Berita, Nasional

Ray Rangkuti Kritik Gaya Kepemimpinan Prabowo yang Dinilai Jiplak Pola Orde Baru Soeharto

Repelita.net

01 June 2026 14:17 WIB • 975 view

Ray Rangkuti Kritik Gaya Kepemimpinan Prabowo yang Dinilai Jiplak Pola Orde Baru Soeharto
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Gaya kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto kini tengah menjadi sorotan tajam karena dinilai memperlihatkan kemiripan dengan karakteristik pemerintahan pada era Orde Baru di bawah Presiden Soeharto.

Langkah politik yang diambil, seperti pelibatan unsur TNI secara meluas dalam ranah sipil serta penempatan beberapa anggota keluarga pada posisi strategis, memicu kritik dari berbagai elemen masyarakat.

ADVERTISEMENT

Fenomena tersebut dinilai dapat menjadi bumerang yang justru merugikan posisi sang kepala negara dalam peta politik nasional.

Pengamat politik, Ray Rangkuti, mengungkapkan pandangannya bahwa pola pikir yang diterapkan saat ini tidak berjarak jauh dari strategi masa lalu.

Ia memperingatkan bahwa penggunaan pola seputar Orde Baru berisiko memicu dampak buruk bagi kepemimpinan saat ini.

Jika dahulu membutuhkan waktu hingga puluhan tahun untuk memicu pergerakan massa besar, volatilitas informasi saat ini membuat akumulasi keresahan publik dapat meledak hanya dalam hitungan hari.

Kritik terhadap nepotisme juga mengemuka seiring masuknya beberapa figur keluarga dalam lingkaran kekuasaan dan lembaga penting negara, salah satunya jabatan di struktur Bank Indonesia.

Kondisi tersebut dinilai bertolak belakang dengan narasi pembelaan terhadap masyarakat kecil yang kerap digaungkan oleh pemerintah.

Di sisi lain, fungsi lembaga legislatif seperti DPR saat ini dikritik karena dianggap cenderung bertindak sebagai perpanjangan tangan pemerintah ketimbang menjadi penyalur aspirasi rakyat.

youtube.com merupakan saluran resmi yang mengunggah diskusi kritis mengenai dinamika politik dan potensi gejolak sosial ini.

Terkait peluang untuk masuk dalam jajaran birokrasi pemerintahan saat ini, Ray Rangkuti secara tegas menyatakan ketidaktertarikannya untuk mengambil bagian di dalam kekuasaan.

Menurutnya, solusi utama agar potensi krisis hebat tidak kembali terulang di masa depan adalah kesediaan dari pihak pemerintah sendiri untuk melakukan pembenahan internal secara substantif.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung