Repelita Timur Tengah - Ketegangan di kawasan kembali meningkat setelah laporan menyebut Israel di bawah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu diduga melancarkan operasi udara menggunakan drone pengintai ke wilayah Iran.
Insiden tersebut memicu reaksi keras dari Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC yang menyatakan telah menembak jatuh sebuah drone jenis Hermes 900 yang masuk ke wilayah udara Provinsi Fars.
ADVERTISEMENT
IRGC menyebut keberadaan drone tersebut sebagai bentuk pelanggaran serius terhadap kedaulatan udara Iran meskipun tidak disertai serangan langsung.
Menurut pernyataan yang beredar, Iran menegaskan bahwa setiap pelanggaran wilayah udara tetap akan dianggap sebagai tindakan permusuhan yang harus direspons.
Pihak IRGC juga memperingatkan bahwa langkah serupa di masa mendatang akan dibalas lebih tegas, termasuk terhadap pihak yang dianggap mendukung operasi tersebut.
Sementara itu, situasi di Lebanon juga dilaporkan kembali memanas setelah serangan udara Israel menimbulkan korban jiwa dari kalangan sipil.
Kondisi tersebut memperburuk ketegangan regional yang sebelumnya diharapkan mereda setelah adanya kesepakatan gencatan senjata.
Iran menilai rangkaian peristiwa ini sebagai pelanggaran terhadap komitmen damai yang telah disepakati sebelumnya di kawasan.
Teheran bahkan mulai membuka opsi peninjauan ulang terhadap kesepakatan, termasuk mempertimbangkan langkah strategis terkait Selat Hormuz yang merupakan jalur vital perdagangan energi dunia.
Di sisi lain, Amerika Serikat dan Israel tetap menyatakan bahwa wilayah Lebanon tidak termasuk dalam cakupan gencatan senjata yang dimaksud.
Perbedaan pandangan tersebut memperbesar potensi eskalasi baru di kawasan yang saat ini masih berada dalam situasi tidak stabil.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok