Repelita Jakarta - Konflik berkepanjangan di Timur Tengah saat ini bukan sekadar perebutan kekuasaan atau sumber daya, melainkan benturan tiga ideologi apokaliptik yang masing-masing menunggu kedatangan juru selamat dengan cara yang berbeda: Israel menanti Mesias dan Bait Suci, AS yang didominasi Kristen Evangelikal menantikan Yesus dan perang Armageddon, sementara Iran menyambut kedatangan Imam Mahdi.
Hal ini terungkap dalam kanal YouTube Abraham Samad Speak pada Kamis (16/4/2026), di mana mantan Ketua KPK Abraham Samad mewawancarai pengamat Timur Tengah, Irfan Maulana, yang membedah tiga ideologi kiamat yang tengah bertarung di kawasan tersebut.
ADVERTISEMENT
“Perang tiga ideologi apokaliptik: Zionis (menunggu Mesias dan Bait Suci), Evangelikal Zionis (menunggu Yesus dan Armageddon), serta militan Iran (menunggu Imam Mahdi). Ini yang membahayakan. Dunia sedang dibuat repot oleh segelintir kelompok yang menginginkan perang abadi,” kata Irfan Maulana dalam diskusi tersebut.
Irfan menjelaskan bahwa di AS sendiri terdapat dua faksi Kristen besar yang berseberangan, di mana kelompok Katolik mengikuti garis Paus yang kritis terhadap Israel.
Sementara kelompok Christian Evangelical Zionis yang menjadi basis pendukung Donald Trump justru meyakini perang Armageddon sebagai pintu menuju kedatangan Yesus yang kedua kali.
“Pete Hegseth, Menteri Pertahanan AS, termasuk yang meyakini perang akhir zaman ini,” tegas Irfan Maulana.
Ia juga menyoroti peran Vatikan yang diwakili Paus Leo, yang belakangan ini secara terbuka mengkritik kebijakan agresif AS dan Israel.
“Vatikan keberatan dengan Amerika yang selalu membawa-bawa nama Tuhan dalam agresi militernya, termasuk serangan ke Iran. Itulah yang membuat marah Paus Leo karena seolah-olah perang ke Iran ini seperti perang agama,” ujar Irfan.
Lebih lanjut, Irfan mengungkap visi Greater Israel yang ingin mencaplok wilayah dari Sungai Nil hingga Sungai Efrat, serta upaya Israel menggagalkan solusi dua negara.
“Netanyahu punya visi menyeret Amerika ke dalam perang tak berujung di Timur Tengah. Ini demi kepentingan politiknya dan ambisi mencaplok Tepi Barat, Gaza, hingga sebagian Suriah dan Lebanon,” jelasnya.
Menurut Irfan, bagi kelompok Zionis, Armageddon adalah rencana Tuhan, sementara bagi Evangelical Zionis, Israel modern adalah prekondisi sebelum Yesus turun.
“Dua ideologi yang hakikatnya bermusuhan ini kini bertemu dalam kepentingan bersama,” paparnya.
Abraham Samad menambahkan bahwa kekhawatiran akan eskalasi semakin nyata setelah kapal-kapal perang AS dikerahkan menuju Selat Hormuz untuk melakukan blokade.
Meski demikian, Irfan Maulana mengingatkan bahwa mayoritas negara di dunia, termasuk negara-negara Arab, Eropa, Tiongkok, dan Rusia, masih berupaya menahan diri dan mengedepankan perdamaian.
“Kita petik hikmah bahwa masyarakat dunia mayoritas masih cinta damai. Hanya saja, kita sedang diuji oleh kelompok-kelompok kecil dengan ideologi kiamat,” pungkas Irfan Maulana.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok