Berita, Timur Tengah

Peringatan Keras Pemimpin Iran Jelang Berakhirnya Gencatan Senjata, Bersumpah Bikin Amerika Kalah Telak

Repelita.net

20 April 2026 21:39 WIB • 905 view

Peringatan Keras Pemimpin Iran Jelang Berakhirnya Gencatan Senjata, Bersumpah Bikin Amerika Kalah Telak
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Jelang berakhirnya masa gencatan senjata, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Mojtaba Khamenei, mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan.

Mojtaba bersumpah bahwa pihaknya akan memberikan kekalahan telak kepada Amerika maupun Israel dalam setiap pertempuran yang terjadi.

ADVERTISEMENT

Pernyataan ini semakin menambah tensi panas yang sudah membara di kawasan strategis Selat Hormuz.

"Angkatan laut Iran siap untuk memberikan kekalahan telak kepada musuh-musuhnya," katanya dikutip dari kanal YouTube Kompas pada Minggu, 19 April 2026.

Ia menegaskan bahwa tentaranya kini berdiri dalam barisan yang rapat dan teguh, bahu membahu dengan para pejuang lain di angkatan bersenjata.

Mereka telah berhadapan langsung dengan dua kekuatan utama dari kubu arogansi internasional.

"Mereka telah bertempur melawan dua kekuatan utama dari barisan yang angkuh dan berhasil menunjukkan kelemahan serta kehinaan lawan di mata dunia," tegas pemimpin tertinggi Iran tersebut.

"Sebagaimana pesawat nirkabel (drone) militer yang menyambar para penjahat Amerika dan Zionis Israel bak kilat," sambungnya.

"Angkatan laut yang gagah berani juga kini bersiap memberikan kekalahan baru yang menyakitkan bagi musuh-musuhnya," timpal dia lagi.

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan bahwa negaranya tidak mencari perang dan hanya bertindak untuk membela diri terhadap agresi AS dan Israel.

Disitat dari Al Jazeera, Pezeshkian menuding AS dan Israel menargetkan infrastruktur sipil secara membabi buta.

Ia menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan bukti standar ganda dalam hak asasi manusia.

“Kami tidak menyerang negara mana pun, dan dalam situasi saat ini kami tidak bermaksud menyerang pihak mana pun, dan kami hanya membela diri secara sah,” katanya seperti dikutip oleh kantor berita ISNA.

“Jangan sampai ada yang mengatakan bahwa Iran mencari perang. Sebaliknya, kami cinta damai dan apa yang kami lakukan adalah pembelaan diri yang sah. Sama seperti setiap manusia bereaksi terhadap agresi, suatu bangsa juga membela diri terhadap serangan," sambungnya.

Ketua Parlemen Mohammad Baqer Ghalibaf mengatakan bahwa Teheran secara bersamaan terlibat dalam diplomasi dan siap untuk konfrontasi militer.

Hal ini menegaskan bahwa Iran tidak mempercayai musuh-musuhnya dan siap untuk segala bentuk perang.

"Perang ketiga yang dipaksakan, dimulai selama negosiasi melalui tipu daya AS," katanya dikutip dari Tasnim News pada Minggu, 19 April 2026.

Ia menambahkan bahwa konflik sebelumnya juga dimulai dengan pembunuhan terhadap para komandan Iran di Teheran.

Ghalibaf memastikan bahwa Republik Islam memasuki konflik baru-baru ini dengan pengalaman yang diperoleh dari perang 12 hari sebelumnya pada Juni 2025.

Menurutnya, Iran telah menunjukkan keunggulan yang jelas dalam hal perencanaan, kualitas, dan pelaksanaan operasi militer.

"Meskipun musuh mungkin tidak mempercayai ini, mereka telah menyaksikannya di medan perang."

Ghalibaf juga mengatakan bahwa pasukan Iran telah mencegat antara 170 hingga 180 drone selama perang agresi AS-Israel yang dimulai pada 28 Februari 2026.

Mereka juga berhasil menembak jatuh jet tempur canggih sebagai hasil dari upaya desain dan operasional ekstensif.

Ghalibaf menilai bahwa AS maupun sekutunya terus salah memperhitungkan kekuatan strategi militer Iran.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa pihaknya telah dengan tegas menolak tekanan dan membalas setiap ancaman.

Termasuk ultimatum yang dikaitkan dengan Presiden AS Donald Trump.

Ghalibaf memperingatkan bahwa setiap bentuk eskalasi akan memiliki konsekuensi berat bagi Amerika Serikat dan negara-negara lain.

Ia juga menegaskan kembali bahwa pihaknya menginginkan perdamaian yang langgeng tetapi tetap sangat tidak mempercayai Amerika Serikat.

Republik Islam Iran menyatakan berada di posisi yang lebih unggul dalam perang melawan Amerika Serikat dan Israel sejak konflik pecah pada 28 Februari 2026.

Disitat dari kanal YouTube Kompas, pernyataan itu disampaikan oleh Ghalibaf dalam pidato yang disiarkan secara nasional pada Sabtu, 18 April 2026.

Dalam pidatonya, Ghalibaf menegaskan bahwa Iran berhasil memenangkan pertempuran dan AS gagal mencapai tujuan militernya.

Ia juga menekankan bahwa negaranya masih menguasai Selat Hormuz sepenuhnya.

Ghalibaf menambahkan bahwa ada alasan kuat mengapa pihaknya bersedia menerima gencatan senjata.

"Jika kami menerima gencatan senjata, itu karena pihak mereka (AS dan sekutunya) menerima tuntutan kami," katanya.

Lebih lanjut, Ghalibaf menegaskan bahwa proses negosiasi merupakan bagian dari strategi untuk mempertahankan kepentingan nasional.

Ia menyebut pihak lawan berusaha memaksakan tuntutan sehingga Iran harus tetap memperjuangkan hak-haknya.

"Upaya musuh adalah memaksakan tuntutan kepada kami. Karena itu, penting bagi kami untuk menegaskan hak-hak kami. Negosiasi adalah salah satu metode perjuangan," tegasnya.

Gencatan senjata sementara berlangsung selama dua minggu dan dijadwalkan berakhir pada Rabu, 22 April 2026.

Meskipun demikian, masa depan terkait hal tersebut masih belum pasti karena perundingan belum mencapai hasil akhir.

Sejumlah isu penting dalam negosiasi masih belum menemukan kesepakatan di antara kedua belah pihak.

Upaya mediasi masih terus dilakukan termasuk yang difasilitasi oleh Pakistan.

Sebelumnya Ghalibaf dan tim melakukan pertemuan tertutup di Islamabad dengan Wakil Presiden AS JD Vance pada Sabtu, 11 April 2026.

Pertemuan ini menjadi kontak tingkat tinggi antara Teheran dan Washington yang jarang terjadi bahkan sejak sebelum revolusi Islam Iran pada 1979.

Namun pertemuan itu belum menghasilkan kesepakatan akhir yang mengikat.

Hingga saat ini kedua pihak masih membuka peluang untuk melanjutkan dialog meskipun belum ada jadwal pasti untuk perundingan berikutnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung