Repelita [Jakarta] - Polemik internal antara Roy Suryo dan tim kuasa hukumnya, Ahmad Khozinudin, kini memicu beragam respons dari berbagai pihak.
Salah satu yang turut berkomentar adalah Rismon Hasiholan Sianipar yang menilai keretakan hubungan tersebut merupakan peristiwa yang sudah bisa diprediksi.
ADVERTISEMENT
Rismon menyebut situasi yang menyelimuti kelompok tersebut saat ini sebagai kondisi yang sangat kacau.
Kacau, kacau, kacau mania, kacau, kacau, kacau mania, ujar Rismon melalui kanal YouTube Balige Academy, Selasa (14/7/2026).
Menurut Rismon, pengumuman publik mengenai pemutusan kerja sama Roy Suryo dengan Ahmad Khozinudin bukan sesuatu yang mengagetkan bagi dirinya.
Ia mengaku telah lama membaca indikasi perpecahan tersebut melalui dinamika internal yang sempat melibatkan sejumlah nama seperti Dokter Tifa dan Abraham Samad.
Mereka melabel saya pengkhianat termasuk Roy Suryo dan Tifa, padahal mereka sendiri hancur-hancuran di dalamnya, ungkap Rismon.
Di sisi lain, Roy Suryo menegaskan bahwa keputusan mencabut kuasa hukum terhadap tim TAAKAA per 11 Juli 2026 merupakan langkah yang terpaksa diambil.
Alasan utamanya adalah karena pihak pengacara yang bersangkutan dianggap tidak mendampingi proses persidangan serta praperadilan yang krusial baginya.
Pakar telematika itu menyebut ada oknum yang tidak sejalan, namun ia tetap membuka pintu bagi anggota tim lain yang ingin terus berjuang bersama.
Yang pengkhianat adalah justru yang mengatasnamakan rakyat, tapi dia tidak berjuang atas nama rakyat, dia berjuang untuk kepentingannya dia sendiri. Apa itu, silakan terjemahkan sendiri, tegas Roy Suryo.
Sementara itu, Ahmad Khozinudin merespons pemutusan kuasa hukum tersebut dengan menuding adanya perubahan orientasi perjuangan di pihak Roy Suryo.
Khozinudin merasa perjuangan yang semula untuk membuktikan dugaan ijazah palsu telah berbelok menjadi upaya menyelamatkan diri dari proses hukum.
Dalam perjalanannya ada yang memutar haluan dan mengubah goal perjuangan. Dari yang mulanya menuntut Jokowi, menyeret Jokowi ke pengadilan dan menunjukkan ijazah, lalu dibuktikan 99,9 persen palsu, dan diketok palu hakim menjadi 100 persen palsu, tutur Khozinudin.
Baginya, tindakan mencari selamat sendiri justru mengubur harapan masyarakat yang menginginkan kasus tersebut tuntas di meja pengadilan.
Ia juga menegaskan bahwa pihaknya tidak akan berhenti membongkar skenario yang menurutnya melibatkan kepentingan oligarki dalam perkara ini. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok