Repelita Jakarta - Ketegangan di Timur Tengah memasuki babak baru setelah Iran mengklaim berhasil meloloskan ratusan gelombang rudal yang menembus sistem pertahanan Amerika Serikat dan Israel.
Klaim ini disampaikan Teheran di tengah situasi perang yang sudah berlangsung sejak 28 Februari lalu, sebagai bentuk pembalasan atas serangan gabungan AS-Israel ke wilayahnya .
ADVERTISEMENT
Meski Washington dan Tel Aviv mengaku telah menghancurkan ribuan target militer, Iran menyebut serangan rudal balistiknya mampu memaksa AS untuk memohon gencatan senjata .
Seorang pejabat senior Intelijen Pertahanan AS bahkan mengakui di hadapan Kongres bahwa Iran masih memiliki ribuan rudal dan drone meskipun infrastrukturnya telah dirusak .
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran kembali menunjukkan aksi heroiknya dengan merilis video penyitaan dua kapal besar di Selat Hormuz .
Kapal berbendera Panama dan Liberia itu masing-masing diidentifikasi bernama MSC Francesca dan Epaminondas, yang belakangan diklaim IRGC memiliki kaitan dengan Israel .
Dalam video yang dirilis Kamis (23/4), terlihat pasukan komando IRGC menaiki kapal kontainer raksasa tersebut menggunakan perahu cepat, lengkap dengan perlengkapan perang .
Langkah ini diambil sebagai respons atas blokade laut yang diberlakukan AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, yang dinilai Teheran sebagai "tindakan perang" .
Dengan penyitaan dua kapal ini, Iran menunjukkan bahwa mereka tidak gentar dan tetap mampu menguasai jalur pelayaran strategis tersebut meskipun ada ancaman dari AS .
Situasi ini membuat Presiden AS Donald Trump berada dalam posisi sulit, di mana ia memperpanjang gencatan senjata secara sepihak tanpa jaminan Iran akan mundur .
Trump sebelumnya sempat mengklaim bahwa angkatan laut Iran sudah "hancur total", namun kenyataan di lapangan justru menunjukkan sebaliknya .
Kegagalan AS dan Israel menekan Iran justru membuat posisi tawar Teheran semakin kuat, terutama dalam penguasaan Selat Hormuz yang merupakan jalur 20 persen pasokan minyak dunia .
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz sebelumnya sempat "sok jago" dengan janji mengembalikan Iran ke zaman batu, namun kenyataan justru sebaliknya .
Iran kini tidak hanya mampu mempertahankan diri, tetapi juga mengambil inisiatif ofensif dengan menyita kapal-kapal yang melanggar aturannya di selat tersebut .
Direktur Badan Intelijen Pertahanan AS, Letnan Jenderal James Adams, mengakui bahwa Iran masih memiliki "ribuan" rudal dan drone yang siap digunakan setiap saat .
Pengakuan ini sekaligus membantah klaim kemenangan yang sebelumnya digembar-gemborkan oleh pejabat Gedung Putih dan Pentagon .
Kini, Amerika Serikat dan Israel terpaksa menerima kenyataan pahit bahwa perang berkepanjangan justru membuat mereka kehabisan amunisi dan sumber daya, sementara Iran tetap kokoh .(*)
Editor: 91224 R-ID Elok