Berita, Nasional

Puluhan Siswa Keracunan Makan Bergizi Gratis, KPPG Pekanbaru Nonaktifkan Kepala Dapur SPPG

Repelita.net

16 August 2026 14:00 WIB • 445 view

Puluhan Siswa Keracunan Makan Bergizi Gratis, KPPG Pekanbaru Nonaktifkan Kepala Dapur SPPG
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi Pekanbaru mengambil langkah sanksi keras akibat kasus dugaan keracunan massal.

Puluhan pelajar sekolah dasar di Dumai mendadak jatuh sakit usai menyantap paket hidangan program makan bergizi gratis.

ADVERTISEMENT

Pihak pengelola langsung menutup operasional dapur penyedia serta mencopot jabatan pimpinan unit tersebut.

Kepala KPPG Pekanbaru, Syartiwidya, menyampaikan bahwa langkah penindakan tersebut diambil secara langsung.

"Kami sudah mengambil tindakan tegas berupa men-suspend SPPG dan menonaktifkan kepala SPPG-nya," ucap Syartiwidya, Jumat (14/8).

Sebanyak 45 murid tercatat mengalami keluhan kesehatan berupa mual hingga nyeri perut setelah mengonsumsi makanan tersebut.

Mayoritas korban berasal dari SDN 013 Jalan Hangtuah serta sebagian kecil dari SD Negeri 015 Laborhausing.

Dapur umum penyedia makanan itu mendistribusikan ribuan porsi harian ke berbagai sekolah dan posyandu di wilayah setempat.

Hasil investigasi awal menduga unsur cabai pada menu bakso menjadi pemicu utama gangguan kesehatan para siswa.

Kendati demikian, otoritas berwenang masih menunggu kepastian hasil uji laboratorium resmi.

"Dugaan sementara itu berasal dari cabai baksonya. Tapi untuk pastinya kami masih menunggu hasil laboratorium," kata Syartiwidya.

Sebagian besar anak yang sempat dirawat di rumah sakit kini sudah diperbolehkan pulang ke kediaman masing-masing.

Hanya tersisa satu anak yang masih memerlukan pengawasan medis lanjutan di rumah sakit.

Perbaikan prosedur operasional kini digalakkan guna mencegah insiden serupa terulang kembali di masa mendatang.

Setiap tahapan pengolahan hingga pendistribusian makanan wajib tercatat melalui aplikasi digital khusus.

Prosedur uji cicip juga diperketat dan harus dilakukan dalam dua tahapan berbeda sebelum dikonsumsi anak-anak.

Insiden bermula ketika paket menu yang terdiri dari nasi, bakso sambal, tempe, serta sayuran tiba di sekolah.

Pihak sekolah sempat melakukan pemeriksaan visual awal dan mendapati kondisi kemasan tampak bersih tanpa kejanggalan.

Makanan mulai dibagikan kepada para murid menjelang pukul sembilan pagi sesuai jadwal harian.

Selang setengah jam kemudian, sejumlah anak mulai mengeluhkan sakit perut dan mual secara bersamaan.

Beberapa wadah makanan yang belum sempat dibagikan bahkan mengeluarkan aroma kurang sedap ketika diperiksa ulang.

Pihak sekolah segera melarikan para korban ke RSUD dr Suhatman Kota Dumai untuk mendapatkan penanganan darurat.

Di wilayah lain, hasil peninjauan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Riau mendapati sejumlah catatan fasilitas.

Beberapa dapur umum di daerah Kepulauan Meranti masih memerlukan pelengkapan infrastruktur dasar seperti instalasi pengolahan limbah.

Pemerintah daerah setempat menyatakan komitmen penuh untuk segera membenahi seluruh catatan fasilitas tersebut.

Kondisi geografis kepulauan menjadi tantangan tersendiri dalam pemerataan layanan gizi bagi masyarakat di wilayah terluar. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung