Berita, Nasional

Kunjungan Dubes Iran ke Jokowi Dinilai Perkuat Citra Shadow President, Hersubeno: Berbahaya bagi Stabilitas Luar Negeri

Repelita.net

03 April 2026 20:58 WIB • 819 view

Kunjungan Dubes Iran ke Jokowi Dinilai Perkuat Citra Shadow President, Hersubeno: Berbahaya bagi Stabilitas Luar Negeri
Foto: Istimewa

Repelita Solo - Kunjungan Duta Besar Iran ke kediaman Joko Widodo di Solo kembali memicu perdebatan publik di tengah masyarakat, terutama terkait dinamika politik dan diplomasi Indonesia saat ini.

Pengamat dan jurnalis senior Hersubeno Arief menilai bahwa pertemuan tersebut justru memperkuat citra Jokowi sebagai presiden bayangan atau shadow president di tengah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

ADVERTISEMENT

Menurut Hersubeno, pertemuan diplomatik tersebut memberikan keuntungan politik tersendiri bagi Jokowi karena mampu mengangkat kembali citranya di panggung internasional yang sempat meredup.

Masalahnya dengan bertemu dan menerima Dubes Iran itu justru memperkuat citra Jokowi sebagai shadow president, lugasnya dalam kanal YouTube pribadinya.

Di tengah berbagai kritik domestik yang sempat meredupkan sorotan terhadap mantan presiden tersebut, kehadiran tamu diplomatik dari Iran dinilai menjadi momentum pemulihan reputasi yang signifikan.

Di sisi lain Iran juga dinilai mendapatkan manfaat yang tidak sedikit dari langkah tersebut karena dapat menyampaikan pesan politik secara tidak langsung kepada pemerintah Indonesia yang sedang menjabat.

Kondisi ini kemudian memunculkan berbagai pertanyaan serius terkait etika diplomatik, khususnya mengenai batas kewenangan antara mantan presiden dan pemerintahan yang sedang berkuasa.

Hersubeno menyoroti kemungkinan adanya persepsi bahwa Iran tengah mengirimkan sinyal ketidakpuasan terhadap sikap politik pemerintah Indonesia saat ini.

Jika hubungan bilateral tidak segera diperbaiki melalui jalur resmi, Indonesia dinilai berisiko kehilangan peran strategisnya di kawasan Timur Tengah.

Ia juga menilai bahwa penggunaan jalur informal melalui tokoh nonaktif seperti Jokowi berpotensi menimbulkan kesan adanya dualisme kepemimpinan di mata dunia internasional.

Padahal bila sampai dunia internasional masih melihat adanya dualisme kepemimpinan di Indonesia, itu sesungguhnya berbahaya bagi stabilitas kebijakan luar negeri, tutur Hersubeno.

Dalam jangka panjang kondisi ini dianggap dapat berdampak negatif terhadap stabilitas kebijakan luar negeri Indonesia di mata komunitas global.

Namun demikian tekanan terhadap kebijakan energi dalam negeri dinilai akan semakin besar jika krisis global terus berlanjut tanpa solusi yang jelas.

Pemerintah disebut menghadapi tantangan berat dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas harga energi di dalam negeri dan kondisi fiskal negara.

Hersubeno menilai faktor hubungan personal dan pendekatan kultural menjadi elemen penting yang perlu dipahami dalam membangun komunikasi diplomatik dengan negara seperti Iran.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung