Repelita Beijing - Di tengah memanasnya suhu geopolitik global akibat ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, peta diplomasi dunia tampaknya bergeser ke arah Timur dengan Beijing menjelma menjadi titik temu strategis bagi para pemimpin dunia yang mencari keseimbangan baru .
Pakistan mengirimkan Menteri Luar Negeri Muhammad Syakdar ke Beijing dengan misi khusus sebagai mediator, menggandeng China untuk meluncurkan lima poin proposal perdamaian yang fokus pada gencatan senjata segera dan jaminan keamanan navigasi di Selat Hormuz agar jalur perdagangan dunia tidak lumpuh .
ADVERTISEMENT
Uni Emirat Arab membawa delegasi besar pengusaha dan pejabat senior ke Beijing di bawah pimpinan Putra Mahkota Abu Dhabi, Syekh Khalid bin Muhammad bin Zayid Al Nahyan, karena dukungan China dalam menjaga kedaulatan dan keamanan kawasan Teluk dinilai sangat krusial di masa sulit ini .
Vietnam memberikan pernyataan diplomatik yang sangat kuat lewat kunjungan Presiden To Lam yang memilih China sebagai negara pertama yang dikunjungi setelah dilantik, mempertegas komitmen kedua negara sebagai tetangga sosialis yang bersahabat yang berbagi visi masa depan strategis di tengah tekanan global .
Spanyol yang merupakan anggota NATO justru menunjukkan sikap paling mengejutkan dengan PM Pedro Sanchez secara tegas menutup wilayah udara Spanyol bagi pesawat AS yang terlibat perang Iran dan mendorong China untuk mengambil peran lebih besar dalam dunia multipolar yang tidak lagi didominasi oleh satu kekuatan tunggal .
Rusia mengirimkan Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov ke Beijing untuk memastikan koordinasi strategis dengan China tetap kokoh, memandang gejolak di Timur Tengah dan Asia Timur sebagai ujian berat bagi tatanan internasional .
Bersama China, Rusia terus memperkuat posisi melalui forum-forum seperti BRICS dan SCO untuk menciptakan keseimbangan kekuatan global di tengah dominasi Barat yang semakin tergerus .(*)
Editor: 91224 R-ID Elok