Berita, Timur Tengah

Kekuasaan Iran Tak Lagi Berpusat pada Satu Figur, IRGC dan Ghalibaf Kuasai Jalannya Perang dan Diplomasi Pasca Ali Khamenei

Repelita.net

22 April 2026 19:21 WIB • 949 view

Kekuasaan Iran Tak Lagi Berpusat pada Satu Figur, IRGC dan Ghalibaf Kuasai Jalannya Perang dan Diplomasi Pasca Ali Khamenei
Foto: Istimewa

Repelita Teheran - Dinamika politik Iran memasuki fase transisi baru setelah perang dengan Amerika Serikat berlangsung selama berbulan-bulan.

Sejak Mojtaba Khamenei menggantikan ayahnya sebagai pemimpin tertinggi, struktur kekuasaan di Republik Islam tidak lagi berpusat pada satu figur dominan.

ADVERTISEMENT

Otoritas atas isu perang, diplomasi, dan eskalasi semakin terkonsentrasi pada inti militer-keamanan negara.

Inti kekuasaan itu terdiri dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC), dan tokoh politik dengan latar belakang militer.

Figur sipil seperti presiden dan kementerian luar negeri tetap aktif, namun lebih berperan sebagai pelaksana kebijakan.

Kebijakan yang dijalankan ditentukan oleh lingkaran keamanan yang jauh lebih kecil dan tertutup.

Mohammad Bagher Ghalibaf, mantan komandan IRGC sekaligus Ketua Parlemen, kini tampil sebagai wajah politik paling menonjol.

Berbeda dengan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang memegang kendali penuh atas hampir semua keputusan strategis.

Mojtaba Khamenei beroperasi sebagai salah satu suara dalam konsensus elit keamanan, bukan lagi sebagai arbiter tunggal.

Ia menjadi bagian dari koalisi keras yang mengelola perang, diplomasi, dan persaingan internal di negeri itu.

Perbedaan paling signifikan kini muncul di dalam kubu garis keras Iran.

Sebagian elit keamanan pragmatis melihat diplomasi sebagai instrumen tambahan untuk menekan lawan.

Kelompok ideologis ultra-konservatif seperti Stability Front menolak fleksibilitas dan menganggapnya sebagai tanda menyerah kepada musuh.

Media negara dan parlemen, yang banyak dikendalikan oleh kelompok ideologis, kerap memperkuat perbedaan taktis ini.

Akibatnya, perbedaan tersebut tampak seperti perpecahan besar meskipun arah strategis tetap relatif selaras.

Kontroversi terbaru terkait pernyataan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi tentang pembukaan kembali Selat Hormuz memperlihatkan tekanan ganda.

Tekanan itu datang dari diplomasi koersif Presiden AS Donald Trump di luar negeri.

Tekanan juga datang dari basis ideologis domestik yang menilai fleksibilitas sebagai kelemahan.

Episode Hormuz menunjukkan bahwa Iran sedang menavigasi sistem transisi yang kompleks.

Dari model lama yang berpusat pada figur tunggal menuju struktur baru yang lebih kolektif dan berorientasi keamanan.

Konsolidasi penuh Mojtaba Khamenei mungkin terjadi di masa depan.

Namun untuk saat ini, Iran dijalankan oleh koalisi elit keamanan yang berusaha menyeimbangkan perang, diplomasi, dan tekanan internal.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung