Repelita [Jakarta] - Dugaan tindakan tekanan dan intimidasi membayangi langkah Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) saat mematangkan rencana unjuk rasa di area Bundaran HI Jakarta Pusat. Rangkaian hambatan diduga sengaja dirancang pihak tertentu untuk menggagalkan kehadiran massa mahasiswa di lapangan.
Keterangan mengenai dugaan tekanan tersebut diungkapkan langsung oleh Koordinator Bidang Sosial Politik BEM UI 2026 Muhammad Hafidz Haernanda di lokasi unjuk rasa.
ADVERTISEMENT
"Kami memesan total 24 Kopaja, tetapi semuanya tidak bisa. Driver-driver tersebut diintimidasi dengan ancaman pemecatan jika nekat menjemput kami, sehingga mereka disuruh membuat 1.001 alasan," kata Hafidz di sela-sela aksi, Selasa.
Bentuk tekanan tidak sekadar menyasar pengadaaan sarana transportasi angkutan massa aksi, melainkan berlanjut ke ranah akademik para pengurus serta anggota BEM.
Ancaman pencabutan bantuan fasilitas pendidikan berupa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K), pencopotan posisi struktur keorganisasian, hingga penggiringan opini publik beredar luas.
Kondisi tersebut dipandang sebagai kemunduran besar bagi iklim kebebasan berekspresi warga negara pasca era reformasi.
"Kami sebagai generasi muda hidup di era pascareformasi yang menjamin kebebasan demokrasi. Namun kenyataannya, hak berekspresi justru dihalangi," ujarnya.
Sikap membatasi ruang penyampaian aspirasi dinilai bertentangan dengan esensi kemerdekaan bangsa yang sesungguhnya.
"Hal-hal seperti ini yang terus menggerus kemerdekaan. Karena itu, aksi kami hari ini mengusung tajuk 'Merebut Kemerdekaan'," imbuh dia.
Dinamika di lapangan sempat diwarnai insiden ketegangan antara massa mahasiswa dan aparat pengaman saat mobil operasional dihampiri petugas.
Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra bersama rombongan bereaksi keras meminta pimpinan kepolisian mengendalikan anggota di lokasi.
"Kita dengerin Bapak! Kita dengerin Bapak! Urusi tuh anak buahnya!" ucap Fathimah kepada Reynold.
Menanggapi protes tersebut, Kombes Reynold EP Hutagalung merespons langsung dengan menunjukkan gestur permohonan maaf terbuka.
"Saya tanggung jawab! Saya tanggung jawab!" jawab Reynold.
Ketua BEM UI Yatalathof Ma'shum Imawan menyatakan keterlibatan ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dalam panggung aspirasi tersebut.
"Total kalau misalkan massa pendataan kami bersama kampus-kampus lain ada sekitar 1.000, UI ada 500," ujar Athof, Selasa.
Gerakan ini dilandasi kekecewaan mendalam atas sinergi lembaga eksekutif dan legislatif yang melahirkan regulasi tidak berpihak pada publik.
"Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, slogan 'Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur' hanya omong kosong belaka," kata dia.
Delapan poin tuntutan yang diusung meliputi penghentian penjajahan negara atas rakyat, pemberantasan KKN, reforma agraria sejati, serta penurunan harga BBM dan bahan pokok.
Selain itu, massa mendesak evaluasi PSN, penghentian MBG dan KDMP, penolakan pemusatan kekuasaan, penetapan status bencana nasional Sumatra dan Flores, hingga penghentian intervensi TNI-Polri pada ruang sipil.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok