Berita, Internasional

Pentolan NATO Sebut AS Terpojok, Iran Unggul di Medan Perang Timur Tengah

Repelita.net

03 May 2026 17:25 WIB • 675 view

Pentolan NATO Sebut  AS Terpojok, Iran Unggul di Medan Perang Timur Tengah
Foto: Istimewa

Repelita Berlin - Kanselir Jerman Friedrich Merz menyampaikan pernyataan mengejutkan bahwa Amerika Serikat saat ini sedang dipermalukan dalam konflik terbuka melawan Iran di Timur Tengah.

Menurut pandangan Merz yang dilansir dari berbagai sumber internasional, Washington tidak memiliki jalan keluar yang jelas dari perang yang berkepanjangan tersebut.

ADVERTISEMENT

Ia kemudian menilai bahwa Teheran kini semakin unggul dalam setiap pertempuran melawan pasukan Amerika Serikat dan sekutunya Israel.

Hal itu disampaikan Merz saat berbicara di hadapan mahasiswa di Kota Marburg, Jerman pada Senin (27/4/2026) lalu.

Merz menyebut situasi di Iran telah mengungkap masalah strategis yang jauh lebih dalam bagi kepemimpinan Amerika Serikat di kancah global.

Ia kemudian membandingkannya dengan kegagalan militer negeri Paman Sam di masa lalu di Irak dan Afghanistan.

Merz berpendapat bahwa pejabat Teheran bernegosiasi dengan sangat terampil sehingga tampak jauh lebih kuat dari perkiraan banyak pihak.

Atas dasar itulah ia menyatakan seluruh bangsa Amerika telah dipermalukan oleh kepemimpinan Iran khususnya oleh Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC.

Kanselir Jerman itu pun mendesak agar perang ini segera diakhiri karena dampak buruknya mulai memukul perekonomian negaranya sendiri.

Merz juga mengatakan bahwa pihaknya siap mengerahkan kapal penyapu ranjau guna membantu mengamankan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz.

Komentar ini disampaikan di tengah meningkatnya kekhawatiran di seluruh Eropa mengenai dampak luas konflik termasuk gangguan pasokan energi dan ketidakstabilan ekonomi kawasan.

Sebelumnya Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul memperingatkan bahwa ancaman nuklir terus mempengaruhi kondisi keamanan global secara signifikan.

Bahkan ketika Berlin menegaskan kembali komitmennya terhadap nonproliferasi, Jerman dan Prancis mengambil langkah memperdalam kerja sama dalam pencegahan nuklir.

Kerja sama itu mencerminkan meningkatnya kekhawatiran di Eropa atas perang Iran dan ketidakstabilan regional yang lebih luas di Timur Tengah.

Presiden AS Donald Trump menunjukkan kekecewaan mendalam terhadap Jerman dan beberapa sekutu NATO lainnya yang dianggap tidak memberikan dukungan memadai.

Trump kecewa berat karena Jerman dinilai menolak membantu AS dalam konflik melawan Iran sehingga memicu ketegangan tinggi di internal aliansi.

Sebagai bentuk sakit hati, Trump memerintahkan Pentagon untuk menarik 5.000 pasukan militer AS dari Jerman yang dilaporkan membuat para jenderal terkejut.

Trump bahkan mengancam akan keluar dari aliansi NATO karena merasa Eropa tidak sebanding dalam memberikan dukungan padahal AS telah banyak membantu.

Amerika Serikat juga dilaporkan mengalami kerugian fantastis akibat serangan jet-jet tempur tua milik Iran selama perang yang berlangsung sekitar 40 hari terakhir.

Serangan jet-jet tempur lawas ini mengejutkan karena mampu menembus sistem pertahanan udara canggih AS yang seharusnya sulit ditembus.

Laporan media NBC News pada Sabtu (25/4/2026) mengungkap bahwa kerugian tersebut ditimbulkan oleh jet tempur berusia amat tua seperti Northrop F-5 dan Grumman F-14 Tomcat.

Pada masanya ketiga jenis pesawat itu merupakan ikon dirgantara dari era Perang Dingin yang memiliki peran dan sejarah operasional sangat berbeda.

NBC menyebut Teheran menggunakan jet F-5 untuk menyerang Pangkalan Buehring yang berlokasi di Kuwait dengan hasil yang mengejutkan banyak pihak.

Pangkalan Buehring sendiri merupakan salah satu basis pertahanan udara dan operasi militer AS di Timur Tengah yang dijaga super ketat.

Menurut informasi yang terhimpun, pangkalan ini dilindungi sistem pertahanan udara modern seperti MIM-104 Patriot yang canggih.

Namun Republik Islam Iran justru menggunakan pesawat berusia lebih dari 50 tahun untuk menembus atau menekan sistem pertahanan tersebut.

Jet F-5 merupakan pesawat buatan Amerika Serikat yang dikirim ke Teheran pada masa pemerintahan Mohammad Reza Pahlavi antara tahun 1965 hingga 1976.

Setelah revolusi 1979, Iran mengalami embargo total yang membuat pasokan suku cadang pesawat menjadi sangat terbatas.

Teheran pun menerapkan strategi kanibal yaitu mengambil suku cadang dari pesawat rusak untuk digunakan di pesawat lain yang masih layak terbang.

Selain F-5, Iran juga mengoperasikan F-14 Tomcat yang jumlahnya hampir 80 unit dan diterima pada era sebelum revolusi Islam.

Dalam operasi militer yang disebut Epic Fury, militer AS menyatakan telah menghancurkan sisa F-14 milik Iran yang masih aktif beroperasi.

Iran juga menggunakan Sukhoi SU-24 dalam misi penyerangan ke pangkalan lain termasuk Pangkalan Udara Al Udeid yang berada di Qatar.

Dalam misi tersebut pilot Iran menerbangkan pesawat dengan ketinggian hanya 25 meter di atas permukaan untuk menghindari deteksi radar.

Meski menggunakan taktik terbang rendah, pesawat tetap terdeteksi dan akhirnya berhasil ditembak jatuh sebelum mencapai target utama.

Serangan Teheran yang menggunakan jet tua, drone, dan rudal menargetkan lebih dari 100 sasaran di 11 pangkalan milik Amerika Serikat.

Hal itu menyebabkan kerusakan infrastruktur seperti hangar, radar, dan landasan pacu dengan estimasi biaya perbaikan mencapai miliaran dolar AS.

Laporan menunjukkan setidaknya 7 pesawat jet tempur canggih milik AS hancur akibat serangan balasan dari Teheran selama konflik berlangsung.

Serangan jet F-5 tersebut mengekspos celah dalam sistem pertahanan udara berlapis AS di kawasan Teluk terutama terhadap ancaman ketinggian rendah.

Perang ini dilaporkan menyebabkan kerugian bagi AS hingga 2 miliar dolar AS atau sekitar Rp34 triliun per hari akibat kerusakan peralatan militer.

Delegasi dari Teheran melakukan pertemuan langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di St Petersburg pada Senin (27/4/2026) di tengah memanasnya ketegangan dengan Washington.

Dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi, Putin mengatakan bahwa Moskow akan melakukan segalanya demi mendukung kepentingan Republik Islam.

Hal itu disampaikan Putin setelah menerima pesan dari Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei tentang situasi terkini konflik.

"Dari pihak kami, kami akan melakukan segala sesuatu yang melayani kepentingan Anda, kepentingan semua rakyat di kawasan ini, untuk mencapai perdamaian ini secepat mungkin," kata Putin.

Putin menegaskan bahwa Rusia siap melakukan segala sesuatu yang melayani kepentingan Iran dalam konteks konflik di Timur Tengah saat ini.

Dalam pertemuan itu Putin juga mendoakan kesehatan dan kemakmuran bagi Mojtaba Khamenei yang kini memimpin Iran.

Araqchi berterima kasih kepada Moskow atas dukungannya kepada Teheran dan memuji hubungan kedua negara yang menurutnya semakin kuat.

Ia menambahkan bahwa Iran akan terus berjuang melawan agresi AS sampai titik darah penghabisan.

Sebelum pembicaraan dengan Rusia, Araqchi juga telah melakukan kunjungan ke Pakistan dan Oman untuk menggalang dukungan regional.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung