Repelita [Jakarta] - Wacana menjadikan Ibu Kota Nusantara sebagai pusat finansial internasional kembali memicu perdebatan sengit setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menolak gagasan tersebut.
Keputusan itu didasari pandangan Purbaya bahwa wilayah IKN saat ini masih tergolong sepi sehingga belum memenuhi syarat sebagai hub keuangan global yang potensial.
ADVERTISEMENT
Pernyataan Menkeu pada awal Juli 2026 tersebut menyoroti minimnya tingkat hunian serta rendahnya intensitas aktivitas ekonomi di lokasi pembangunan.
Kondisi tersebut mendapatkan sorotan tajam dari penulis sekaligus akuntan, Tere Liye, yang menilai antusiasme publik terhadap proyek IKN kini telah meredup drastis.
"Begitulah, Bahkan buzzer, artis2, seleb2 yg dulu sibuuuk sekali jilatin IKN, mereka sekarang juga males posting IKN. Duuh. Netizen dulu yg semangat live dan update dari IKN, postingannya tambah sepi, dan eh malah ikutan mengkritik pemerintah akhirnya," tulisnya melalui akun media sosial pada Sabtu (18/7/2026).
Tere Liye turut mempertanyakan keberlanjutan proyek tersebut dan mengkritik fokus pemerintah yang hanya terpaku pada pembangunan fisik semata.
"Entahlah apa yang dia cari. Karena dia ini lupa, kalau cuma bangun, bangun, bangun, maka tukang kompleks juga bisa. Duitnya dari mana, kemudian buat apa? Bermanfaat tidak? Bingung deh. Sementara argo biaya maintenance terus jalan," sindirnya.
Baginya, posisi IKN di mata pemerintahan saat ini tampak semakin tidak menentu dan kehilangan urgensi untuk terus dikembangkan.
"IKN ini, bahkan tidak ada lagi penting-pentingnya di mata pemerintahan sekarang. Hidup segan mati tak mau," tambahnya.
Dalam penutup pernyataannya, ia menantang pihak-pihak yang masih bersikeras memframing IKN sebagai wilayah yang ramai untuk membuktikannya secara langsung.
"Nah, jika kamu tidak terima analisis Tere Liye ini, bilang IKN rame, jaya raya, hebat sentosa, ehem, ayo teruskan posting live liputan dari IKN. Kamu tetap fight gitu loh, meskipun postingan-postinganmu sepiiii. Persis IKN yang sepiiii," tutupnya.
Di sisi lain, konten kreator Ahmad Suryadi mengibaratkan IKN layaknya rumah megah yang telah selesai dibangun, namun belum memiliki penghuni yang betah untuk tinggal.
"Ada yang bilang IKN adalah kota masa depan. Ada juga yang bercanda, masa depannya sudah datang, masa kini masih menyusul," ungkap Ahmad Suryadi.
Ia berpendapat bahwa eksistensi sebuah kota tidak hanya diukur dari infrastruktur beton dan baja, tetapi melalui denyut nadi kehidupan masyarakatnya.
"Kalau sekarang masih terlihat lengang, mungkin bukan karena kotanya sepi, tapi karena masa depannya sedang mencari alamat," pungkasnya. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok