-menit awal.
Momen krusial terjadi ketika Roy mengungkapkan fakta mengenai klaim hak paten yang sebelumnya pernah dibanggakan oleh Rismon di ruang publik.
Dalam forum tersebut, Roy menyebut bahwa status paten milik Rismon justru ditolak, berbanding terbalik dengan pernyataan Rismon yang menyebutnya sebagai capaian bernilai miliaran rupiah.
Sejak saat itu, momentum perdebatan mulai bergeser secara signifikan dan panggung perlahan berubah menjadi milik Roy.
Rismon yang sebelumnya terlihat agresif mulai tampak defensif dan berusaha keras untuk mempertahankan argumentasinya.
Beberapa kali ia mencoba mengalihkan perhatian ke topik pembahasan lain, namun tekanan dari Roy terus datang tanpa henti.
Roy bahkan menggunakan data-data lama yang sebelumnya beredar di kalangan lawan untuk mempersempit ruang gerak Rismon.
Strategi ini bukan sekadar penyajian data, tetapi juga merupakan permainan psikologis yang efektif untuk mengganggu konsentrasi lawan.
Efek dari tekanan tersebut terasa sangat nyata ketika dalam beberapa segmen, perdebatan tidak lagi membahas substansi ijazah semata.
Persoalan mulai bergeser ke arah kredibilitas pribadi masing-masing pihak yang berdebat.
Roy berulang kali mempertanyakan konsistensi pernyataan Rismon, termasuk masalah latar belakang akademik dan metode analisis yang ia gunakan.
Sementara itu, Rismon mencoba bertahan dengan alasan bahwa hasil penelitian seseorang bisa berubah seiring dengan perkembangan waktu.
Namun publik sudah telanjur menangkap kesan yang berbeda dari penampilan Rismon di atas panggung debat tersebut.
Sorotan masyarakat tidak lagi sepenuhnya tertuju pada isu ijazah, tetapi lebih kepada kinerja perdebatan itu sendiri.
Ajang yang awalnya digadang-gadang sebagai momen pembongkaran besar justru berubah menjadi panggung pembuktian tentang siapa yang lebih siap secara data dan mental.
Di luar forum, Rismon memang terlihat sangat garang dan penuh percaya diri, tetapi tekanan di dalam arena perdebatan membuat narasi yang ia bangun menjadi goyah.
Perdebatan ini pada akhirnya menjadi cermin penting bahwa dalam ruang publik, keberanian saja tidak pernah cukup.
Data yang akurat, konsistensi argumentasi, serta ketahanan mental dalam menghadapi serangan balik justru menjadi faktor penentu utama kemenangan dalam adu argumentasi.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok