Berita, Timur Tengah

Macron dan Starmer Pimpin Konferensi Virtual Jumat 17 April 2026 Bahas Pengamanan Selat Hormuz, Tolak Blokade Sepihak AS

Repelita.net

15 April 2026 21:58 WIB • 863 view

Macron dan Starmer Pimpin Konferensi Virtual Jumat 17 April 2026 Bahas Pengamanan Selat Hormuz, Tolak Blokade Sepihak AS
Foto: Istimewa

Repelita Paris - Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer akan menjadi tuan rumah konferensi virtual pada Jumat, 17 April 2026, guna membahas langkah pengamanan Selat Hormuz di tengah eskalasi ketegangan di Timur Tengah.

Kedua pemimpin negara itu akan memimpin pembicaraan untuk membentuk misi multilateral yang bertujuan membantu memulihkan kebebasan navigasi di selat tersebut ketika kondisi keamanan telah memungkinkan, demikian pernyataan resmi Istana Élysée pada Selasa, 14 April 2026.

ADVERTISEMENT

Dalam pernyataannya, disebutkan bahwa negara-negara yang tidak terlibat konflik dan bersedia berkontribusi akan dilibatkan dalam misi yang bersifat defensif tersebut, namun Prancis maupun Inggris belum merinci negara mana saja yang akan ikut serta.

Seorang juru bicara kantor perdana menteri Inggris mengatakan bahwa KTT Jumat bertujuan untuk mendorong upaya internasional yang telah dibangun dalam beberapa pekan terakhir guna memastikan kebebasan navigasi di jalur perairan strategis tersebut.

Starmer mengungkapkan bahwa Inggris telah mengumpulkan lebih dari 40 negara dalam pembahasan awal mengenai misi pengamanan Selat Hormuz.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot menyatakan bahwa beberapa negara telah mengambil bagian dalam pekerjaan persiapan yang dipimpin khususnya oleh para kepala staf untuk menentukan kerangka misi tersebut.

"Ini adalah soal koordinasi dengan negara-negara pesisir," ujar Barrot menambahkan keterangannya mengenai pentingnya kerja sama dengan negara-negara di sekitar Selat Hormuz.

Pada awal Maret, Macron telah menyatakan bahwa Prancis dan sekutunya tengah menyiapkan misi defensif untuk membuka kembali jalur strategis tersebut.

Namun ia menegaskan bahwa tidak akan ada pengawalan kapal dalam situasi yang masih diwarnai dengan aksi pemboman di kawasan.

Inisiatif ini muncul di tengah meningkatnya tekanan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran setelah perundingan antara Teheran dan Washington gagal mencapai kesepakatan.

Trump memerintahkan pemberlakuan blokade terhadap kapal yang masuk dan keluar dari Selat Hormuz untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran agar membatasi program nuklirnya.

Langkah blokade tersebut ternyata tidak mendapat dukungan dari Prancis dan Inggris, yang memberi sinyal ketidaksetujuan terhadap pendekatan tekanan sepihak ala Washington.

Macron juga menyatakan telah berbicara dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Trump pada awal pekan ini menyusul kegagalan perundingan damai di Islamabad.

Ketegangan bermula dari serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari yang memicu konflik regional berkepanjangan.

Situasi ini membuat lalu lintas di Selat Hormuz nyaris terhenti total dan mengganggu salah satu jalur utama pengiriman minyak dan gas dunia.

Iran dan Amerika Serikat sempat menyepakati penghentian sementara pertempuran selama dua pekan, namun perundingan lanjutan berakhir tanpa kesepakatan.

Sebagai respons atas kegagalan negosiasi tersebut, Amerika Serikat melanjutkan tekanan dengan rencana blokade maritim yang mulai diberlakukan di kawasan Selat Hormuz.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung