Berita, Nasional

Rencana Safari Politik Mantan Presiden Jokowi Memicu Perselisihan Sengit Antara PSI dan Relawan Projo

Repelita.net

18 May 2026 12:42 WIB • 747 view

Rencana Safari Politik Mantan Presiden Jokowi Memicu Perselisihan Sengit Antara PSI dan Relawan Projo
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Silang pendapat melanda internal barisan pendukung mantan Presiden Joko Widodo menyusul adanya rencana mantan Kepala Negara tersebut untuk kembali melakukan perjalanan ke berbagai wilayah di Indonesia, di mana kelompok relawan Projo dan Partai Solidaritas Indonesia kini terlibat dalam polemik mengenai pihak mana yang berhak menyusun serta mengendalikan agenda politik masa depan sang tokoh nasional.

Rencana pergerakan ini awalnya disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Projo, Freddy Alex Damanik, yang mengklaim kondisi fisik mantan presiden sudah pulih total dan siap menyapa warga pada medio Juni 2026 mendatang agar struktur relawan di daerah bisa segera bersiap menyambut kehadiran beliau secara langsung.

ADVERTISEMENT

Ketika diwawancarai pada Rabu, 13 Mei 2026, Freddy memaparkan, "Pak Jokowi menyampaikan beberapa hal kepada relawannya. Yang pertama kesehatannya sudah pulih 99 persen, dan rencananya bulan depan (Juni), beliau sudah akan keliling Indonesia kembali untuk menyapa masyarakat. Pak Jokowi akan didampingi relawannya ketika mengunjungi suatu daerah," sebagai bentuk kesiapan struktural organisasi.

Pernyataan dari organisasi relawan tersebut seketika mendapat penolakan keras dari Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Solidaritas Indonesia, Bestari Barus, yang menegaskan bahwa partainya yang memiliki otoritas penuh atas rute perjalanan tersebut demi kepentingan konsolidasi organisasi yang matang.

Merespons klaim sepihak itu pada Kamis, 14 Mei 2026, Bestari menyatakan, "Kita yang menyiapkan. Saya enggak tahu itu Projo, Projo apa ya? Projo kan bukannya bukan Pro Jokowi? Bukan Pro Jokowi, pada waktu itu pernah ngomong. Jadi agak membingungkan lu menanyai saya ini Projo, Projo mana? Yang sudah enggak Pro Jokowi lagi?" sekaligus mempertanyakan arah dukungan kelompok relawan itu.

Lebih lanjut, politisi partai berlambang gajah tersebut menjabarkan bahwa pergerakan sang mantan presiden telah dirancang secara sistematis melalui mekanisme rapat kerja nasional parpol guna mendongkrak target politik jangka panjang secara terukur di seluruh wilayah.

Dalam penjelasannya pada Kamis, 14 Mei 2026, Bestari menambahkan, "Kalau mengenai Pak Jokowi akan ke mana, kita sedang mempersiapkan itu dari mulai rakernas itu, Rakernas PSI di Makassar. Kita mempersiapkan roadmap-nya perjalanan Pak Jokowi ini menuju pemenangan PSI 2029," demi menargetkan kelolosan parlemen pada periode berikutnya.

Partai ini juga mengukuhkan sang mantan presiden sebagai kiblat perjuangan politik utama mereka dan menegaskan status keanggotaannya yang sudah melekat secara struktural di dalam internal organisasi tanpa perlu diragukan lagi oleh pihak luar.

Menegaskan posisi tersebut pada Kamis, 14 Mei 2026, Bestari berujar, "Pak Jokowi itu di PSI sudah gitu. Nah itu satu, dia akan bersama kami, and kita sudah menetapkan beliau sebagai patron politik daripada perjuangan PSI ke depan gitu. Hanya tinggal nunggu waktu yang tepat saja, mengingat kesehatan beliau," yang mengindikasikan kedekatan emosional kedua faksi.

Langkah taktis ini didasarkan pada komitmen personal yang pernah disampaikan sang tokoh ketika menghadiri agenda internal partai pada awal tahun ini yang menyatakan kesediaan untuk turun ke tingkat akar rumput secara langsung demi membakar semangat juang kader.

Mengingat kembali komitmen tersebut pada Kamis, 14 Mei 2026, Bestari menyebutkan, "Beliau sudah sampaikan, 'saya masih kuat turun sampai ke kabupaten kota, bahkan jika dibutuhkan sampai ke kecamatan'. Itu betul-betul membangun semangat gitu loh, membakar semangat kawan-kawan semuanya untuk segera bersiap menyambut kehadiran Pak Jokowi," guna memotivasi struktur kepengurusan.

Partai berbasis anak muda ini meyakini bahwa keterlibatan intensif sang mantan pemimpin negara akan mempertegas arah dukungan politiknya yang kini diklaim tidak lagi tersebar ke faksi lain melainkan fokus pada satu wadah perjuangan.

Dalam argumen penutupnya pada Kamis, 14 Mei 2026, Bestari menguraikan, "Dan semakin menjadi keyakinan publik bahwa Pak Jokowi sudah tidak di mana-mana, dan berada dengan PSI mulai bersama dengan PSI untuk pemenangan pemilu 2029 tentunya," sebagai strategi memperkuat basis konstituen baru di tingkat nasional.

Namun, strategi pelibatan figur melintasi daerah ini dinilai oleh Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, sebagai sebuah langkah berspekulasi tinggi yang justru berpotensi merugikan internal parpol jika tidak dikaji secara mendalam terlebih dahulu.

Melalui analisis tertulisnya pada Minggu, 17 Mei 2026, Jamiluddin memperingatkan, "Berharap pada Jokowi untuk mendongkrak elektabilitas PSI, tampaknya akan berujung pada kekecewaan. Bahkan kehadiran Jokowi ke penjuru tanah air membawa panji-panji PSI bisa jadi akan menjadi bumerang pada partai gajah tersebut," akibat adanya pergeseran persepsi publik.

Akademisi tersebut menguraikan bahwa pesona magis politis yang dimiliki sang mantan pemimpin sudah mengalami degradasi sosiologis yang cukup masif jika dibandingkan dengan satu dekade sebelumnya sewaktu beliau masih berada di puncak kekuasaan.

Masih dalam keterangannya pada Minggu, 17 Mei 2026, Jamiluddin menegaskan, "Jokowi bukan lagi sosok yang mampu menghipnotis anak bangsa untuk berpihak kepadanya. Jokowi saat ini adalah sosok kontroversial, termasuk terkait ijazahnya," sehingga kehadiran beliau tidak lagi menjadi jaminan mutlak penambah suara.

Efektivitas dari figur politik ini juga mengundang keraguan besar dari Direktur Executif Indonesia Political Opinion, Dedi Kurnia Syah, yang merujuk pada performa elektoral pemilu legislatif sebelumnya yang terbukti gagal meloloskan parpol tersebut ke Senayan meskipun dukungan sudah diberikan.

Memaparkan hasil kajian lembaga risetnya pada Jumat, 15 Mei 2026, Dedi memaparkan, "Membaca jejak pengaruh Jokowi di Pemilu 2024, dan dalam catatan survei yang IPO lakukan, Jokowi sebetulnya tidak memiliki dampak signifikan pada elektabilitas Parpol," yang menunjukkan adanya anomali dari efek ekor jas sang tokoh.

Analis tepercaya tersebut menjabarkan bahwa perolehan suara riil parpol bersangkutan masih berada di papan bawah bersaing ketat dengan jajaran partai baru serta parpol gurem lainnya sehingga klaim perebutan pengaruh ini dinilai tidak substansial.

Dalam wawancaranya pada Jumat, 15 Mei 2026, Dedi menambahkan, "Memang Prabowo berhasil menang di Pilpres. Tetapi catatannya bukan didominasi faktor Jokowi," sekaligus mengkritisi klaim ketergantungan Projo yang menganggap eksistensi organisasi mereka hanya bertumpu pada sosok sang mantan presiden semata tanpa adanya kemandirian politik.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung