Berita, Nasional

Muslim Arbi Kuliti Topeng Empati Gubernur Sherly Tjoanda di Balik Tragedi Bella 72

Repelita.net

17 September 2026 16:04 WIB • 118 view

Muslim Arbi Kuliti Topeng Empati Gubernur Sherly Tjoanda di Balik Tragedi Bella 72
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Muslim Arbi mengupas sisi lain kehidupan politik dan sosial dari sosok Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, yang dinilai jauh berbeda dari citra sempurnanya di platform media sosial TikTok.

Pernyataan tersebut menyoroti kontras tajam antara narasi humanis yang diviralkan melalui konten berlatar belakang musik emosional dengan realitas pahit yang dirasakan oleh para korban dari tragedi meledaknya speedboat Bella 72.

ADVERTISEMENT

Tragedi yang merenggut nyawa mendiang Benny Laos itu seolah membuka kotak pandora mengenai dinamika kekuasaan serta pemanfaatan status korban menjadi modal elektoral dalam dunia komunikasi politik.

Berdasarkan catatan berbagai media lokal seperti Maluttv, Ternate Pos, Malutsatu, serta Liputan Malut, peristiwa nahas yang terjadi pada 12 Oktober 2024 lalu telah melambungkan nama Sherly Tjoanda di kancah politik daerah.

Pasangan yang memenangi kontestasi pemilihan kepala daerah satu putaran itu dinilai sukses membangun desain politik berbasis simpati publik, khususnya di kalangan ibu-ibu serta generasi milenial Maluku Utara.

Namun, ilmu psikologi kepribadian melalui teori Dispositional Authenticity menjelaskan bahwa karakter asli seseorang akan teruji sepenuhnya ketika dihadapkan pada titik klimaks konflik yang merugikan kepentingan pribadi.

Titik ujian tersebut terlihat secara nyata pada nasib para korban selamat dari insiden maut speedboat Bella 72 yang notabene merupakan bagian dari tim pemenangan mendiang suaminya sendiri di lapangan.

Kesaksian mengejutkan diungkapkan langsung oleh para korban melalui saluran YouTube milik kanal Malut Post

yang merekam pengakuan jujur mereka terkait pengabaian yang dialami pascakejadian.

Secara blak-blakan, salah satu korban menuturkan penderitaan mereka dengan menyatakan bahwa biaya rumah sakit harus ditanggung sendiri tanpa ada uluran bantuan finansial sedikit pun dari pihak sang kepala daerah.

"Biaya rumah sakitnya, itu biaya sendiri. Sherly tidak menanggungnya. Padahal saya ditugaskan partai untuk kampanyekan Bapak BL. Katanya mau kasih pekerjaan, sampai sekarang moco. Dia berbohong."

Tidak hanya harus menanggung beban pengobatan mandiri akibat luka parah yang diderita, para pejuang politik tersebut juga terpaksa harus mencari nafkah tambahan demi menyambung hidup dan membiayai proses pemulihan kesehatan.

Pernyataan serupa diperkuat oleh korban lainnya yang mengalami cedera fisik serius akibat insiden tersebut melalui rekaman video di kanal YouTube Malut Post

dengan ungkapan kepedihan mendalam.

"Untuk kumpul dana perawatan, saya terpaksa harus ngojek."

Pernyataan berikutnya juga disampaikan oleh korban yang mengalami cacat fisik permanen demi memperjuangkan kemenangan keluarga politik tertentu pada masa kampanye pemilihan kepala daerah lalu.

"Tangan saya patah, dipasang platina, biaya sendiri."

Ironisnya, janji-janji manis terkait pemberian pekerjaan, fasilitas tempat tinggal, modal usaha, serta jaminan masa depan bagi anak-anak yatim yang ditinggalkan hingga detik ini sama sekali tidak pernah terealisasikan.

Kondisi tersebut memperlihatkan kontras yang sangat kontras jika disandingkan dengan laporan harta kekayaan penyelenggara negara di mana sang kepala daerah tercatat memiliki aset fantastis bernilai lebih dari Rp 700 miliar.

Pertanyaan mendasar pun muncul di tengah masyarakat mengenai alasan di balik ketidakmampuan seorang pejabat publik berlimpah harta dalam meringankan beban pengobatan tim suksesnya yang mengalami patah tulang.

Situasi ini sangat sejalan dengan konsep dramaturgi Impression Management dari Erving Goffman yang membedakan secara tegas antara panggung depan tempat menampilkan persona ideal dan panggung belakang.

Di atas panggung depan media sosial, figur politik tampil ramah, dermawan, serta penuh air mata empati, sementara di panggung belakang terjadi kalkulasi dingin yang mengabaikan pihak-pihak dianggap merugikan citra.

Pembedaan antara empati otentik yang berakar dari pengorbanan pribadi dan empati politis yang dibiayai menggunakan anggaran negara serta konten pencitraan menjadi sorotan tajam dalam dinamika kepemimpinan saat ini.

Apabila terhadap tim pemenangannya sendiri yang telah berdarah-darah saja sikap pengabaian ditunjukkan secara terbuka, maka timbul keraguan besar terhadap bentuk perhatian bagi masyarakat luas yang tidak dikenal.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung