Repelita Washington - Kekacauan besar melanda Departemen Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon setelah Menteri Pertahanan Pete Hegseth melakukan pembersihan massal terhadap para jenderal dan pejabat militer senior.
Laporan The Guardian menyoroti gelombang pemberhentian yang meluas ini telah memicu krisis internal di tubuh militer Amerika.
ADVERTISEMENT
Banyak pejabat militer kini menganggap kinerja Hegseth, mantan komentator Fox News yang diangkat oleh Presiden Donald Trump, sebagai ancaman serius terhadap kohesi militer AS.
The Guardian dalam laporan kritisnya menulis bahwa Pentagon setelah gelombang pembersihan telah mencapai tahap kekacauan internal yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Data terbaru menunjukkan bahwa Pentagon mengalami tingkat pergantian karyawan hingga 12 persen sejak Trump dilantik kembali pada Januari 2025.
Angka ini naik tajam dari hanya 7 persen di era Biden, menurut laporan tahunan Departemen Pertahanan AS.
Hegseth yang dikenal dengan gaya bicaranya yang blak-blakan diangkat dengan tugas jelas untuk membersihkan militer dari apa yang ia sebut sebagai pengaruh woke atau terlalu peduli isu sosial.
Target utamanya adalah kebijakan keberagaman, kesetaraan, dan inklusi atau DEI yang dituding merusak jati diri militer.
Metode yang digunakan Hegseth dinilai brutal oleh banyak pihak karena ia telah memecat atau memensiunkan secara paksa 24 jenderal dan komandan senior.
Jumlah ini sangat besar untuk periode waktu yang relatif singkat sejak ia menjabat.
Lebih mencengangkan lagi sekitar 60 persen dari perwira yang dipecat adalah mereka yang berkulit hitam atau perempuan.
Para perwira yang dipecat bukanlah orang sembarangan melainkan memiliki reputasi dinas yang sempurna dan bersih.
Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal Randy George menjadi korban terbaru setelah menolak perintah Hegseth untuk mencoret empat perwira.
Keempat perwira yang terdiri dari dua pria kulit hitam dan dua wanita itu seharusnya masuk dalam daftar promosi.
Paul Eaton, seorang pensiunan jenderal bintang dua, membandingkan pembersihan ini dengan era Stalin di Uni Soviet.
"Mereka ingin menciptakan angkatan bersenjata yang murni secara ideologis, yang akan tunduk pada presiden dan menteri pertahanannya. Sumpah mereka akan lebih kepada seseorang daripada konstitusi," kata Eaton.
Dampak dari pembersihan ini sudah sangat terasa di kalangan perwira yang selamat.
"Jika Anda belum dipecat, Anda bertanya-tanya apakah Anda akan menjadi berikutnya. Terutama jika Anda mengatakan hal yang salah kepada orang di kiri atau kanan Anda, yang bisa memicu kemarahan menteri pertahanan atau presiden. Ini adalah lingkungan yang sangat tidak sehat," ujar Eaton.
Kevin Carroll, seorang mantan kolonel Angkatan Darat yang pernah bertugas di kantor menteri pertahanan, mengonfirmasi hal ini.
"Ketika saya bertugas di staf gabungan pada tahun 2002 dan 2003, ada ketegangan karena perbedaan pendapat tentang Irak. Tapi semuanya sangat profesional dan beradab. Ini adalah kekacauan. Ini gila," katanya.
The Guardian melaporkan bahwa Hegseth semakin terisolasi dan dikelilingi oleh lingkaran kecil keluarganya sendiri.
Saudara laki-lakinya, Phil, diangkat sebagai penasihat senior meskipun tidak memiliki pengalaman militer.
Bahkan istrinya, Jennifer Rauchet, mantan produser Fox News, mulai menemani Hegseth ke pertemuan-pertemuan resmi.
Sementara itu pekerjaan menjalankan departemen dengan 2,1 juta personel militer dan 770.000 pegawai sipil diserahkan kepada Wakil Menteri Pertahanan Steve Feinberg.
Feinberg adalah seorang miliarder pemilik perusahaan investasi yang juga tidak memiliki latar belakang militer.
Hegseth sendiri justru lebih fokus pada isu-isu pribadinya termasuk merombak layanan pendeta di Pentagon.
Kekacauan internal ini terjadi di saat kritis ketika Amerika Serikat tengah terlibat perang terbuka melawan Iran.
Operasi Epic Fury yang diluncurkan pada 28 Februari 2026 kini telah memasuki bulan ketiga tanpa hasil yang memuaskan.
Apa yang dijanjikan sebagai kampanye militer yang cepat dan menghancurkan justru berubah menjadi kebuntutan strategis yang memalukan.
Selat Hormuz masih ditutup Iran sehingga harga minyak melonjak dan ekonomi global terganggu.
Senator Jack Reed, Demokrat senior di komite angkatan bersenjata Senat, secara langsung menyerang kredibilitas Hegseth.
"Pernyataan Anda, Tuan Menteri, sangat berlebihan secara berbahaya," kata Reed kepada Hegseth dalam dengar pendapat.
Reed mengungkapkan kekhawatirannya bahwa Hegseth telah memberi tahu Presiden Trump apa yang ingin didengar, bukan apa yang perlu didengar.
"Keyakinan berani tentang kesuksesan adalah pengabdian yang merugikan baik bagi panglima tertinggi maupun pasukan yang mempertaruhkan nyawa mereka berdasarkan keyakinan itu," tegas Reed.
Senator Richard Blumenthal juga tak kalah tajam dalam mengkritik kebijakan perang yang gagal.
"Saya tahu Anda menggambarkan perang ini sebagai keberhasilan militer yang menakjubkan. Namun rakyat Amerika tidak percaya," katanya.
"Satu hal yang tak terbantahkan, Amerika tidak akan pernah berhasil dalam perang kecuali rakyat Amerika mendukungnya. Dan jika apa yang Anda lihat sebagai kesuksesan sekarang adalah menang, saya benci melihat seperti apa kekalahan itu," ujar Blumenthal.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah retorika Hegseth yang kental dengan nuansa perang salib atau crusade.
Ia pernah berdoa untuk "tindakan kekerasan yang luar biasa terhadap mereka yang tidak pantas menerima belas kasihan" dalam sebuah kebaktian di Pentagon.
Di lengannya ia memiliki tato bertuliskan "Deus Vult" yang berarti Tuhan menghendakinya, frasa yang sama diteriakkan oleh tentara salib Abad Pertengahan.
Sejarawan Kristen evangelis, Kristin Kobes Du Mez, mengatakan tidak ada figur yang lebih sempurna dalam mewujudkan ideologi maskulinitas militan selain Hegseth.
"Anda tidak bisa mendapatkan perwujudan yang lebih baik dari ideologi itu—konsepsi kekristenan yang khusus militeristik dan mentalitas tujuan menghalalkan cara yang membaptis kekerasan dan kekejaman atas nama kebenaran—selain Hegseth," kata Du Mez.
Ia menggambarkan bagaimana cita-cita pria Kristen telah berubah secara drastis dari kehormatan menjadi kekerasan.
Jika pada abad ke-19 fokusnya adalah pada kehormatan dan martabat, kini pria evangelis ideal terlihat seperti Hegseth.
"Setiap musuh Amerika—asing maupun domestik—dan setiap musuh dari agenda khusus mereka juga adalah musuh Tuhan," pungkas Du Mez.
Para analis mulai bertanya-tanya di mana peran orang dewasa di ruangan yang bisa mengendalikan kekacauan ini.
Selama masa jabatan pertama Trump, para jenderal dianggap sebagai penahan terakhir kebijakan impulsif presiden.
Kini setelah pembersihan Hegseth, mereka semua sudah tidak ada lagi di posisi-posisi kunci.
Mantan perwira senior khawatir tentang kemampuan Kepala Staf Gabungan yang baru, Jenderal Dan Caine, untuk melawan perintah ilegal.
Caine adalah seorang jenderal bintang tiga yang dipensiunkan lalu dipromosikan dengan cepat tanpa pengalaman yang memadai.
Dengan militer yang terpecah belah secara internal dan dipimpin oleh sosok yang dianggap berbahaya oleh para perwiranya sendiri, pertanyaan besar pun muncul.
Akankah Amerika Serikat dapat menghindari bencana besar di tengah perang melawan Iran yang tidak kunjung usai.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
⭕️⚡️ The Guardian: Chaos hits the US Department of War.
— Middle East Observer (@ME_Observer_) May 3, 2026
The Guardian reported that many military officials consider the performance of the US Secretary of War a threat.
The Guardian, in a critical report on the state of the US Department of War, wrote that the Pentagon, after a… pic.twitter.com/XFvRUSiYsP