Berita, Nasional

M Rizal Fadillah Sebut Kepemimpinan Jokowi dan Gibran Jadi Catatan Buruk dalam Sejarah Bangsa

Repelita.net

21 October 2026 00:01 WIB • 92 view

M Rizal Fadillah Sebut Kepemimpinan Jokowi dan Gibran Jadi Catatan Buruk dalam Sejarah Bangsa
Foto: Istimewa


Repelita Jakarta - Gelombang sentimen negatif serta kecaman publik terhadap figur sentral eks pemegang kekuasaan tertinggi negara beserta keturunannya dilaporkan semakin menajam.

ADVERTISEMENT

Kondisi tersebut dipicu oleh meluasnya persepsi ketidakpuasan masyarakat atas rekam jejak serta perilaku politik yang dinilai melanggar kepatutan moral bangsa.

Tindakan seperti kedurhakaan terhadap mandat publik, kebohongan, serta praktik dinasti politik dipandang sebagai perbuatan nista yang menuai kebencian luas.

Kritik filosofis mengenai degradasi etika kepemimpinan nasional itu dipaparkan secara tajam oleh M Rizal Fadillah selaku pemerhati politik dan kebangsaan.

Ulasan evaluasi sosial dari sang analis kebangsaan tersebut dikeluarkan secara resmi di kota Bandung pada tanggal 19 Oktober 2026.

"Terkutuk itu maknanya dibenci, dimaki, dan tidak disukai akibat perilaku yang tidak baik. Durhaka, dusta, khianat, rampok, zalim, korup adalah perilaku yang tertkutuk. Dikutuk oleh manusia dan juga oleh Tuhan. Durhaka kepada orang tua itu terkutuk dan durhaka kepada rakyat atau masyarakat lebih terkutuk lagi," urai Rizal menjelaskan esensi moralitas.

Rizal memberikan komparasi historis dengan menyebut deretan diktator kejam dunia pada masa lampau yang berakhir tragis akibat kezalimannya.

Dirinya menyejajarkan konsekuensi sanksi sosial tersebut dengan tokoh-tokoh pembantaian global hingga aktor pengkhianatan sejarah di tanah air.

Menurut pandangannya, kemunculan sosok mantan kepala negara di era modern dianggap mewarisi catatan hitam dalam sistem birokrasi pemerintahan.

Ia menilai berbagai jabatan publik dari tingkat daerah hingga pusat diraih semata-mata demi memanipulasi citra kesederhanaan untuk memperpanjang dominasi.

"Sebagai pelanjut kutukan kepada Aidit, Jokowi muncul dan melejit. Walikota, Gubernur, and Presiden telah dijabatnya. Pembohong, penipu, pembununuh, pembantai, pemalsu dan perampok disandangnya. Wajah memelas dan tampilan sederhana manipulasi citra untuk menarik simpati. Kekuasaan ingin dipegang abadi meski telah dibatasi oleh konstitusi. Ia bangun politik dinasti di negeri demokrasi. Akhirnya ia pun dimaki dan menjadi tokoh yang terkutuk," paparnya.

Lebih mendalam, dirinya menyoroti skenario penempatan sang putra sulung ke kursi kementerian serta puncak hierarki kekuasaan negara.

Upaya pengawalan takhta dinasti politik tersebut dinilai terus dilakukan melalui intervensi partai serta pencarian celah hukum secara sepihak.

Akan tetapi, posisi sang wakil presiden saat ini dipandang terus goyah menyusul adanya keputusan peradilan formal terkait sengketa berkas kelulusan.

"Gibran digendong Jokowi untuk ditempatkan di atas singgasana kedua menuju puncak nanti. Jokowi mengendarai partai calon dinasti lanjutan Kaesang. Ia mengawal dan terus mencari celah. Raja badut ini sangat berharap pada Gibran yang terdekat. Gibran ternyata sejak duduk hingga kini menjadi makian publik. Terus bereskalasi akibat kekacauan ijazahnya diputus oleh hukum. Terkutuklah Gibran," tegas Rizal.

Pada akhir ulasannya, ia menangkap adanya aspirasi masif dari masyarakat yang menginginkan pembersihan total di panggung kepemimpinan nasional.

Tuntutan penegakan sanksi hukum pidana penjara disuarakan secara tegas agar menjadi pembelajaran berharga bagi perjalanan sejarah bangsa.

Rizal mengingatkan pentingnya konsistensi dalam menjaga fondasi ideologi negara demi membasmi segala bentuk keserakahan serta kemunafikan birokrasi.

"Dua nama kini disebut dalam satu hembusan nafas Jokowi dan Gibran. Rakyat mengutuk keduanya agar segera enyah dari panggung kepempimpinan bangsa. Minta agar dosanya dibalas dengan sanksi penjara. Tidak ada tempat bagi dinasti di negara demokrasi. Besok tidak boleh ada Jokowi Jokowi dan Gibran Gibran lagi. Dua manusia itu menjadi catatan buruk dalam sejarah bangsa dan negara. Indonesia harus konsisten menjadi negara bermoral. Ideologi adalah pilar moral luhur kehidupan seluruh warga negara. Tidak terkecuali para penyelenggara negara. Basmi kebohongan, kemunafikan, korupsi, kezaliman, kebodohan, dan keserakahan. Ganyang Jokowi dan Gibran," pungkasnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok









TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung