Berita, Sport

Protes Kebijakan FIFA, Presiden UEFA Aleksander Ceferin Pilih Mangkir dari Final Piala Dunia 2026

Repelita.net

21 July 2026 13:55 WIB • 850 view

Protes Kebijakan FIFA, Presiden UEFA Aleksander Ceferin Pilih Mangkir dari Final Piala Dunia 2026
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Pimpinan tertinggi badan sepak bola Eropa Aleksander Ceferin dilaporkan secara sengaja mangkir dari partai puncak turnamen akbar antarnegara sejagat.

Sikap dingin tersebut diambil sebagai bentuk kekecewaan mendalam terhadap serangkaian kebijakan kontroversial yang diputuskan oleh induk organisasi global.

ADVERTISEMENT

Pejabat asal Slovenia itu sebelumnya sempat terlihat memeriahkan seremoni pembukaan ajang akbar tersebut di daratan Meksiko.

Namun batang hidungnya sama sekali tidak kelihatan tatkala duel final mempertemukan Tim Nasional Spanyol kontra Argentina di Stadion New Jersey.

Keretakan hubungan kedua belah pihak bermula tatkala sanksi kartu merah penyerang Amerika Serikat Folarin Balogun dianulir secara mendadak.

Kebijakan tersebut memicu perdebatan sengit lantaran santer diisukan adanya intervensi politik dari lingkaran kekuasaan Gedung Putih.

Meskipun otoritas sepak bola dunia membantah campur tangan eksternal dan berdalih putusan murni wewenang komite independen, otoritas benua biru tetap meradang.

Ketegangan kian meruncing tatkala wasit asal Somalia Omar Artan sempat mengalami kendala birokrasi keimigrasian di Amerika Serikat.

Sebagai bentuk dukungan penuh, UEFA justru memberikan panggung terhormat bagi sang pengadil lapangan untuk memimpin duel perebutan piala super kontinental.

Perbedaan prinsip juga terlihat jelas dalam penolakan kubu Eropa terhadap penerapan aturan rehat minum di tengah laga demi kepentingan komersial.

Durasi istirahat paruh waktu babak final yang molor hingga nyaris tiga puluh menit dinilai telah merusak standardisasi baku sepak bola modern.

Kebijakan penerapan tarif tiket dinamis turut menjadi polemik tersendiri yang dianggap mencekik kantong para suporter setia di berbagai belahan dunia.

Sebagai bentuk antitesis, turnamen antarnegara Eropa dipastikan bakal memberlakukan kisaran harga masuk stadion yang jauh lebih rasional bagi penonton.

Rencana penambahan kuota kontestan turnamen global menjadi enam puluh empat tim pada perhelatan berikutnya turut ditolak mentah-mentah oleh pihak benua biru.

Di tengah sengitnya gesekan politis tersebut, armada La Roja sukses mengunci gelar juara dunia usai mengandaskan perlawanan Tim Tango lewat gol tunggal.

Kini publik sepak bola global menantikan apakah hubungan dingin kedua organisasi besar ini bakal segera mencair atau justru kian memanas(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung