Berita, Nasional

Pengamat UNJ Sebut Krisis Kepercayaan di Era Prabowo-Gibran Picu Rupiah Ambruk dan Investor Kabur dari Indonesia

Repelita.net

20 May 2026 23:10 WIB • 2,628 view

Pengamat UNJ Sebut Krisis Kepercayaan di Era Prabowo-Gibran Picu Rupiah Ambruk dan Investor Kabur dari Indonesia
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Pengamat politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun, menilai bahwa Indonesia tengah menghadapi situasi krisis yang berlangsung lebih cepat hanya dalam kurun waktu satu setengah tahun era Pemerintahan Prabowo-Gibran.

"Ini persoalan trust, jadi bukan hanya persoalan geopolitik dan situasi global. Lemahnya rupiah itu bukan hanya terhadap dolar (AS), kita melemah semua di hadapan ringgit, bath, di hadapan mata uang kawasan Asia Tenggara," ungkap Ubed, sapaannya dalam Podcast Abraham Samad Speak Up, mengutip Rabu 20 Mei 2026.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, faktor internal menjadi akar masalah utama di balik ambruknya nilai tukar rupiah, bukan semata tekanan dari luar negeri.

"Karena enggak mungkin terjadi capital outflow kalau kemudian mereka (investor) percaya dengan pemerintahan ini. Sehingga kemudian uang mereka banyak yang keluar," ujarnya.

Para pemodal besar, kata Ubed, kini diliputi rasa takut untuk menanamkan modal di Indonesia dengan nilai fantastis yang mencapai miliaran dolar AS.

Ia kemudian mengutip hasil riset World Economic Forum yang menyebutkan bahwa investor sehat hanya akan berinvestasi di negara yang mampu membangun kepercayaan.

"Yang mempraktekkan good governance, korupsinya tidak merajalela, hukum yang tegas, ada kepastian hukum. Sepanjang ini tidak terpenuhi," ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, tegas Ubed, arus modal keluar (capital outflow) tidak dapat dihindari karena para investor memilih meninggalkan Indonesia.

"Jadi jangan menyalahkan faktor global, ini persoalan internal kita masalahnya serius," ucapnya.

Lebih lanjut, ia menyebut bahwa label aristokrasi yang disematkan pada pemerintah saat ini tidak sepenuhnya salah mengingat buruknya kemampuan membangun kepercayaan publik.

Ubed lantas menyampaikan terkait tanda-tanda aristokrasi yang dimaksudnya, di antaranya merajalelanya korupsi, tidak ada good governance, nepotisme, korupsi dan semacamnya dan tidak ada kepercayaan," ujarnya.

Meskipun Bank Indonesia (BI) terus menerus melakukan intervensi besar-besaran, kondisi rupiah masih belum menunjukkan stabilitas yang diharapkan.

"Sudah berat. Bagaimana misalnya rakyat dan dunia internasional bisa percaya sama pemerintahan ini, sementara pola-pola nepotisme masih ditumbuhkan," tandasnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung