Berita, Nasional

Putusan MK Soal Gibran Buka Peluang Perpisahan Politik Prabowo dan Jokowi di 2029

Repelita.net

24 October 2026 18:08 WIB • 103 view

Putusan MK Soal Gibran Buka Peluang Perpisahan Politik Prabowo dan Jokowi di 2029
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Putusan Mahkamah Konstitusi terkait keabsahan syarat pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dinilai bukanlah sebuah beban politik bagi Presiden Prabowo Subianto maupun sang wakil presiden.

Pengamat Politik Hendri Satrio atau yang akrab disapa Hensat menyampaikan pandangannya mengenai dampak dinamika hukum tersebut terhadap konstelasi politik nasional ke depan pada Sabtu, 24 Oktober 2026.

ADVERTISEMENT

Menurut penilaian Hensat, vonis lembaga konstitusi tersebut justru berpotensi menjadi momentum serta alasan logis bagi Prabowo dan kubu mantan Presiden Joko Widodo untuk mengambil jalur politik berbeda menuju Pemilu 2029.

Ia mengungkapkan bahwa alasan di balik potensi perpisahan langkah politik tersebut terbilang cukup sederhana dalam perhitungan konstelasi antarelit pemerintahan.

"Alasannya simpel saja. Anda enggak mau lindungi saya, saya juga punya jalan sendiri. Ya sudah, kita pisah saja," ujarnya kepada wartawan pada Sabtu, 24 Oktober 2026.

Latar belakang perkara ini bermula ketika Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi secara resmi membacakan amar putusannya pada Selasa, 6 Oktober 2026 lalu.

Dalam sidang tersebut, majelis hakim mengumumkan bahwa permohonan pemohon tidak dapat diterima sehingga tidak dapat berujung pada mendiskualifikasi kedudukan Gibran.

Meski demikian, majelis hakim memberikan pertimbangan hukum bahwa tidak ditemukan bukti meyakinkan terkait kepemilikan ijazah setara SMA milik Gibran serta menilai Komisi Pemilihan Umum lalai dalam verifikasi administrasi.

Pihak Istana Kepresidenan sendiri telah menegaskan sikap resminya bahwa Presiden Prabowo Subianto tidak akan melakukan intervensi apa pun terhadap putusan hukum tersebut.

Sikap independen lembaga kepresidenan ini dinilai Hensat mempertegas sinyal awal perpisahan arah politik yang sebenarnya sudah mulai terlihat dari dinamika langkah Jokowi.

"Kan awalnya kata Pak Jokowi, Prabowo-Gibran dua periode. Kemudian Pak Jokowi bilang 2029 masih lama. Kemudian Pak Jokowi juga mengumumkan dia anggota PSI, memanaskan mesin atau memanaskan aura kompetisi di Bandung, di kandangnya Pak Prabowo," kata Hensat pada Sabtu, 24 Oktober 2026.

Rangkaian peristiwa politik belakangan ini dinilainya semakin memperlihatkan indikasi kuat bahwa Prabowo dan kubu Jokowi tidak akan berada dalam satu barisan pada kontestasi mendatang.

Keputusan Jokowi bergabung dengan PSI dipandang sebagai sinyal eksplisit kepada jajaran partai politik bahwa persiapan menuju arena pemilu mendatang telah dimulai lebih awal.

Partai-partai lain diperkirakan membaca pergerakan tersebut sebagai tolok ukur kesiapan infrastruktur politik, jaringan akar rumput, hingga dukungan logistik yang dimiliki kubu Jokowi.

"Semua partai politik yang memahami seorang Jokowi pasti memahami, oh, dia memanaskan mesin. Logistiknya sudah siap, akar rumput juga sudah bersatu. Jangan-jangan memang Pak Jokowi yang logistiknya paling siap hari ini," tuturnya pada Sabtu, 24 Oktober 2026.

Sementara itu, Gibran dinilai terus memperkuat basis keterpilihan publik secara intensif melalui pola pergerakan lapangan dan interaksi langsung di tengah masyarakat.

Strategi turun ke bawah tersebut dianggap memberi keuntungan ganda bagi konsolidasi elektoral personal sekaligus menjaga legacy gaya kepemimpinan sang ayah.

"Mas Gibran jalan-jalan, salaman-salaman. Mas Gibran itu kalau salaman, blusukan, keuntungannya dua. Yang pertama, popularitas dan elektabilitasnya naik. Yang kedua, dia dapat pahala karena nurut bapaknya, karena bapaknya jalan-jalan," katanya pada Sabtu, 24 Oktober 2026.

Di sisi lain, Prabowo Subianto yang dipandang sebagai tokoh politik senior diprediksi sedang kalkulasi secara cermat momentum yang tepat untuk menentukan arah koalisi barunya.

Kedua belah pihak saat ini dinilai tengah merancang cetak biru perjalanan politik masing-masing sebelum akhirnya menentukan titik temu atau perpisahan permanen di masa depan.

"Makanya saya jauh-jauh hari mengatakan Jokowi dan Prabowo sedang membangun jalan politiknya yang baru. Apakah nanti di ujungnya mereka akan bertemu lagi, bersama atau tidak bersama Gibran/Jokowi, yang jelas mereka berdua sedang membangun jalan politiknya sendiri," pungkasnya pada Sabtu, 24 Oktober 2026.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung