Berita, Nasional

Megawati Geram Dituduh Jual Sipadan-Ligitan, Sindir Buzzer: Saya Enggak Punya Pasukan? Nanti Saya Cari

Repelita.net

04 May 2026 21:02 WIB • 837 view

Megawati Geram Dituduh Jual Sipadan-Ligitan, Sindir Buzzer: Saya Enggak Punya Pasukan? Nanti Saya Cari
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Suasana aula Universitas Borobudur pada Sabtu (2/5/2026) semula berjalan khidmat dalam pengukuhan gelar Profesor Emeritus untuk Arief Hidayat.

Namun dalam sela pidatonya, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menyelipkan nada yang berbeda tegas bahkan menyengat.

ADVERTISEMENT

Ia mengaku geram bukan tanpa alasan karena tuduhan lama kembali menyeruak bahwa dirinya disebut-sebut menjual Pulau Sipadan dan Ligitan.

Dua pulau yang sejak lama menjadi simbol pertahanan Indonesia terhadap Malaysia kini dipakai sebagai amunisi serangan di media sosial.

“Enak saja kalau mau jelekkan saya,” ucap Mega dengan suara yang terdengar naik menyapu ruangan yang seketika hening.

Di balik kalimat itu ada emosi yang terasa nyata bukan sekadar bantahan tetapi juga kekecewaan terhadap cara publik memperlakukan fakta.

Ia menyebut tudingan tersebut digerakkan oleh buzzer yang menurutnya hanya mencari keuntungan pribadi semata.

"Saya dalam batin, dipikir saya enggak punya pasukan? Nanti saya cari," katanya setengah berseloroh namun tetap serius.

Namun kalimat berikutnya justru meredakan ketegangan ketika Mega mengaku memilih menahan diri.

Ia menarik napas panjang lalu mengaitkan sikapnya pada nilai yang ia yakini sejak lama yaitu Pancasila.

"Tapi saya terus mikir, kita ini Pancasila. Dia kan bisa cari duit juga," ujarnya merujuk pada para buzzer.

Di titik itu pidatonya berubah menjadi refleksi yang mendalam bukan lagi soal tuduhan pribadi.

Pidato Mega berbicara tentang bagaimana ruang publik hari ini dipenuhi narasi pembohong dan potongan informasi yang menyesatkan.

Opini-opini yang bergerak lebih cepat dari klarifikasi resmi menjadi masalah besar dalam demokrasi digital.

Mega tampak sadar bahwa melawan semua itu dengan kemarahan hanya akan memperpanjang riuh yang tidak produktif.

Ia bahkan merasakan fenomena lain yaitu kemunculan dirinya dalam konten berbasis kecerdasan buatan yang dipakai untuk iklan.

Ia tertawa namun ada kegelisahan yang tersirat bahwa kenyataan kini semakin mudah dimanipulasi oleh teknologi.

Di tengah tepuk tangan yang datang terlambat namun akhirnya menguat pesan Mega mulai mengendap dalam pikiran para hadirin.

Serangan bisa datang dari mana saja tetapi respons yang kita pilih yang akan menentukan arah perjalanan bangsa.

Ia memilih menahan diri bukan karena lemah melainkan karena sadar bahwa panggung kebangsaan tak bisa terus diisi amarah.

Di aula itu antara gelar akademik dan riuh politik digital satu hal terasa jelas.

Pertarungan hari ini bukan lagi sekadar soal benar atau salah tetapi tentang siapa yang mampu menjaga akal sehat tetap berdiri di tengah berbagai gangguan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung