Repelita Jakarta - Pengamat politik Ray Rangkuti memberikan respons terkait pidato Presiden Prabowo Subianto yang kembali mengangkat isu 'Indonesia Gelap' dan 'kabur ke Yaman' dalam acara groundbreaking di Cilacap pada Rabu (29/4/2026).
Ray mengaku tidak memahami secara pasti tujuan Prabowo mengungkit kembali dua jargon yang sempat populer sebagai bentuk kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah tersebut.
ADVERTISEMENT
Padahal, menurut Ray, publik saat ini sudah mulai melupakan istilah 'Indonesia Gelap' dan 'Kabur Aja Dulu' yang merupakan ekspresi kritis dari warga.
"Ya, saya juga kurang tahu ya karena Pak Prabowo mengungkit apa yang sebenarnya sudah lama atau bahkan mungkin pada tingkat tertentu sudah mulai ditinggalkan orang gitu ya," ujar Ray dalam program 'Sapa Indonesia Malam' Kompas TV, Kamis (30/4/2026).
"Kabur aja dulu. Itu kan seingat saya awal-awal Januari dahulu ya munculnya gitu. Nah, jadi sekarang wah sudah berapa bulan tuh? 3 bulan orang sudah agak lupa dengan pagar itu, tapi Pak Prabowo ternyata masih ingat gitu," lanjutnya menjelaskan kronologi kemunculan istilah tersebut.
Lebih lanjut, Ray menilai bahwa Presiden justru membangkitkan kembali isu-isu lama yang sempat memanas di tengah masyarakat yang kini kondisinya sudah mulai membaik.
"Jadi kadang-kadang kita melihat apa yang sudah adem di tengah masyarakat dibangkitkan lagi oleh Pak Prabowo gitu loh," imbuh pengamat politik tersebut.
Ray berspekulasi bahwa kemungkinan Prabowo sedang berada dalam kondisi sensitif sehingga mengungkit kembali kedua isu tersebut.
"Saya juga enggak tahu ya, karena saya lihat Pak Prabowo akhir-akhir ini agak sensi ya, setelah mungkin peristiwa halal bihalal (bersama tokoh dan pengamat) kemarin," ungkapnya menganalisis.
"Jadi banyak hal kemudian yang dipandang dilihat ya sebagai sesuatu yang tidak menggembirakanlah bagi beliau gitu. Meskipun di tengah-tengah itu beliau selalu berujar ya perlunya kritiklah inilah gitu," jelas Ray menambahkan.
Sementara itu, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, meminta masyarakat untuk melihat poin substansi dalam pidato Prabowo, bukan hanya terfokus pada dua kalimat kontroversial tersebut.
"Jangan cherry picking satu kalimat beliau soal tadi jangan dibilang Indonesia gelap, kalau enggak suka Anda ke Yaman saja. Jangan itu nya yang di-highlight, tetapi poin-poin substansi tadi itu harus dilihat," kata Qodari dalam acara Satu Meja The Forum Kompas TV, Rabu (29/4/2026) malam.
Qodari menjelaskan bahwa secara keseluruhan pidato presiden lebih banyak membahas program kemandirian bangsa dan hilirisasi nasional.
Pidato tersebut juga menyoroti fakta bahwa banyak pihak luar negeri yang tidak senang dengan kebijakan hilirisasi di Indonesia.
"Karena selama ini mereka mengambil manfaat dengan kita kirim bahan mentah. Nah sekarang Presiden tidak mau, mau membangun nilai tambah lewat apa? Hilirisasi. Jadi kalau di luar itu ada yang tidak senang kemudian ya dia subversi dia infiltrasi dan seterusnya kita enggak boleh naif juga begitu," tegas Qodari.
Dalam pidatonya di Cilacap, Prabowo menyampaikan kekhawatirannya tentang situasi global dengan menyebut sejumlah negara yang dilanda konflik seperti Lebanon, Sudan, Somalia, Yaman, Irak, Afghanistan, hingga Balochistan.
"Perdamaian sangat mahal. Lihat berita tiap hari, lihat berita tiap hari. Lebanon, Sudan, Somalia, Yaman, Lebanon, Irak, Afghanistan, Balochistan. Mana negara yang tidak perang? Iran. Mana negara yang tidak perang? Kita jaga bangsa kita. Jaga bangsa kita," tegas presiden.
Prabowo secara eksplisit menyinggung pihak-pihak yang sempat menggema slogan 'Indonesia Gelap' dengan pernyataan tajam.
"Matanya buram, Indonesia gelap. Indonesia terang. Ada yang mau kabur. Ada yang mau kabur, kabur aja. Kau kabur aja ke sana. Mungkin ada yang mau kabur ke Yaman, silakan, mau kabur ke mana. Hei, orang-orang pintar, bukalah, bukalah berita. Lihatlah, kita ditempatkan sebagai negara yang paling aman di dunia sekarang. Kabur aja, deh. Iya, kabur aja, biar kita enggak gaduh," katanya menegaskan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok