Repelita Bandung - Kritik tajam mengalir deras dari pengamat sosial politik, M Rizal Fadillah, yang mendesak Kepala Negara untuk segera melakukan peninjauan langsung ke akar rumput guna mendengarkan jeritan hati masyarakat kelas bawah secara objektif tanpa adanya rekayasa protokoler dari jajaran kementerian.
Langkah turun ke lapangan secara spontan menurut pandangan M Rizal Fadillah sangat krusial agar pemimpin pemerintahan dapat memahami realita sosial yang sesungguhnya di mana badai pelemahan kurs domestik telah memicu lonjakan harga barang pokok yang mencekik kehidupan warga pedesaan.
ADVERTISEMENT
Melalui catatan kritis tertulisnya pada Senin, 18 Mei 2026, Pemerhati Politik dan Kebangsaan ini melayangkan desakan keras, "Sebelum memutuskan untuk turun jabatan atas dasar ketidakmampuan mengemban amanah sebagai Presiden, maka satu putaran turunlah ke bawah (turba) untuk merasakan getaran dan suara kehidupan rakyat yang sebenarnya, bukan sekedar terima laporan Menteri atau bawahan Presiden lainnya," sebagai bentuk evaluasi kepemimpinan.
Kondisi riil di tingkat akar rumput saat ini dipaparkan oleh M Rizal Fadillah kian memprihatinkan menyusul maraknya gelombang pemutusan hubungan kerja, penurunan pendapatan pengemudi angkutan, serta kesulitan para petani akibat melambungnya harga sarana produksi pertanian di pasaran.
Kebijakan pemenuhan kebutuhan pangan nasional yang masih mengandalkan jalur impor untuk komoditas gandum, jagung, daging, hingga bahan baku industri dituding oleh M Rizal Fadillah menjadi pemicu utama rapuhnya daya beli masyarakat akibat inflasi barang impor.
Kritikus tersebut juga menyoroti tindakan pamer capaian pengembalian aset negara senilai puluhan triliun rupiah dalam pidato kenegaraan belakangan ini yang ia nilai kurang etis di tengah perjuangan hidup masyarakat miskin yang sedang dihimpit ketidakpastian ekonomi.
Pemerintah diperingatkan oleh M Rizal Fadillah untuk mewaspadai potensi gejolak sosial yang masif jika kesenjangan kesejahteraan antara kaum elite borjuis dengan masyarakat marginal terus melebar tanpa adanya solusi konkret penanganan pemenuhan hak-hak dasar publik.
Realisasi janji kampanye masa lalu mengenai jaminan pendidikan tinggi tanpa biaya, subsidi energi secara menyeluruh, hingga efektivitas program pemenuhan gizi gratis kini ia pertanyakan keabsahannya seiring berjalannya waktu masa jabatan eksekutif.
Menutup pandangan politiknya pada Senin, 18 Mei 2026, M Rizal Fadillah menyampaikan aspirasi kelompok masyarakat, "Pak Prabowo, turunlah dan bawa Gibran juga turun, karena anak ini memang tidak berguna dan memalukan," demi menegaskan urgensi pertanggungjawaban kepemimpinan nasional.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok