Repelita Wina - Mantan Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sekaligus peraih Nobel Perdamaian 2005, Mohamed ElBaradei, mengeluarkan seruan mendesak kepada negara-negara Teluk untuk mencegah Presiden AS Donald Trump mengubah kawasan Timur Tengah menjadi bola api menyusul ancaman militer terbaru Washington terhadap Teheran.
Dalam unggahan di platform X pada Sabtu, 4 April 2026, ElBaradei secara khusus menyapa para pemimpin Teluk dengan pernyataan, "Kepada pemerintah negara-negara Teluk: mohon, sekali lagi, lakukan segala yang Anda bisa sebelum orang gila ini mengubah kawasan ini menjadi bola api."
ADVERTISEMENT
Seruan ini dilontarkan ElBaradei setelah Trump memperbarui ancaman langsung kepada Iran melalui platform Truth Social miliknya pada hari yang sama.
"Ingat ketika saya memberi Iran 10 hari untuk mencapai kesepakatan atau membuka Selat Hormuz? Waktu hampir habis, 48 jam tersisa sebelum neraka menimpa mereka!" tulis Trump mengingatkan ultimatum yang pernah diberikannya pada 26 Maret 2026.
Dalam postingan terpisah yang juga ditulisnya pada Sabtu, ElBaradei mengajukan pertanyaan retoris kepada Dewan Keamanan PBB serta sejumlah pemimpin dunia.
"Tidak ada yang bisa dilakukan untuk menghentikan kegilaan ini?!" tulis ElBaradei seraya menandai akun resmi PBB, Dewan Eropa, Presiden Prancis Emmanuel Macron, serta kementerian luar negeri China dan Rusia.
ElBaradei yang kini berusia 83 tahun memimpin IAEA dari tahun 1997 hingga 2009 dan memainkan peran kunci dalam upaya internasional terkait program nuklir Iran.
Ia bersama lembaga yang dipimpinnya dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 2005 atas upaya mempromosikan penggunaan energi nuklir secara damai.
Selama masa jabatannya, ElBaradei terlibat aktif dalam negosiasi internasional dan pemantauan aktivitas nuklir Iran yang mulai memicu kontroversi global saat itu.
Ancaman Trump terbaru ini muncul di tengah eskalasi konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.
Iran sendiri telah secara efektif memblokir Selat Hormuz sejak konflik meletus, jalur perairan strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Dalam konteks terkait, Organisasi Energi Atom Iran pada Jumat, 3 April 2026, mengirimkan surat protes kepada IAEA yang menuduh pengawas nuklir PBB gagal merespons agresi AS dan Israel terhadap fasilitas nuklir damai Iran.
"Diamnya badan internasional atas agresi yang sedang berlangsung bukan hanya ketidakaktifan tetapi sama dengan keterlibatan yang jelas dengan para pelaku," demikian pernyataan AEOI dalam unggahan di X.
Lebih lanjut mereka memperingatkan bahwa kelalaian historis ini merusak sedikit kredibilitas yang tersisa dan legitimasi IAEA di mata dunia.
"Kurangnya respons dari lembaga tersebut terhadap serangan AS dan rezim Zionis bukan hanya ketidakaktifan tetapi juga keterlibatan yang jelas dengan para pelaku," tambah pernyataan resmi AEOI.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok