Repelita [Jakarta] - Peristiwa nahas yang merenggut nyawa seorang kepala keluarga akibat dugaan pencurian hewan ternak memantik kecaman luas di tengah masyarakat.
Tindakan main hakim sendiri yang berujung kematian tragis tersebut dinilai mencederai rasa kemanusiaan serta memperlihatkan potret buram penegakan hukum.
ADVERTISEMENT
Kritik pedas dilontarkan pegiat media sosial menyoroti disparitas perlakuan aparat terhadap pelaku kejahatan kecil berbanding terbalik dengan koruptor kakap.
"Mencuri itu tetaplah salah. Tetapi main hakim sendiri bukanlah keadilan," ujar Andini.
Kesenjangan sosial terlihat nyata ketika masyarakat bawah berurusan langsung dengan amuk massa sementara pelaku rasuah mendapat keistimewaan.
"Pencuri kecil seringkali dihakimi tanpa ampun. Tapi justru tikus-tikus berdasi yang merampas hak jutaan orang diperlakukan jauh lebih manusiawi," tegas pemilik Bakso Daengku ini.
Faktor desakan perut lapar demi menyambung hidup keluarga kerap menjadi pemicu utama di balik tindakan nekat masyarakat kelas bawah.
Sebaliknya, kejahatan kerah putih digerakkan oleh nafsu keserakahan tanpa harus merasakan siksaan fisik meski merugikan keuangan negara secara masif.
Tragedi kemanusiaan ini sekaligus mencerminkan bagaimana negara seolah abai dalam menjamin kesejahteraan dasar bagi rakyat kecil.
"Seseorang mungkin kehilangan satu ekor ayam, tapi anak ini kehilangan bapaknya, tempatnya pulang, tempatnya bermanja, dan orang yang berjuang memberinya makan," tutur Andini penuh haru.
Ketimpangan nilai antara hilangnya nyawa manusia dengan seekor hewan ternak membuktikan runtuhnya keadilan substantif di akar rumput.
"Ketika satu ekor ayam dihargai satu nyawa, sementara pencurian triliunan rupiah hanya dihargai penjara belasan tahun saja, di situlah bukti bahwa keadilan bukan milik semuanya," pungkasnya.
Suasana haru biru menyelimuti proses pemakaman tatkala sang buah hati meratapi kepergian orang tua tercinta untuk selamanya.
"Bapak, bapak, bapak," kata bocah perempuan itu sambil menangis histeris dikutip fajar.co.id, Minggu 26 Juli 2026.
Langkah gontai bocah malang tersebut dipapah oleh para pelayat di sisi keranda jenazah sang ayah yang tewas mengenaskan.
"Pak, bapak. Bapak bapak balik," kata anak tersebut sambil menangis dan menghentakkan kaki ke tanah.
Insiden berdarah di daerah tabanan bali tersebut bermula ketika korban kedapatan menyatroni kandang ternak milik warga pada waktu dini hari.
Massa yang telanjur emosi langsung meringkus pelaku hingga memicu amuk anarkis berujung penganiayaan fatal yang merenggut nyawanya.
Kendaraan roda dua milik korban tidak luput dari amukan warga hingga hangus terbakar di lokasi kejadian perkara.
Aparat kepolisian setempat langsung bergerak cepat mengamankan tempat kejadian serta mengumpulkan berbagai barang bukti pendukung.
Pihak kepolisian menegaskan bahwa tindakan main hakim sendiri merupakan pelanggaran hukum berat yang tidak boleh diulang oleh masyarakat.
"Kami mengimbau masyarakat agar tidak melakukan tindakan main hakim sendiri dan menyerahkan penanganan setiap dugaan tindak pidana kepada aparat penegak hukum," kata Rina.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok