Repelita Bandung - Kejadian kecil namun sangat mengganggu terjadi saat perjalanan menggunakan kendaraan umum menurut pendapat M Rizal Fadillah.
Seorang penumpang bertubuh besar duduk di samping sopir dan tertidur sejak keberangkatan dari pool Bandung sampai tiba di pool Jakarta.
ADVERTISEMENT
Ia sesekali terbangun lalu tertidur kembali sementara suara dengkurannya yang keras terus menggema setiap kali ia memejamkan mata.
Bukan masalah tidur dan bangunnya melainkan dengkuran nyaring itu yang membuat seluruh penumpang gelisah dan tidak berdaya.
Sopir sempat berupaya meredam suara dengan menghidupkan radio atau membangunkan penumpang tersebut namun usaha itu sia-sia.
Ternyata penumpang itu memakai earphone di telinganya sehingga tetap nyaman tidur sambil mendengarkan lagu tanpa terganggu reaksi sekitar.
Suara dengkurannya yang ambrol justru semakin mengganggu suasana perjalanan.
Semua penumpang akhirnya merasa lega dan bebas setelah kendaraan tiba di tujuan akhir.
Kejadian sederhana itu sebenarnya mencerminkan spektrum yang lebih luas dalam kehidupan berbangsa menurut M Rizal Fadillah.
Pemimpin yang berada di posisi depan harus selalu waspada terhadap kegelisahan yang muncul di belakangnya.
Ia tidak boleh sibuk dengan urusan sendiri tanpa menyadari dampaknya terhadap orang banyak.
Pemimpin sejati tidak boleh tertidur apalagi sampai mendengkur keras karena hal itu dapat mengganggu ketentraman rakyat yang dipimpinnya.
Pemerintahan saat ini terkesan sibuk dengan berbagai program dan kunjungan ke berbagai tempat menurut pendapat M Rizal Fadillah.
Namun manfaat nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat belum terasa secara signifikan.
Aspirasi rakyat sering tidak didengar sementara penderitaan mereka juga seolah tidak dilihat.
Fasilitas bagi pejabat terlihat sangat mewah di saat rakyat biasa semakin kesulitan menghadapi kehidupan yang berat.
Saat pidato mendukung Palestina sikap itu terlihat biasa karena memang sudah menjadi sikap lama bangsa ini.
Namun pernyataan yang menjamin keamanan Israel justru terdengar mengganggu dan menimbulkan kegelisahan di kalangan rakyat Indonesia.
Begitu pula saat menyampaikan simpati terhadap apa yang terjadi di Gaza sikap biasa saja muncul.
Tetapi reaksi ribut dan keras muncul ketika menjalin kerjasama dengan Amerika serta Israel dalam berbagai ikatan yang sulit dihentikan.
Suara rakyat yang menuntut pergantian Kapolri penangkapan serta pengadilan terhadap Jokowi pemberhentian Gibran penghentian program MBG reshuffle menteri penghentian impor mobil pengusutan ijazah serta penindakan kasus air keras TNI tidak mendapat respons yang memadai.
Pemimpin tersebut seolah sibuk dalam mimpi investasi dan pujian sebagai tokoh dunia.
Penyakit narsisme pragmatisme dan sikap gemoy yang berlebihan terlihat sangat parah.
Apabila sudah tidak dapat diingatkan lagi karena buta dan tuli terhadap suara bawah maka kepercayaan sebagai pemimpin yang mumpuni akan hilang.
Kegelisahan itu berpotensi berubah menjadi keresahan yang lebih dalam dan bahkan bisa memicu pemberontakan.
Sebaiknya pemimpin tersebut mengundurkan diri demi kebaikan dirinya sendiri dan juga negeri ini menurut M Rizal Fadillah.
Jika tidak maka bersama pasangannya ia bisa dimundurkan langsung oleh rakyat.
Trump pernah diteriaki agar turun dari tahtanya sebagai pemimpin Amerika.
Prabowo yang disebut sebagai kembarannya juga berpotensi menghadapi teriakan serupa agar turun dari tahta kepemimpinan Indonesia.
Ikatan keduanya digambarkan sebagai tali kasih yang sehidup semati.
Keduanya saat ini seperti sedang tertidur dengan dengkuran keras yang mengganggu penumpang di belakang.
Agar suasana menjadi aman dan nyaman sebaiknya segera diturunkan saja.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok