Berita, Viral Sosmed

Moskow: Rusia Kecam Arogan AS, Iran Pilih Putin Tolak Negosiasi Pakistan

Repelita.net

27 April 2026 19:07 WIB • 890 view

Moskow: Rusia Kecam Arogan AS, Iran Pilih Putin Tolak Negosiasi Pakistan
Foto: Istimewa

Repelita Moskow - Kebuntuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran semakin dalam setelah upaya mediasi Pakistan gagal total, di mana kini giliran Rusia yang angkat bicara melontarkan kritik pedas terhadap metode Washington yang dinilai terlalu arogan .

Mikhail Ulyanov utusan tetap Rusia untuk organisasi internasional di Wina dengan tegas menyebut pendekatan Amerika Serikat selama ini gagal total karena terlalu sering bermain api dengan mengandalkan ultimatum dan ancaman kekuatan militer .

ADVERTISEMENT

“Amerika Serikat sudah terbiasa menjalankan negosiasi dari posisi kuat dengan ancaman penggunaan kekuatan militer atau pengetatan sanksi. Jelas sekali pendekatan ini tidak berhasil terhadap Iran,” tegas Ulyanov dalam unggahannya di platform X pada Senin (27/4/2026) .

Pernyataan itu muncul di tengah situasi yang semakin runyam di mana perang yang dipicu AS dan Israel sejak 28 Februari lalu masih belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir .

Dunia sempat berharap pada Pakistan yang ditunjuk sebagai mediator utama di mana utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner direncanakan terbang ke Islamabad untuk negosiasi putaran kedua .

Namun harapan itu pupus sudah setelah Presiden Donald Trump tiba-tiba membatalkan perjalanan tersebut dengan alasan terlalu banyak biaya dan waktu yang terbuang percuma .

Trump sesumbar bahwa Amerika memegang kendali penuh dan Iran harusnya bersyukur karena telah meningkatkan tawaran damai mereka meskipun dinilai belum cukup memuaskan .

“Tidak ada yang tahu siapa yang memegang kendali di Iran termasuk mereka sendiri. Kami memegang semua kartu mereka tidak punya apa-apa. Jika mereka ingin bicara semua yang harus mereka lakukan adalah menelepon,” tulis Trump di platform Truth Social .

Namun sikap arogan ini langsung berbenturan dengan realitas pahit di lapangan ketika Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memilih meninggalkan Pakistan tanpa membuka negosiasi langsung dengan AS .

Araghchi justru memilih melanjutkan perjalanan ke Moskow Rusia untuk bertemu dengan Presiden Vladimir Putin pada hari Senin (27/4) di tengah krisis yang berkecamuk .

Langkah ini merupakan pesan diplomatik yang sangat jelas bahwa Iran saat ini lebih percaya pada Rusia sebagai mitra strategis dibandingkan Amerika Serikat .

Setelah bertemu dengan Panglima Militer Pakistan Asim Munir Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Menteri Luar Negeri Ishaq Dar Araghchi tak jadi menunggu utusan AS .

Ia lebih memilih naik pesan menuju ke utara untuk berkonsultasi mengenai status negosiasi terkini gencatan senjata dan perkembangan regional bersama Presiden Putin .

Juru bicara Kedutaan Besar Iran di Rusia Kazem Jalali mengonfirmasi bahwa menteri luar negeri Iran akan bertemu langsung dengan Presiden Putin selama kunjungannya ke Moskow .

Pilihan Teheran untuk mengabaikan Islamabad dan langsung berlabuh ke Moskow menunjukkan bahwa poros Iran-Rusia semakin erat karena ikatan nasib serupa di bawah sanksi berat Barat .

Kritik tajam dari Mikhail Ulyanov yang menyebut AS harus menghentikan pemerasan ultimatum dan tenggat waktu kemungkinan besar mencerminkan suara hati Kremlin .

Bukan tidak mungkin ini adalah pesan terselubung dari Putin untuk Trump agar mengubah pendekatannya terhadap Iran yang selama ini gagal total .

“Amerika Serikat seharusnya meninggalkan pendekatan yang menyerupai pemerasan tenggat waktu sepihak dan ancaman penggunaan kekuatan militer,” kutip pernyataan Ulyanov yang disampaikan kepada media .

Kritik ini sangat valid karena sejarah sudah membuktikan bahwa Iran bukanlah Irak atau Libya yang bisa ditundukkan oleh tekanan maksimal ala Trump .

Teheran kini semakin percaya diri dengan kemampuan militernya yang terus berkembang dan dukungan dari sekutu-sekutu di kawasan seperti Houthi Hizbullah dan milisi Suriah .

Araghchi sendiri sebelum terbang ke Moskow sempat menyindir Washington bahwa pihaknya belum melihat apakah Amerika benar-benar serius dengan diplomasi .

Sementara itu ketegangan justru bergerak ke arah yang lebih berbahaya setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan pasukannya untuk menyerang target Hizbullah di Lebanon secara paksa .

Langkah ini semakin menguji gencatan senjata yang sudah sangat rapuh dan berpotensi memicu eskalasi baru di front utara Israel .

Kegagalan diplomasi darat kini berdampak pada kekacauan di laut bahkan hingga ke perairan dekat Indonesia yang menjadi jalur perdagangan vital dunia .

Ali Akbar Velayati Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran melalui akun X miliknya menegaskan bahwa keamanan Selat Hormuz dan Selat Malaka adalah urusan kekuatan regional .

Ia bahkan menyebut bahwa Selat Bab el-Mandeb di Laut Merah dikelola oleh Ansar Allah atau kelompok Houthi Yaman yang merupakan sekutu setia Iran .

Peringatan keras ini disampaikan setelah militer AS mencegat kapal-kapal tanker Iran di perairan Asia termasuk di lepas pantai India Malaysia dan Sri Lanka .

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi sejak dimulainya operasi blokade mereka telah memerintahkan 29 kapal untuk berbalik arah atau kembali ke pelabuhan .

Video yang dirilis CENTCOM menunjukkan detik-detik pasukan AS mendarat dari kapal induk USS Tripoli dan kapal penghancur USS Spruance untuk mengambil alih kapal kargo Tosca .

AS beralasan kapal-kapal itu mencoba menembus blokade namun Iran menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan dan eskalasi yang berbahaya .

Sebagai aksi balasan Iran kembali memperketat cengkeramannya di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama 20 persen perdagangan minyak dunia .

Jubir Markas Besar Pusat Khatam Al-Anbiya Letnan Kolonel Ibrahim Zulfagari memastikan Selat Hormuz akan tetap tertutup selama AS masih memblokade kapal-kapal Iran .

Iran bahkan sudah mulai memungut pajak dari kapal yang melintas dan menyita dua kapal kontainer berbendera Liberia dan Panama sebagai bentuk pembalasan .

Dunia kini berada dalam ancaman badai sempurna di mana tiga jalur perdagangan paling vital di dunia tersandera oleh tiga aktor berbeda secara bersamaan .

Selat Hormuz di Teluk dikuasai Iran dan ditutup total sehingga mengancam pasokan 20 persen minyak dunia setiap harinya .

Selat Malaka di Asia Tenggara diincar AS dengan kapal perang yang berpatroli mencegat kapal Iran namun Iran memperingatkan AS agar tidak main-main di wilayah kedaulatan Indonesia .

Jika terjadi bentrokan di Selat Malaka maka perdagangan antara Asia Timur India dan Eropa akan lumpuh total dalam waktu yang sangat singkat .

Selat Bab el-Mandeb di Laut Merah diancam akan ditutup oleh kelompok Houthi Yaman yang telah memperingatkan AS akan memblokade total selat tersebut .

Wakil Menteri Luar Negeri Yaman Hussein al-Ezzi menyatakan bahwa Yaman akan memblokade Selat Bab el-Mandeb jika Amerika terus menghambat proses perdamaian di Timur Tengah .

Jika tiga selat ini benar-benar ditutup secara bersamaan maka kapal-kapal harus memutar lewat Tanjung Harapan di Afrika Selatan sehingga menambah biaya logistik hingga 30 persen .

Presiden Iran Masoud Pezeshkian akhirnya muncul ke publik di tengah tekanan luar biasa ini untuk menegaskan bahwa negosiasi harus dilakukan secara adil dan setara .

“Kami tidak berusaha memperluas perang. Kami bukanlah inisiator perang. Kami tidak menyerang siapa pun dan kami tidak berniat menyerang siapa pun sekarang. Kami hanya menginginkan hak-hak kami,” katanya merujuk pada hak nuklir dan hak navigasi .

“Mereka ingin menolak hak-hak suatu bangsa melalui intimidasi. Jika seseorang tidak membela diri mereka akan mati. Jika seseorang dipukul dan tidak bereaksi itu berarti mereka akan mati,” sambung Pezeshkian dengan tegas .

Pernyataan presiden ini mempertegas bahwa Teheran tidak akan mundur meskipun diancam akan dihancurkan infrastrukturnya oleh Trump .

Gencatan senjata akan resmi berakhir pada hari Rabu tanggal 29 April 2026 mendatang dan jika hingga saat itu tidak ada kesepakatan maka perang skala penuh akan menjadi kenyataan pahit dunia .

Harga minyak yang sudah menembus 100 dolar AS per barel berpotensi melonjak lebih tinggi lagi jika tiga selat sekaligus ditutup oleh pihak-pihak yang bertikai .

Inflasi global akan meroket di seluruh negara dan Asia Tenggara untuk pertama kalinya akan merasakan langsung getaran perang Timur Tengah di depan mata .

Indonesia kini berada dalam posisi yang sulit karena Menteri Luar Negeri Sugiono menyatakan bahwa patroli AS di Selat Malaka adalah hal biasa dalam kerangka freedom of navigation .

Namun jika terjadi insiden penyitaan kapal di perairan Indonesia maka itu akan menjadi masalah diplomatik besar yang dapat menyeret RI ke dalam pusaran konflik global .

Peringatan dari Iran adalah tembakan peringatan yang sangat jelas bahwa dunia tidak boleh membiarkan perang antara raksasa terjadi di halaman belakang rumah kita bersama .(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung