Berita, Timur Tengah

Konflik Iran Memanas profesor dan komentator politik terkemuka UEA Serukan Penutupan Pangkalan Militer AS, Sebut Beban Bukan Aset Strategis

Repelita.net

21 April 2026 18:11 WIB • 1,054 view

Konflik Iran Memanas  profesor dan komentator politik terkemuka  UEA Serukan Penutupan Pangkalan Militer AS, Sebut Beban Bukan Aset Strategis
Foto: Istimewa

Repelita Abu Dhabi - Peta geopolitik Timur Tengah kembali berguncang setelah seorang cendekiawan senior yang terhubung dengan istana kerajaan Abu Dhabi menyerukan penutupan semua pangkalan militer Amerika di Uni Emirat Arab.

Di tengah panasnya perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel, sekutu tradisional Washington ini justru melontarkan pernyataan yang sangat mengejutkan.

ADVERTISEMENT

Pernyataan ini bukan sekadar kritik biasa melainkan sebuah sinyal kuat bahwa negara-negara Teluk mulai lelah menjadi pangkalan perang.

Mereka seolah ingin menentukan nasib sendiri tanpa campur tangan kekuatan asing di wilayah mereka.

“Sekaranglah waktunya untuk memikirkan tentang menutup pangkalan militer AS,” ujar Abdulkhaleq Abdulla, seorang profesor dan komentator politik terkemuka UEA, melalui akun media sosialnya pada Ahad, 19 April 2026 malam.

Abdulla dengan tegas menyebut pangkalan-pangkalan Amerika itu sebagai beban dan bukan aset strategis bagi negaranya.

Pernyataan Abdulla ini disampaikan hanya beberapa jam setelah konflik memanas kembali di kawasan tersebut.

Amerika Serikat di bawah komando Presiden Donald Trump baru saja menembak dan menyita sebuah kapal kargo Iran bernama TOUSKA di Laut Oman pada Minggu (19/4).

Sebagai balasan atas tindakan tersebut, Iran dilaporkan telah meluncurkan serangan drone ke kapal-kapal perang AS di kawasan.

"UEA tidak lagi membutuhkan Amerika untuk mempertahankannya, karena telah terbukti selama agresi Iran bahwa ia mampu mempertahankan dirinya dengan sangat baik," tulis Abdulla.

"Yang UEA butuhkan hanyalah memperoleh senjata terbaik dan terbaru yang dimiliki Amerika. Oleh karena itu, inilah saatnya berpikir untuk menutup pangkalan Amerika, karena pangkalan tersebut adalah beban dan bukan aset strategis."

Apa yang membuat UEA berubah sikap secara drastis terhadap sekutu lamanya?

Jawabannya terletak pada rentetan serangan yang terjadi sejak perang terbuka meletus pada 28 Februari lalu.

Sejak konflik dimulai, setidaknya 21 serangan telah menyasar 13 situs militer yang menampung personel Amerika di seluruh Asia Barat.

UEA sendiri menjadi salah satu target utama dari serangan-serangan tersebut.

Pangkalan Udara Al Dhafra, yang merupakan pangkalan bersama AS, Prancis, dan UEA, telah diserang setidaknya dua kali oleh rudal atau drone Iran.

Selain itu, fasilitas minyak dan infrastruktur sipil di UEA juga ikut terkena imbas dari eskalasi konflik.

Para pejabat UEA bahkan melaporkan bahwa negara mereka telah mengalami lebih dari 1.400 serangan sejak konflik dimulai.

Sebagian besar serangan tersebut berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara UEA yang canggih.

Bagi UEA, ini adalah harga yang terlalu mahal untuk sebuah perlindungan yang tidak lagi mereka rasa perlu.

Di balik isu militer, ada alasan ekonomi yang tak kalah penting dan mendesak.

Perang ini telah mengancam posisi UEA sebagai pusat keuangan global di Timur Tengah.

Menurut laporan The Wall Street Journal, UEA saat ini sedang dalam pembicaraan dengan pemerintahan Trump mengenai potensi pertukaran mata uang.

Tujuannya adalah untuk melindungi ekonomi mereka dari dampak buruk perang yang berkepanjangan.

Para pejabat UEA menyampaikan kekhawatiran bahwa perang akan menguras cadangan devisa mereka.

Perang juga akan menakuti investor asing yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi UEA.

Bahkan, ada ancaman terselubung di dalam negosiasi tersebut yang sangat mengkhawatirkan Washington.

UEA disebut-sebut memberi tahu AS bahwa jika mereka kehabisan dolar, mereka mungkin terpaksa menggunakan yuan China.

Mata uang China itu bisa digunakan untuk penjualan minyak dan transaksi internasional lainnya.

Ini jelas bukan sekadar masalah pangkalan militer, melainkan ancaman pergeseran dolar petrodollar.

Pergeseran itu akan mengguncang hegemoni AS dalam sistem keuangan global selama puluhan tahun.

Seruan Abdulla langsung menjadi viral dan memicu debat hangat di kalangan pengamat internasional.

Banyak yang menilai bahwa ini bukan sekadar opini pribadi dari seorang akademisi.

Ini adalah sebuah trial balloon atau uji coba opini publik yang mungkin dilepaskan oleh kalangan istana.

Ketua Umum Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI), Bachtiar Nasir, menilai keputusan negara-negara Teluk untuk menjauh dari konflik adalah bukti berkurangnya hegemoni militer AS.

"Ini bukan keputusan teknis. Ini pernyataan politik tentang kedaulatan dan otonomi strategis kawasan," kata Bachtiar.

Ia menambahkan bahwa langkah ini didorong oleh pertimbangan rasional yang sangat matang.

Arab Saudi dan UEA sedang menjalankan proyek transformasi ekonomi besar-besaran.

Perang akan menghancurkan iklim investasi yang bertentangan dengan visi masa depan mereka.

Seruan penutupan pangkalan ini terjadi di saat gencatan senjata antara AS dan Iran berada di ambang kehancuran.

Kesepakatan damai selama dua pekan yang dimediasi Pakistan akan segera berakhir Rabu (22/4).

Sementara itu, Iran masih belum mengonfirmasi keikutsertaannya dalam putaran negosiasi berikutnya.

Di sisi lain, militer Iran justru menunjukkan taringnya dengan meningkatkan kesiapan tempur.

Komandan Angkatan Udara IRGC mengklaim bahwa Iran kini mengisi ulang peluncur rudal dan drone-nya dengan kecepatan tinggi.

"Selama gencatan senjata, kecepatan kami dalam memperbarui dan mengisi ulang landasan peluncuran rudal dan drone bahkan lebih cepat daripada sebelum perang," ujar Mousavi.

Pernyataan UEA ini menjadi bumerang yang sangat berbahaya bagi strategi militer AS.

Jika sekutu tradisional mulai meminta Amerika pulang kampung, maka pilihan militer Washington untuk menekan Iran menjadi semakin terbatas.

UEA kini ingin diperlakukan sebagai mitra sejajar, bukan lagi sebagai vasal yang siap dikorbankan.

Jika tuntutan ini diabaikan, bukan tidak mungkin pangkalan-pangkalan AS di Teluk akan benar-benar angkat kaki.

Kekosongan kekuasaan yang ditinggalkan akan segera diisi oleh pengaruh China dan Rusia di kawasan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok







TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung