Repelita Jakarta - Konsumsi sumber daya air dalam skala raksasa untuk operasional sistem kecerdasan buatan memicu kekhawatiran serius mengenai ancaman krisis lingkungan.
ADVERTISEMENT
Penggunaan teknologi mutakhir ini dilaporkan menelan ratusan liter pasokan likuid murni per detik untuk kebutuhan sistem pendingin yang beroperasi tanpa henti.
Volume penggunaan pasokan air bersih siap minum yang dihabiskan disinyalir menyentuh angka 380 liter atau sebanding dengan 20 galon air tiap detiknya.
Sistem komputasi canggih tersebut bekerja secara konstan selama 24 jam penuh guna menopang operasional kecerdasan buatan.
Jika dikalkulasikan secara akumulatif, pengeluaran pasokan likuid bersih tersebut mampu menyentuh angka sekitar 5 juta galon air setiap hari.
Kapasitas pengeluaran masif tersebut dinilai setara dengan total pemenuhan kebutuhan dasar air harian bagi 50 ribu orang penduduk.
Wacana pembangunan infrastruktur pusat data kecerdasan buatan di lokasi vital nasional kemudian mengundang polemik tajam di tengah masyarakat.
Rencana penempatan proyek tersebut di area Waduk Jatiluhur dinilai sangat berisiko mengancam stabilitas ketahanan pangan nasional serta pasokan air utama Jakarta.
Keterangan tertulis mengenai dampak lingkungan dari operasional infrastruktur digital ini disebarluaskan oleh akun @fahmi_arofi pada tanggal 12 Oktober 2026.
Narasi awal dalam lembar publikasi media digital tersebut menyatakan, "Penggunaan AI menghabiskan 380 Liter air bersih SIAP MINUM atau setara 20 galon air per Detik!! Dan bekerja 24jam non-stop! Sekitar 5juta galon air per hari! Setara kebutuhan air 50rb org tiap hari!"
Bagian lanjutan dari tulisan akun tersebut menambahkan kalimat, "Bayangin masifnya. Di tengah krisis air & kemarau panjang di berbagai daerah di Indonesia, bisa2nya ada yg kepikiran bikin AI Data Center di waduk Jatiluhur yg sgt vital sbgai sumber air utama Jakarta hingga pangan Nasional. Di Amerika, masyarakat sdh vokal nuntut korporasi seperti Meta. Indonesia?"
Unggahan tentang ancaman penyusutan sumber daya vital tersebut memicu reaksi beragam serta perdebatan interaktif pada ruang komentar warganet.
Sebuah usulan bernada satire mengenai lokasi alternatif penempatan infrastruktur dilontarkan oleh akun @croissant_basi.
Melalui kolom interaksi, pengguna internet tersebut menulis pesan singkat, "Kenapa gk di jakarta aja sekalian menghalau banjir 😹"
Tanggapan satire tersebut kemudian dibalas oleh pemilik akun utama secara langsung guna menanggapi ide penempatan di pusat kota.
Akun @fahmi_arofi menuliskan balasan singkat berupa pertanyaan retoris, "Jadiin tameng kah? Wkwkwk"
Kekhawatiran mengenai minimnya proses kajian mendalam sebelum pelaksanaan pembangunan infrastruktur disampaikan oleh akun @anugerah.farmhouse.
Warganet tersebut menyampaikan pandangan kritisnya lewat tulisan, "Proyek AMBISIUS...TANPA R&D berkesinambungan sebelum membangun nya. Akan menyita kekhawatiran banyak orang."
Pihak pengunggah utama kembali merespons ulasan mengenai aspek komersial dan pendanaan yang melatarbelakangi proyek ambisius tersebut.
Akun @fahmi_arofi memberikan ulasan tanggapan berupa sindiran ekonomi, "Yang penting investor cair bang hehe"
Kekesalan mendalam akibat kontradiksi penanganan bencana musiman diungkapkan secara sarkastis oleh akun @alfian_baikkk.
Netizen tersebut menumpahkan amarahnya di kolom diskusi dengan mengetik, "Waktu kemarau kaya gini air susah. Musim hujan banjir sok-sokan bikin data center cuk. Njing anjing"
Kondisi kekeringan ekstrem di wilayah tempat tinggal yang memaksa warga melakukan ritual permohonan hujan diungkapkan oleh pengunggah berita.
Akun @fahmi_arofi mengakhiri pemaparan kondisi riil daerahnya sebagai penutup dengan mengetik kalimat, "Di daerah saya ada yg mulai sholat istisqo' (minta hujan) saking langkanya sumber air bersih. Hiksss"(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
View on Threads