Berita, Nasional

Mantan Petinggi BUMN Sentil Dino Patti Djalal, Tegaskan Diplomasi Prabowo Bukan Sekadar Jalan-Jalan

Repelita.net

02 June 2026 14:24 WIB • 790 view

Mantan Petinggi BUMN Sentil Dino Patti Djalal, Tegaskan Diplomasi Prabowo Bukan Sekadar Jalan-Jalan
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] – Seorang mantan petinggi badan usaha milik negara (BUMN) sektor pelayaran niaga menyampaikan tanggapan atas kritik terhadap arah diplomasi internasional Presiden Prabowo Subianto.

Melalui akun media sosial X miliknya, mantan pejabat tersebut menyajikan argumentasi yang disertai rujukan langsung pada keterangan resmi Sekretariat Kabinet. Dalam unggahan yang diakses melalui akun @kangdede78, ia menautkan pernyataan Sekretaris Kabinet sebagai respons atas kritik yang disampaikan pengamat hubungan internasional Dino Patti Djalal.

ADVERTISEMENT

Ia menegaskan bahwa intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo merupakan bagian dari strategi diplomasi untuk memulihkan dan memperkuat posisi geopolitik Indonesia di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian. Menurutnya, tujuan dan capaian dari lawatan internasional tersebut perlu dipahami secara utuh sebelum dilontarkan penilaian negatif.

“To. Pak @dinopattidjalal, ini penjelasan Sekretaris Kabinet Letkol Teddy Indra Wijaya,” tulisnya dalam unggahan tersebut, dikutip Selasa (2/6/2026).

Ia juga mengutip pernyataan bahwa diplomasi negara harus menghasilkan dampak konkret, bukan sekadar rangkaian aktivitas seremonial. Meski mengakui kritik sebagai bagian dari kebebasan berpendapat dalam demokrasi, ia mengingatkan pentingnya menjaga batas etika agar kritik tidak berujung pada delegitimasi upaya kolektif para utusan negara.

“Ruang kritik memang terbuka, tetapi jangan sampai kritik tersebut justru menjadi alat untuk mendiskreditkan kerja tim yang sedang berjuang membawa kepentingan bangsa,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretariat Kabinet turut memberikan penjelasan untuk meluruskan polemik terkait frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa tingginya intensitas perjalanan internasional tidak dapat dilepaskan dari konteks global saat Presiden mulai menjabat.

“Masalah protokoler dan frekuensi ke luar negeri dalam 1,5 tahun terakhir. Jadi Presiden Prabowo itu adalah presiden baru yang mulai menjabat saat dunia sedang krisis,” kata Teddy dalam keterangan videonya.

Ia memaparkan bahwa konflik bersenjata di Eropa Timur, gejolak politik di Amerika Selatan, serta eskalasi ketegangan di kawasan Teluk yang melibatkan koalisi negara-negara Arab telah memicu krisis energi dan ketidakstabilan global.

“Jadi setiap pemimpin tentunya harus membangun hubungan yang dekat antarpemimpin dunia,” tambahnya.

Menurut Teddy, diplomasi modern tidak hanya mengandalkan pertemuan formal, tetapi juga membutuhkan kedekatan personal dan emosional antarpemimpin dunia, baik melalui forum terbuka maupun komunikasi tertutup.

“Untuk itu perlu kedekatan pribadi, kedekatan emosional antarpemimpin, baik secara langsung diliput media ataupun tertutup. Nah, itulah diplomasi,” pungkasnya. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung