Berita, Nasional

Prabowo Tanya Parpol dan Ormas Soal Paradoks Ekonomi: Pertumbuhan Naik Tapi Kemiskinan Bertambah

Repelita.net

20 May 2026 14:34 WIB • 1,197 view

Prabowo Tanya Parpol dan Ormas Soal Paradoks Ekonomi: Pertumbuhan Naik Tapi Kemiskinan Bertambah
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Ketimpangan perekonomian di tanah air yang dinilai kian mengkhawatirkan kini menjadi perhatian serius bagi Presiden Prabowo Subianto.

Fenomena ini terlihat jelas di mana angka kemiskinan melonjak serta populasi masyarakat kelas menengah justru menyusut drastis saat pertumbuhan ekonomi nasional dilaporkan bertahan secara konsisten pada level lima persen per tahun selama tujuh tahun belakangan.

ADVERTISEMENT

Kondisi kontradiktif tersebut dipaparkan secara gamblang oleh Kepala Negara tatkala membacakan pidato seputar Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027 pada agenda rapat paripurna DPR RI yang berlangsung di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Melalui sudut pandang teoretis, peningkatan ekonomi yang terakumulasi hingga mencapai kisaran 35 persen dalam kurun waktu tujuh tahun semestinya mampu mendongkrak taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat secara signifikan.

Namun realitas yang berkembang di tengah-tengah kehidupan masyarakat saat ini justru memperlihatkan potret yang berbanding terbalik dari teori tersebut.

“Pertumbuhan kita dalam tujuh tahun terakhir memang baik, 5 persen tiap tahun. Selama tujuh tahun kali 5 persen, pertumbuhan kita 35 persen. Harusnya kita tambah kaya 35 persen. Tapi apa yang terjadi?” ujar Prabowo.

Mantan Panglima Kostrad tersebut mengungkapkan perasaan terpukulnya sesaat setelah meneliti berkas laporan beserta kompilasi data pembangunan ekonomi yang diterimanya beberapa pekan pasca-pelantikan resmi sebagai presiden baru.

Lembaran data valid tersebut menunjukkan sebuah fakta bahwa grafik masyarakat miskin bergerak naik, sementara pada saat yang sama kedudukan kelompok kelas menengah mengalami kemerosotan.

Guna mencari kejelasan atas fenomena ganjil ini, Presiden Prabowo sampai melayangkan pertanyaan langsung kepada para pemimpin partai politik, pengurus organisasi kemasyarakatan, hingga kalangan akademisi serta guru besar di berbagai universitas.

“Saya bertanya kepada semua partai politik, semua ormas. Saya bertanya kepada semua pakar dan semua guru besar. Bagaimana bisa pertumbuhan 35 persen tapi kelas menengah menurun, kemiskinin meningkat?” katanya.

Menurut pandangan beliau, problematika paradoks seperti ini wajib diuraikan menggunakan argumentasi ilmiah serta pendekatan matematis yang akurat agar tidak sekadar menjadi perdebatan atau asumsi politik tanpa dasar yang jelas.

Beliau mensinyalir adanya cacat bawaan atau kendala yang sangat mendasar di dalam tatanan sistem ekonomi nasional saat ini sehingga distribusi hasil kue pembangunan tidak dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan warga negara.

Bahkan, Presiden Prabowo mensinyalir bahwa haluan perekonomian yang diadopsi oleh Indonesia kemungkinan besar tengah berjalan di rute yang keliru atau sedang menghadapi hambatan struktural yang teramat krusial.

Selanjutnya, beliau menyandingkan posisi dan capaian Indonesia saat ini dengan beberapa negara berkembang lainnya yang setara seperti India, Meksiko, serta Filipina.

Menurut analisisnya, tata kelola perekonomian yang diterapkan oleh masing-masing negara tersebut menjadi variabel pembeda utama yang membawa mereka menuju arah pencapaian yang jauh lebih positif.

Pada bagian akhir penjelasannya, Presiden Prabowo menegaskan komitmen jajaran pemerintah untuk segera melangsungkan penataan ulang terhadap kiblat kebijakan ekonomi nasional agar hasil pertumbuhan ke depan dapat dikonversi menjadi kemakmuran nyata bagi rakyat serta mampu memperkokoh kembali fondasi kelas menengah nasional.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung