Repelita Washington - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Iran terlibat dalam adu pernyataan sengit melalui media sosial dan pernyataan resmi yang saling meledak.
Trump memberi ultimatum ekstrem kepada Teheran dengan mengatakan "Tandatangani kesepakatan atau saya akan meledakkan seluruh negara Iran."
ADVERTISEMENT
Hanya dalam hitungan menit setelah ancaman tersebut dilontarkan, Teheran merespons dengan penolakan keras yang tidak terduga oleh pihak Gedung Putih.
Perang kata-kata ini terjadi di tengah upaya negosiasi yang dijembatani oleh pemerintah Pakistan di Islamabad.
Namun alih-alih meredakan ketegangan, ancaman Trump justru membuat meja perundingan terbakar sebelum kursi-kursinya sempat diduduki.
Situasi ini menjadi ujian terakhir bagi gencatan senjata dua pekan yang akan segera berakhir dalam hitungan jam.
Dunia kini bertanya-tanya apakah masih ada harapan untuk perdamaian atau perang skala penuh tak terelakkan.
Pada Selasa, 21 April 2026 pagi waktu setempat, Trump kembali menggunakan platform Truth Social untuk menyampaikan pesan yang tidak biasa.
Dalam unggahan yang dihapus beberapa menit kemudian namun sempat diabadikan oleh banyak media, Trump memberikan ultimatum langsung.
"Iran harus menandatangani kesepakatan, kalau tidak saya akan meledakkan seluruh negaranya. Segera saya akan mengirim orang ke Islamabad untuk negosiasi," tulis Trump.
Ancaman ini bukanlah yang pertama dari Trump karena sebelumnya pada 18 April ia mengancam akan menghancurkan setiap pembangkit listrik dan jembatan di Iran.
Namun ancaman meledakkan seluruh negara adalah eskalasi retorika yang sangat signifikan dan belum pernah terjadi sebelumnya.
Pernyataan ini langsung memicu gelombang kecaman dari berbagai pihak, termasuk dari negara-negara sekutu AS sendiri.
Tidak butuh waktu lama bagi Teheran untuk merespons ancaman brutal tersebut.
Hanya satu jam lima belas menit setelah unggahan Trump, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengeluarkan pernyataan tegas.
"Kami sarankan negosiator Anda untuk membongkar koper mereka untuk Islamabad karena tidak ada seorang pun dari Iran yang akan pernah mendengarkan tuntutan delusional dan tidak realistis dari AS. Kami sudah selesai dengan Anda," ujar Esmaeil Baghaei.
Pernyataan ini bukan sekadar penolakan diplomatik biasa melainkan pemutusan hubungan komunikasi secara terbuka.
Kata "Kami sudah selesai dengan Anda" adalah bahasa yang sangat tegas dan jarang digunakan dalam diplomasi internasional.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, sebelumnya juga telah memperingatkan bahwa Trump berusaha mengubah meja perundingan menjadi meja penyerahan.
"Kami tidak menerima perundingan di bawah bayang-bayang ancaman," tegas Ghalibaf beberapa jam sebelum respons Baghaei keluar.
Para analis diplomatik menilai ancaman Trump kali ini sangat kontraproduktif dan tidak efektif.
Alih-alih mendorong Iran ke meja perundingan, ancaman tersebut justru memastikan bahwa Teheran tidak akan pernah mau berunding.
Ancaman meledakkan seluruh negara melanggar norma-norma dasar hukum internasional dan merupakan bahasa perang total.
Ancaman tersebut juga datang saat Iran sedang dalam posisi yang relatif kuat di medan perang.
Sejak perang terbuka dimulai pada 28 Februari, Teheran berhasil mempertahankan sebagian besar infrastruktur militernya.
Komandan Angkatan Udara IRGC bahkan mengklaim bahwa Iran telah mengisi ulang peluncur rudal dan drone dengan kecepatan tinggi.
Ancaman ini terjadi hanya beberapa hari setelah AS menyita kapal kargo Iran, TOUSKA, di Laut Oman.
Iran sudah dalam kondisi emosi yang meninggi setelah insiden penyitaan kapal tersebut.
Negosiasi yang dijadwalkan di Islamabad kini berada di ambang pembatalan total.
Pakistan yang bertindak sebagai mediator kini terjebak dalam situasi yang sangat sulit dan memalukan.
Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Pakistan mengungkapkan bahwa pihaknya sangat kecewa dengan pernyataan Trump.
"Kami telah bekerja keras untuk membawa kedua belah pihak ke meja perundingan. Ancaman seperti ini hanya akan menggagalkan semua upaya kami," ujarnya.
Delegasi AS yang sudah bersiap terbang ke Islamabad kini harus menunda keberangkatan mereka tanpa kepastian jadwal baru.
Sumber di Gedung Putih mengatakan bahwa Trump masih mengevaluasi opsi-opsi setelah respons keras dari Iran.
Dengan gencatan senjata dua pekan yang akan segera berakhir, dunia kini berada di ambang ketidakpastian yang tinggi.
Jika tidak ada keajaiban diplomatik dalam hitungan jam, maka perang skala penuh antara AS dan Iran bisa meletus kapan saja.
Amerika Serikat telah mengerahkan aset militer tambahan ke kawasan Teluk.
Kapal induk USS Gerald R. Ford dilaporkan sedang dalam perjalanan menuju Laut Arab.
Sementara itu, Iran juga meningkatkan kesiapan tempurnya ke level tertinggi.
IRGC mengumumkan bahwa semua unit rudal dan drone berada dalam status siaga tertinggi.
Ketegangan juga meluas ke front Lebanon selatan, di mana Hizbullah terus melakukan serangan terhadap pasukan Israel.
Pernyataan kontroversial Trump ini menuai reaksi beragam dari komunitas internasional.
Rusia melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri mengecam keras ancaman tersebut.
"Ini adalah bahasa perang kolonial yang tidak dapat diterima di abad ke-21," tulis Maria Zakharova di Telegram.
China menyerukan semua pihak untuk menahan diri dan menghormati hukum internasional.
Uni Eropa menyatakan keprihatinan mendalam dan mendesak semua pihak untuk kembali ke meja perundingan.
PBB melalui Sekretaris Jenderal Antonio Guterres juga mengeluarkan pernyataan mendesak.
"Kekerasan retorika hanya akan menambah penderitaan rakyat sipil. Diplomasi adalah satu-satunya jalan keluar," tegasnya.
Dengan sikap kedua belah pihak yang semakin mengeras, prospek kesepakatan damai dalam waktu dekat hampir tidak ada.
Iran telah secara eksplisit menyatakan bahwa mereka sudah selesai dengan Amerika Serikat.
Para analis memperkirakan bahwa skenario paling mungkin saat ini adalah eskalasi militer yang tidak terkendali.
Trump yang dikenal tidak suka terlihat lemah kemungkinan akan merespons penolakan Iran dengan tindakan militer.
Di sisi lain, Iran juga tidak akan tinggal diam menghadapi ancaman eksistensial tersebut.
Kartu-kartu baru di medan perang yang disebutkan Ghalibaf kemungkinan akan segera dimainkan.
Api sudah menyala di dekat tong mesiu Timur Tengah yang selama ini rapuh.
Pertanyaannya bukan lagi apakah kawasan ini akan meledak, tetapi kapan dan seberapa besar ledakan yang akan terjadi.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
BREAKING : This is ruthless belt treatment 🔥
— Amock_ (@Amockx2022) April 20, 2026
🇺🇸 Trump at 10:00 –– "Iran will have to sign a deal else i will blow up the entire country. Soon i will send people to Islamabad for negotiations"
🇮🇷 Iran at 11:15 –– 🔥 "We advise your negotiators to unpack their bags for… pic.twitter.com/gsepkZbNYY