Berita, Nasional

Pengakuan Rifaldy Fajar Bongkar Skandal 51 Riset Palsu, Nama Universitas Muhammadiyah Bulukumba Dicatut Demi Lolos Konferensi Internasional

Repelita.net

03 June 2026 15:58 WIB • 642 view

Pengakuan Rifaldy Fajar Bongkar Skandal 51 Riset Palsu, Nama Universitas Muhammadiyah Bulukumba Dicatut Demi Lolos Konferensi Internasional
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Kasus pemalsuan karya ilmiah berskala global yang melibatkan peneliti asal tanah air memasuki babak baru setelah Rifaldy Fajar menyampaikan pengakuan resminya. Pemimpin kelompok studi tersebut mengonfirmasi telah mencatut identitas institusi Universitas Muhammadiyah Bulukumba tanpa adanya izin tertulis dari pihak kampus.

Aksi ilegal tersebut mencakup pembuatan 51 ringkasan karya ilmiah yang sengaja mendaftarkan nama ibunya sendiri, Elfiany Syafruddin dengan klaim keanggotaan institusi pendidikan di Sulawesi Selatan itu. Jejak manipulasi Rifaldy sebelumnya terendus saat ia mengikuti forum ilmiah International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases 2026 yang digelar di Kopenhagen, Denmark pada Minggu-Kamis (17-21/5/2026).

ADVERTISEMENT

Penyesalan mendalam disampaikan langsung oleh yang bersangkutan di hadapan sivitas akademika universitas pada Rabu (3/6/2026). "Saya memohon maaf sebesar-besarnya," kata Rifaldy, di UMB, Rabu (3/6/2026).

Puluhan draf kajian ilmiah tersebut sengaja diproduksi demi meloloskan dirinya agar bisa terbang menghadiri berbagai simposium akademis di kancah internasional. Pihak rektorat universitas bersikap tegas dengan menginstruksikan Rifaldy menarik seluruh naskah publikasi yang telah mengotori nama baik lembaga mereka.

Merespons tekanan dari pihak kampus, oknum peneliti tersebut berjanji akan bertanggung jawab penuh demi menyelesaikan kemelut akademis yang ia timbulkan. “Saya bersedia melakukan upaya yang sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin untuk mmperbaiki keadaan yang terjadi,” ujar Rifaldy.

Walau demikian, ia berkilah bahwa proses pembersihan naskah fiktif tersebut tidak sepenuhnya berada di bawah kendali pribadinya. “Bergantung pada kebijakan masing-masing penyelenggara konferensi, penerbit, atau pihak ketiga lainnya,” ucap Rifaldy pasrah.

Skandal memalukan ini pertama kali diongkar oleh sesama akademisi asal Indonesia, Wa Ode Dwininrat yang kebetulan turut hadir dalam pertemuan ilmiah di Denmark. Fakta mengejutkan tersebut diunggah lewat akun media sosial instagram.com/w.o.d.d yang berkolaborasi dengan instagram.com/mandharabrasika.

Melalui rilis digitalnya, ia menguliti kedok tim peneliti gadungan tersebut di hadapan komunitas ilmuwan dunia. “Beberapa orang Indonesia ketahuan melakukan pemalsuan terorganisir di depan ribuan ilmuwan di dunia,” tulisnya.

Salah satu pelaku bahkan nekat menggunakan nama samaran saat naik ke atas panggung untuk mempresentasikan hasil karya akademis mereka. Seluruh data studi yang dipaparkan juga diyakini kuat merupakan produk rekayasa kecerdasan buatan.

Unggahan itu secara gamblang menyebutkan besarnya skala manipulasi data yang disajikan oleh kelompok oknum pengajar tersebut. “Bukan hanya identitas, risetnya pun palsu! Dibuat dengan AI dan/atau fabrikasi data. Risetnya dibuat terlihat sangat hebat. Padahal risetnya tidak pernah ada.”

Kejanggalan proyek riset tersebut terlihat dari penentuan objek observasi lapangan yang sangat luas namun di luar nalar kemampuan tim lokal. Lokasi pengumpulan sampel diklaim berada di wilayah terpencil dunia seperti Peruvian Andes, Ethiopia, Guatemala, Lebanon, Jordan, Bangladesh, South Sudan, Filipina, Kenya, Nepal, Malawi, hingga India utara.

Anehnya, lembar penulisan naskah sama sekali tidak mencantumkan keterlibatan ilmuwan lokal dari negara-negara objek penelitian tersebut. Peneliti juga mencantumkan nama yayasan fiktif berupa Al-BioMedicine Research Group serta IMCDS-BioMed Research Foundation Jakarta yang tidak terdaftar di database mana pun.

Motif utama dari aksi nekat pemalsuan dokumen ilmiah ini diduga kuat demi memburu insentif dana akomodasi dari lembaga donor internasional. “Dengan cara ini, pelaku mendapatkan dana travel grant yang membuat mereka bisa keluar negeri ‘gratis’,” ungkapnya membeberkan modus operandi pelaku.

Dampak dari runtuhnya integritas akademik ini dinilai akan mencederai nama baik seluruh komunitas intelektual asal Indonesia di level dunia. “Pemalsuan ini akhirnya terungkap. Dampaknya fatal. Bukan hanya ke pelaku, tapi semua peneliti dari Indonesia kena getahnya. Kredibilitas Indonesia dipertanyakan,” tulisnya penuh kekhawatiran.

Jika sanksi moral dan akademik dijatuhkan, peluang kerja sama riset internasional bagi ilmuwan tanah air diprediksi akan tertutup rapat. “Dengan kejadian ini, akan semakin sulit lagi, bukan tidak mungkin di-blacklist,” tulisnya mengakhiri informasi.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung