Berita, Nasional

Minyak Rusia Segera Masuk, Bahlil: Prioritas Stok Nasional, Yang penting stok kita ada

Repelita.net

03 May 2026 12:59 WIB • 877 view

Minyak Rusia Segera Masuk, Bahlil: Prioritas Stok Nasional, Yang penting stok kita ada
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Pemerintah Indonesia mengambil langkah taktis di tengah lanskap geopolitik dunia yang kian tidak menentu dengan fokus menjaga stabilitas energi dalam negeri.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa Indonesia dalam waktu dekat akan menerima pasokan minyak mentah dari Rusia.

ADVERTISEMENT

Langkah impor ini semata-mata dilakukan untuk memastikan ketahanan energi nasional tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.

"Bagi saya yang paling penting adalah semua stok kita ada. Dan untuk (minyak mentah) Rusia sebentar lagi masuk ya," ujar Bahlil kepada awak media.

Meski demikian, ia belum membeberkan secara rinci berapa volume minyak yang bakal diimpor maupun kilang mana yang akan mengolahnya di dalam negeri.

Fokus utama pemerintah saat ini adalah memastikan ketersediaan bahan bakar minyak meliputi solar maupun bensin dengan berbagai tingkat oktan.

"Dalam keadaan kondisi kayak begini negara harus menjamin ketersediaan semua jenis BBM. Itu jauh lebih penting," tegas menteri tersebut.

Terkait mekanisme impor minyak mentah dari Rusia, Bahlil menjelaskan bahwa prosesnya dilakukan melalui skema business to business bukan langsung antarnegara.

Pemerintah juga membuka kemungkinan untuk mengimpor liquefied petroleum gas dari Rusia meskipun rencana tersebut masih dalam tahap pembahasan lebih lanjut.

Di sisi lain, Bahlil memastikan bahwa kondisi stok LPG nasional saat ini masih berada dalam posisi yang aman.

"Sampai dengan sekarang stok LPG kita semuanya di atas standar minimum nasional," ucapnya meyakinkan publik.

Bahlil menyoroti bahwa kondisi geopolitik global saat ini membuat setiap negara berlomba mengamankan kepentingannya masing-masing tanpa kecuali.

Ketidakpastian soal konflik internasional membuat perencanaan energi harus disusun dengan sangat hati-hati dan penuh antisipasi.

"Kondisi geopolitik yang terjadi sekarang tidak ada satu negara pun yang dapat meramalkan kapan selesai," kata Bahlil.

"Dalam kondisi seperti ini, pengelolaan energi harus disesuaikan karena semua negara mencari jalan keselamatannya masing-masing," lanjutnya.

Indonesia memilih untuk tidak bergantung pada satu sumber energi saja dengan mulai mendorong diversifikasi energi termasuk pengembangan bahan bakar alternatif.

Salah satu langkah konkret yang tengah disiapkan adalah implementasi bahan bakar B50 yang merupakan campuran crude palm oil dan methanol menjadi Fatty Acid Methyl Ester.

"Bulan Juli besok menjadi B50. Itu adalah cara untuk mengonversi substitusi impor kita dari B0 menjadi B50," jelas Bahlil.

"Di mana campuran CPO dan methanol menjadi Fatty Acid Methyl Ester dan FAME ini kemudian dicampur dengan B0. Inilah kemudian kenapa tidak lagi kita melakukan impor solar," pungkasnya.

Langkah B50 ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor solar sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional secara bertahap.

Kombinasi antara impor dari Rusia, diversifikasi sumber energi, dan inovasi B50 menjadi strategi besar pemerintah menjaga stabilitas energi di tengah dunia yang penuh ketidakpastian.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung