Berita, Timur Tengah

Pakistan Mengungguli Indonesia dan India: Jadi Mediator Perang AS vs Iran Berkat Lobi Personal ke Trump

Repelita.net

10 April 2026 12:22 WIB • 862 view

Pakistan Mengungguli Indonesia dan India: Jadi Mediator Perang AS vs Iran Berkat Lobi Personal ke Trump
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Pemerintah Indonesia sempat menyatakan kesiapannya untuk menjadi juru damai ketika Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan agresi terhadap Iran pada 28 Februari 2026, namun kini ketiga negara yang bertikai justru memilih Pakistan sebagai mediator.

Menteri Luar Negeri Sugiono pada Selasa (3/3) mengungkapkan telah berkomunikasi dengan Amerika Serikat dan Iran agar mau duduk berunding di meja mediasi yang ditengahi Presiden RI Prabowo Subianto, tetapi kedua pihak belum memberikan keputusan.

ADVERTISEMENT

Presiden AS Donald Trump akhirnya menyatakan gencatan senjata pada Rabu (8/4) pekan ini, dan bersama Iran bersepakat menempuh jalur diplomasi dengan perantara Pakistan.

Trump mengucapkan terima kasih kepada Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif karena dinilai gigih mengupayakan perdamaian, sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menyatakan pihaknya mau gencatan senjata berkat keyakinan yang diberikan Sharif.

Profesor Ilmu Politik Universitas Chicago, Paul Staniland, mengatakan Pakistan secara geopolitik memiliki keunggulan sebagai penengah antara AS dan Iran karena negara yang berbatasan langsung dengan Iran di sisi barat ini telah lama menjadi perantara pesan utama antara Teheran dan Washington.

Pada periode pertama Trump sebagai presiden, hubungan dengan Pakistan cenderung fluktuatif dan kerap diwarnai cuitan negatif, namun pada masa jabatan kedua ini Islamabad berhasil membalikkan keadaan dengan mendekati lingkaran dalam Trump secara personal.

“Sebenarnya, jauh sebelum perang Iran ini, Pakistan telah benar-benar bisa menjangkau pemerintahan Trump maupun Trump secara pribadi beserta keluarga. Jadi, terdapat dasar kuat yang sudah ada sebelumnya untuk menjadi mediator,” kata Staniland dikutip dari globalaffairs.org pada Jumat (10/4/2026).

Keberhasilan Pakistan tidak hanya terletak pada lobi di Washington, melainkan juga modal geografis dan geopolitik berupa perbatasan darat yang panjang dengan Iran, pakta pertahanan bersama Arab Saudi, serta hubungan erat dengan China.

Posisi unik ini memungkinkan Pakistan menjadi jembatan di tengah krisis energi dan keamanan yang melibatkan banyak aktor besar, sehingga perang antara AS-Israel melawan Iran akhirnya resmi berhenti sementara dengan kesepakatan gencatan senjata.

Keterlibatan aktif Pakistan dalam negosiasi ini terjadi saat hubungan AS dan India justru mengalami gesekan, padahal selama ini India dianggap sebagai kekuatan dominan di Asia Selatan dengan pertumbuhan ekonomi yang jauh melampaui Pakistan.

Staniland mencatat Pakistan bahkan melangkah lebih jauh dengan menominasikan Trump untuk Hadiah Nobel Perdamaian dan terlibat dalam Board of Peace bentukan Trump, di mana Indonesia juga menjadi anggota dewan tersebut.

Fenomena ini menciptakan kegelisahan tersendiri di New Delhi karena India khawatir Pakistan lebih efektif dalam mempermainkan pemerintahan Trump dan mendapatkan simpati, yang dalam beberapa hal menciptakan tantangan nyata bagi India.

Menurut Staniland, Washington kini tidak lagi dilihat sebagai mitra strategis yang sepenuhnya dapat diprediksi seperti satu dekade lalu, sehingga membatasi potensi kedekatan hubungan AS-India di masa depan.

Bagi Pakistan, menjadi mediator bukan sekadar membantu perdamaian dunia melainkan upaya untuk bertarung di atas kelasnya di tengah krisis ekonomi domestik dan konflik di perbatasan Afghanistan yang masih memanas.

Islamabad membutuhkan beragam portofolio hubungan internasional untuk menyeimbangkan pengaruh India di Asia Selatan, namun posisi ini bukan tanpa risiko karena Pakistan terikat pakta pertahanan dengan Arab Saudi.

Jika perang antara AS dan Iran justru meningkat, Pakistan akan berada dalam posisi sulit karena harus membantu Arab Saudi melawan Iran yang merupakan tetangga sekaligus mitra bisnis potensial mereka.

“Pakistan tidak ingin berada dalam situasi di mana perang meningkat, dan terpaksa meminta bantuan Arab Saudi melawan negara tetangganya—dan mitra bisnis potensial yang penting—Iran,” papar Staniland.

Meskipun Pakistan telah berhasil memfasilitasi pertukaran pesan dan mengadakan pertemuan tingkat regional di Islamabad, keberhasilan akhir tetap bergantung pada kejelasan tujuan pemerintahan Trump dan kesediaan Iran untuk berkompromi.

Staniland mengingatkan bahwa pesan yang keluar dari Washington seringkali membingungkan dan kontradiktif, sehingga keberhasilan dalam memediasi resolusi perang ini akan menempatkan Pakistan sebagai penstabil regional dan perantara yang berharga di panggung internasional.

Namun demikian, Staniland menekankan kemesraan ini mungkin sangat spesifik terhadap era Trump karena belum ada jaminan hubungan baik ini akan berlanjut setelah tahun 2028 mengingat sejarah hubungan AS-Pakistan yang selalu diwarnai pasang surut yang drastis.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung