Repelita Jakarta - Program perluasan area persawahan yang gencar dilaksanakan oleh jajaran Kementerian Pertanian memicu perdebatan hangat di ruang publik mengenai keakuratan data dan realisasi di lapangan.
Menteri Pertanian Amran Sulaiman menanggapi dengan nada jengkel berbagai tudingan miring dari sejumlah kalangan, termasuk pakar hukum tata negara Feri Amsari yang dinilai tidak memahami fakta penambahan lahan pertanian secara riil di lapangan.
ADVERTISEMENT
Pihak kementerian mengklaim telah berhasil memperluas lahan baku sawah secara signifikan di berbagai daerah, namun data tersebut kerap disalahpahami oleh pengamat yang hanya memantau kondisi dari ibu kota tanpa meninjau langsung ke lokasi.
"Tolong sampaikan ini Pak Feriamsari nanti supaya dia lebih pintar selatan Pak Dekan kalau mahasiswa hukum termasuk dosennya Pak Feri mau ke sana aku biayai 50 orang dibanding ke cetak sawah aku yang biayai dan itu amal amal jariah kalau memberitahu memberi pemahaman orang yang tidak paham Sumatera Selatan ada 100.000 1000 hektar kita pakai drop nah dia mengatakan tidak ada tadi ada pengurangan lahan Pak Prof ferdi Pak Dekan ada pengurangan lahan dia tidak hitung penambahan lahan aku tambah 800.000 hektar dia bilang "Di mana tempatnya?"
Susah ditunjukkan karena di Jakarta tinggal jakarta tidak ada sawah baru bertanya "Ah ini kita susah tolong sampaikan ini Pak yang ditanya jadi muridnya kalau Fav Riamsari nanti sampaikan muridnya supaya dia lebih pintar."
Sumatera Selatan hah ada di Sumatera Selatan sumatera Selatan berarti Bapak tahu ya iya kalau bisa diantar Pak nanti transportasinya aku yang tangguh udah pribadiku yang tanggung masih bisalah kalau 500 orang mau datang ke sana nih ini Pak yang ditanyakan itu Pak mana lahannya ah ini lihatlah ini nih aku dipeluk dia bilang "Ternyata teknologi canggih kamu pakai kami ke Amerika kami ke China kami ke Vietnam mengecek langsung teknologi terbaik dunia aku ambil buat di Indonesia."
Ini di Amerika ini Arkanso nih ini men-suplai Amerika beras 50% Amerika daerah ini jadi kita ini tidak kalah kemudian cetak sawah nih dulu PTA kan mana Maruke susah ditunjukkan ini ee ini anu ee ee Kalimantan Tengah ini Bu dulu hebatnya kita irigasi bagus enggak ada sawah jadi yang ada bebek berenang kami turun bongkar tanami presiden perintahkan "Paman beresin."
Siap Pak ini memang kurang waktu saya bernarasi di TikTok di situ kelemahan saya menyampaikan ini nih ini kami sudah bongkar ini yang ditanya sudah dua terjawab satu lahan rawa tadi kemudian ini cetak sawah ini ini sudah produksi dua kali a masih ditanya Pak Dekan kalau mahasiswa hukum termasuk dosennya Pak Feri mau ke sana aku biayai 50 orang stu dibanding ke cetak sawah aku yang biayai dan itu amal amal jariah kalau memberitahu memberi pemahaman orang yang tidak paham ini kemudian ke apa namanya ke Merauke nih nih kita bongkar orang di sana mengatakan Bapak Presiden ada yang lapor memang banyak mafia menjelma e jadi-jadian Pak Saididu memang banyak mafia jadi-jadian jadi dia bungkus dirinya menjadi macam-macam ada konsultan ada pengamat macam-macam dia bungkus di apa dia bilang sampaikan ke Bapak Presiden pak Presiden itu Papua tidak mungkin tumbuh padi tengah malam aku ditelepon eh magrib jam subuh saya terbang tunggu presiden di Marauke aku terbang begitu beliau mendarat "Paman tumbuh padi."
"Iya Pak."
Katanya tidak bisa tumbuh.
"iya memang Pak kalau tidak ditanam dicerita saja di TV enggak enggak tumbuh itu ini tumbuh ini sudah beliau pulang ke mau ke luar negeri waktu itu."
Bayangkan sadisnya orang itu berani memfitnah.
Tahu kalau fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan dan harus minta maaf pada petani 115 juta petani baru itu dimaafkan.
Betul itu enggak gampang.
Oke sekarang kita selesai ke depan terakhir ya hilirisasi Pak Dekan bukan Pak saya hidup bukan hari ini aja.
Teman yang baik adalah mengerti konstruktif itulah sahabat yang baik pak Firamsah bagus karena sudah ada keberaniannya tolong dibina lagi diberi ilmu-ilmu yang tadi karena Pak Prof tadi khatam saya lihat sudah 5% apa sembeda pangan bapak Prof sudah tahu sampaikan enggak usah saya ulangi apa ketahanan pangan.
Ketahanan pangan adalah dipenuhi dari dalam negeri luar negeri kalau sudah sembada maksimal 10% impor.
Kalau dihitung kembali dulu sebelum saya akhiri mana pangan pangan itu bukan ini Sembara sesuai FAO maksimal 10.
Nah pangan ini penjelasannya yang sesuai Impres 125 tahun 2020 ini impresnya ini Impres inilah yang dijaga pangan ini oleh pemerintah.
Nah kita kebutuhannya adalah 68 juta.
Kita impor total tiga ini adalah 3,5 juta.
3,5 juta dibagi 68 itu 4,9% sembada kan pangan.
Kemudian kalau dibagi ini tinggal 4% R8 juta pangan ya pangan yang dipegang oleh pemerintah.
Nah kemudian beras sudah sos sembah udah tidak ada impor kemudian cabai besar cabai rawit ini jagung minyak goreng kita suplai dunia bawang merah ayam telur ayam ayam daging ayam turun.
Kan ada tadi bertanya kan ini kita sudah ekspor masih turun.
Ini kembali yang tadi benar enggak Bu Frinas dan kalaupun tidak boleh dinamai buat iya jadi heran.
Nah kita juga orang Indonesia kalau ke negara lain yang kita cari beras siang pulun benar enggak.
Nah supaya menarik wisatawan jadi yang satu karung itu dipeduli tapi yang 34 juta ton pura-pura tidak lihat.
Ya udahlah nanti ketemu di akhirat ini selesai clear ya sos sembada beras sosembada jagung pakan sosembada caberai semua kecuali tiga.
Kita sekarang program lagi mudah-mudahan menteri pengganti saya nanti bisa lanjutkan selesaikan ini tiga.
Mudah-mudahan dua atau satu saya bisa selesaikan lagi tinggal dua anda mana tahu dari BM ini jadi Menteri Pertanian lanjutkan perjuangan itu enggak mungkin diselesaikan satu kali Bapak Ibu.
Hilirisasi selesai ya pangan su sembada apa segala macam nih sekarang mimpi Bapak Presiden langsung kami tindak lanjuti jadi sawit jadi solar sawit jadi bensin.
Air melimpah pangan melimpah kurang apa kita republik ini sebagian orang kurang ajar selalu mau membunuh negaranya sendiri.
Hah sdm dari Iya tapi tidak semuanya itu tadi orang Surabaya pintar-pintar Pak Prof itu dengan tadi jadi sebagian kecil memang dulu sebelum merdeka kan ada orang berpihak Belanda ada enggak Bu.
Ada ya pakai mic Bu ada enggak berpihak pada Belanda ada Bapak eh masih ada turunannya sekarang ya mungkin masih ada residunya itulah yang selalu mengkerdilkan bangsanya sendiri.
Benar kita harus bangkit bersama setuju mahasiswa setuju.
Oke ini etanol next kelapa kita hilirisasi ini anggaran 9 triliun anak muda kalau ada mau tanam kelapa gratis nih.
Kemudian ini kelapa ini kelapa kalau kita hilirisasi jangan ekspor kelapa langsung kita olah 100 kali lipat.
Ekspor kita 24 triliun nih itu 24 triliun di ujung kalau kita olah 100 kali lipat 2.400 triliun.
Air kelapa kita nomor satu dunia kalau air kelapa kita dibuat packaging-nya yang cantik itu sama dengan 2.000 triliun lebih hanya kelapa 5.000 triliun.
Cpo kita hilir ini pabriknya sudah ada di Maluku bukan omon-omon sudah jalan nih ekspor saya dampingi nih Bu Gubernur kita ekspor tapi yang kita ekspor coconut mil susu sekarang ada Eropa dan China pergeseran konsumsi pangan dari susu sapi ke coconut milk ke santan visio nah ini kita gunakan itu saja itu luar biasa.
Gambir Pak Prof tolong dikawal kami sudah putuskan dan tolong kalau bisa libatkanlah feri Pak Feri Hamsari iya libatkan aja Pak.
Udahlah yang mengritik itu saudara kita kalau Anda mau kuat harus terima kritikan.
Kritikan adalah itu energi bagi pelaku-pelaku ekonomi bagi pendekar itu ini kita bangun gambir ini gambir lipat ah itu Pak Saididu bedanya untungnya lebih banyak untungnya lebih banyak itu doanya Prof In from Mangku ya itu doanya beliau jadi beda doa kita kita satu putaran beliau ya Allah berilah dua putaran.
Inilah kenapa dua putaran dua kali tintanya laku ee jadi bahkan doakan seluruh kabupaten Indonesia ya Allah kalau bisa seluruh kabupaten provinsi pemilunya dua kali lipat semua dua.
Nah apa gambir turunannya ada tinta ada shampo ada sabun mana ini yang anak muda jangan baca nomor dua kamu belum cukup umur jangan baca nomor dua ini nomor dua semua dibaca ini ini memang aku billing jangan dibaca nomor dua dikasih merah nih ini ini ini luar biasa tahu baru dua komoditas 10.000 triliun tambah CPO nih cpo kita kuasai dunia nih itu 58% sekarang pergerakan 60%.
Kalau kita ilirisasi itu bisa R triliun 25.000 triliun hanya tiga komoditas itulah Indonesia enggak ada duanya di dunia makanya Indonesia bisa super power tapi kita kolaborasi kemudian kita hargai orang mengeritik tapi mengeritik konstruktif.
Kalau Anda cintai ini republik kita tidak boleh ego bisa saja nanti anaknya Pak Saididu beliau yang jadi menteri anakku lagi yang memberikan kritik konstruktif begitu juga eh Pak Profdi jadi kita ini bernegara cinta gak ini negara kecil suaranya ada yang tidak cinta di sini c cinta negara cinta selesai persoalan kita"
Pernyataan keras tersebut menunjukkan komitmen tinggi dari jajaran kementerian dalam mengawal kedaulatan pangan nasional sekaligus mengundang para akademisi untuk melihat langsung kenyataan di sektor agraris.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok