Berita, Timur Tengah

Menlu Iran Buka Selat Hormuz untuk Semua Kapal di Sisa Gencatan Senjata, Trump Sambut Positif Tapi Blokade AS untuk Iran Tetap Berlaku

Repelita.net

18 April 2026 19:33 WIB • 1,029 view

Menlu Iran Buka Selat Hormuz untuk Semua Kapal di Sisa Gencatan Senjata, Trump Sambut Positif Tapi Blokade AS untuk Iran Tetap Berlaku
Foto: Istimewa

Repelita Teheran - Ketegangan di Timur Tengah belum benar-benar reda, namun satu pintu penting dunia kini kembali terbuka setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memastikan Selat Hormuz dapat dilalui seluruh kapal selama sisa masa gencatan senjata.

Pengumuman itu datang di tengah jeda konflik yang rapuh, menyusul kesepakatan penghentian sementara antara Israel dan Lebanon yang memberikan napas baru bagi kawasan.

ADVERTISEMENT

Jalur laut yang selama ini menjadi urat nadi perdagangan energi global itu kembali bernapas, meskipun belum sepenuhnya bebas dari bayang-bayang tekanan geopolitik yang terus membayangi.

Dari Washington, respons datang dengan cepat karena Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyambut keputusan Teheran dengan nada positif melalui platform Truth Social.

Ia mengapresiasi langkah Iran dan memastikan aktivitas bisnis serta pelayaran bisa kembali berjalan di jalur strategis tersebut.

Namun di balik ucapan terima kasih itu, ada garis tegas yang belum bergeser karena blokade militer Amerika Serikat di kawasan tersebut masih diberlakukan khusus untuk Iran.

Blokade itu akan terus berlangsung hingga tercapai kesepakatan final yang lebih komprehensif antara Washington dan Teheran dalam waktu dekat.

Trump menilai sebagian besar poin negosiasi sebenarnya sudah berada di jalur yang benar, tetapi masih ada isu krusial yang menggantung tanpa kepastian.

Salah satu tuntutan utama yang kembali menjadi kartu tawar Washington adalah memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir di masa mendatang.

Laporan Al Jazeera menyebut peluang pencabutan blokade oleh Amerika Serikat sejak awal memang kecil karena Washington melihat tekanan di Selat Hormuz sebagai alat strategis.

Tekanan tersebut digunakan untuk memaksa Teheran agar tunduk pada kesepakatan yang diinginkan oleh pihak Amerika Serikat dan sekutunya.

Di sisi lain, waktu terus berjalan karena gencatan senjata antara Israel dan Lebanon hanya diberi napas selama 10 hari sejak Jumat dini hari waktu setempat.

Sementara kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran memiliki durasi yang bahkan lebih singkat, yaitu kurang dari sepekan tanpa kepastian apakah akan diperpanjang.

Situasi ini menempatkan Selat Hormuz dalam posisi yang unik, yaitu terbuka secara fisik tetapi masih terkunci secara politik oleh kepentingan masing-masing pihak.

Kapal-kapal boleh melintas, namun arah masa depan kawasan itu masih ditentukan oleh tarik-menarik kepentingan yang belum selesai antara negara-negara adidaya.

Di tengah jalur pelayaran yang kembali ramai, dunia masih menunggu satu hal yang belum pasti apakah ini awal perdamaian atau sekadar jeda sebelum gelombang konflik berikutnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung