Repelita [Jakarta] - Pihak Parlemen Amerika Serikat membeberkan laporan mengejutkan mengenai hancurnya puluhan armada dirgantara tempur milik Pentagon dalam rangkaian operasi militer gabungan di wilayah Iran.
Berdasarkan data yang dirilis, operasi ofensif yang dilangsungkan sejak tanggal 28 Februari 2026 tersebut telah melenyapkan sedikitnya 42 unit pesawat militer termasuk jet tempur, helikopter, hingga pesawat tanpa awak di seantero Timur Tengah.
ADVERTISEMENT
Aksi bersenjata berskala besar ini diorkestrasi oleh Washington bersama pihak Israel dengan memadukan serbuan dari lini udara, laut, serta bombardir peluru kendali menuju titik pertahanan Teheran.
Meskipun tensi pertempuran sempat mereda pasca-adanya kesepakatan gencatan senjata pada April lalu, situasi di lapangan dilaporkan kembali memanas dalam beberapa pekan terakhir akibat gesekan yang dinamis.
Sejauh ini barisan petinggi Departemen Pertahanan Amerika Serikat terpantau belum mengeluarkan rincian data resmi mengenai akumulasi kerugian materil selama operasi tempur tersebut berlangsung.
Namun dalam agenda persidangan yang digelar pada 12 Mei 2026, Pelaksana Tugas Pengawas Anggaran Pentagon Jules W. Hurst III mengonfirmasi adanya lonjakan tajam pada estimasi biaya operasional perang.
Berdasarkan kompilasi data dari Kongres, pemberitaan media, serta rilis berkala Komando Pusat AS (CENTCOM), berikut rincian kehilangan 42 armada udara milik negara adidaya tersebut.
Sebanyak empat unit jet tempur jenis F-15E Strike Eagle dilaporkan hancur di mana insiden pertama terjadi pada tanggal 2 Maret 2026 akibat salah tembak dari pasukan kawan di teritorial Kuwait.
Sedangkan satu unit F-15E lainnya dikonfirmasi jatuh terhempas saat menjalankan misi tempur di wilayah udara Iran pada 5 April 2026 meskipun seluruh krunya berhasil diselamatkan lewat evakuasi terpisah.
Kerugian paling krusial dialami oleh armada udara Amerika Serikat menyusul runtuhnya reputasi kehebatan jet tempur tercanggih dunia jenis F-35A Lightning II akibat hantaman artileri pertahanan darat Iran pada 19 Maret 2026.
Pihak Pentagon sempat berupaya menyangkal klaim keberhasilan militer Teheran dalam menjatuhkan pesawat siluman tersebut sebelum akhirnya berita penembakan itu terkonfirmasi ke publik.
Selanjutnya, satu unit pesawat penyerang darat legendaris tipe A-10 Thunderbolt II dilaporkan jatuh dan hancur berkeping-keping dalam operasi pencarian dan penyelamatan pilot pada tanggal 3 April 2026.
Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Angkatan Udara Dan Caine dalam keterangannya memastikan pilot pesawat serang darat tersebut berhasil mengaktifkan kursi lontar dan dievakuasi dalam kondisi selamat.
Kerugian di sektor logistik udara juga membengkak menyusul hancurnya tujuh unit pesawat tanker pengisi bahan bakar udara jenis KC-135 Stratotanker akibat kecelakaan maupun serangan langsung musuh.
Dua unit KC-135 dilaporkan jatuh di Irak dan melakukan pendaratan darurat di lokasi rahasia pada 12 Maret 2026, sementara lima unit lainnya hancur dibom rudal Iran saat terparkir di Arab Saudi pada 14 Maret 2026.
Serangan rudal dan pesawat tanpa awak milik Iran ke Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi pada 28 Maret 2026 juga meluluhlantakkan satu unit pesawat pemantau strategis E-3 Sentry (AWACS).
Pesawat radar yang bernilai sangat mahal tersebut dilaporkan mengalami kerusakan parah setelah dihantam proyektil musuh akibat diparkir pada area taxiway terbuka tanpa perlindungan yang memadai.
Selain itu, dua unit pesawat operasi khusus tipe MC-130J Commando II terpaksa dihancurkan sendiri oleh pasukan AS di daratan Iran pada 5 April 2026 karena mengalami kendala teknis saat hendak lepas landas.
Tindakan bumi hangus terhadap dua pesawat khusus tersebut terpaksa diambil demi mencegah jatuhnya teknologi sensitif Amerika Serikat ke tangan militer Teheran setelah misi penyelamatan pilot F-15E.
Pada hari yang sama, satu unit helikopter penyelamat HH-60W Jolly Green II dilaporkan mengalami kerusakan setelah dihujani tembakan senjata ringan saat berupaya mengevakuasi kru pesawat yang jatuh.
Kerugian kuantitas terbesar disumbang oleh jatuhnya 24 unit drone pengintai bersenjata jenis MQ-9 Reaper yang dilaporkan hilang dari radar sejak awal babak pertempuran udara melawan Iran dimulai.
Menutup daftar kerugian, dokumen Angkatan Laut Amerika Serikat tertanggal 14 April 2026 mengonfirmasi jatuhnya satu unit pesawat tanpa awak pengintai maritim jarak jauh tipe MQ-4C Triton akibat kecelakaan teknis.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok