Repelita Jakarta - Sebuah kapal tanker bernama Honour 25 dilaporkan telah dibajak oleh kelompok perompak bersenjata di perairan Somalia yang terkenal sebagai jalur pelayaran paling berbahaya di dunia .
Dalam insiden pembajakan yang terjadi pada Selasa (21/4/2026) tersebut, kapten kapal asal Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan bernama Ashari Samadikun turut menjadi korban penyanderaan bersama sejumlah awak kapal lainnya yang terdiri dari berbagai negara .
ADVERTISEMENT
Peristiwa mencekam ini telah memicu kekhawatiran yang sangat besar bagi keluarga korban yang berada di Indonesia, yang kini berharap adanya intervensi cepat dari pemerintah termasuk Presiden RI untuk menyelamatkan para sandera .
Informasi awal mengenai pembajakan diketahui dari pesan suara atau voice note yang dikirim langsung oleh kapten kapal kepada istrinya yang bernama Santi Sanaya pada malam kejadian .
Dalam pesan suara tersebut, Ashari mengabarkan dengan suara panik bahwa kapal yang sedang dinakhodainya sedang diserang oleh perompak di tengah laut Somalia yang gelap gulita .
“Suami saya kirim voice note, bilang kapalnya diserang bajak laut,” ujar Santi menirukan isi pesan singkat yang sangat mencekam tersebut .
Komunikasi terakhir antara kapten dan keluarga berlangsung pada Selasa (21/4/2026) malam sekitar pukul 19.30 WITA atau dini hari waktu setempat di perairan Somalia .
Setelah pengiriman pesan singkat itu, kontak dengan korban sempat terputus total selama beberapa waktu yang membuat keluarga diliputi kecemasan luar biasa .
Beberapa hari kemudian keluarga akhirnya bisa kembali berkomunikasi melalui sambungan video call yang sangat singkat dan diawasi ketat oleh para pembajak .
Dalam percakapan video yang penuh tekanan itu, terlihat jelas kondisi kapten Ashari berada di bawah pengawasan ketat perompak bersenjata yang tidak pernah lepas dari pandangan .
“Tidak seperti disekap, tapi dikelilingi perompak. Senjata juga ada di sekitar mereka,” ungkap Santi menggambarkan suasana mencekam yang terlihat dari layar ponselnya .
Kapal tanker Honour 25 diketahui membawa total 17 awak kapal dari berbagai negara, dengan empat orang di antaranya merupakan warga negara Indonesia (WNI) yang kini menjadi sandera .
Para perompak dilaporkan menaiki kapal secara paksa dengan menggunakan perahu kecepatan tinggi sebelum akhirnya langsung menodongkan senjata api ke arah seluruh kru yang panik .
Situasi semakin mencekam terjadi saat seluruh awak kapal dipaksa untuk menyerah dan mengangkat tangan tanpa melakukan perlawanan sedikit pun .
“Saya bilang jangan melawan… mereka todongkan senjata ke kepala saya,” kata Ashari dalam komunikasi terbatas dengan keluarga yang penuh dengan ancaman kematian .
Bahkan muncul ancaman serius dari kelompok perompak yang menyebut bahwa para sandera bisa ditembak mati di tempat jika tuntutan mereka tidak segera dipenuhi oleh pemilik kapal .
Meskipun berada dalam tekanan psikologis yang luar biasa berat, kondisi fisik para awak kapal dilaporkan masih selamat hingga saat ini .
Namun mereka tetap berada di bawah pengawasan superketat para perompak dan terus-menerus diancam dengan senjata api yang selalu siap ditembakkan .
Pihak keluarga menyebut para perompak sejauh ini belum melakukan tindakan kekerasan fisik secara terang-terangan terhadap para sandera .
Akan tetapi situasi keamanan bisa berubah menjadi sangat buruk dalam sekejap mata jika ada hal yang tidak diinginkan terjadi di tengah negosiasi .
“Situasinya bisa berubah-ubah… bisa mempengaruhi keselamatan kru,” kata Santi menggambarkan ketidakpastian yang menyiksa batin keluarga .
Sementara itu komunikasi antara kru kapal dengan keluarga di Indonesia kini sangat dibatasi oleh para pembajak yang hanya mengizinkan panggilan singkat di waktu-waktu tertentu .
Hingga saat ini proses negosiasi antara perusahaan pemilik kapal dengan kelompok perompak dilaporkan masih berlangsung secara intensif namun belum menemukan titik terang kesepakatan .
Keluarga korban pun mendesak pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri untuk segera turun tangan secara maksimal dan memberikan perlindungan konsuler kepada para WNI yang disandera .
Mereka berharap ada langkah diplomatik yang kuat maupun operasi penyelamatan dari aparat keamanan agar seluruh awak kapal dapat kembali ke tanah air dengan selamat tanpa cedera .
“Saya berharap pemerintah dan perusahaan bisa segera menyelesaikan masalah ini,” harap keluarga korban dengan nada penuh kepasrahan dan doa .
Perairan Somalia telah lama dikenal sebagai salah satu wilayah paling rawan aksi pembajakan di dunia karena ketidakstabilan keamanan maritim di kawasan tersebut .
Kapal-kapal dagang yang melintas di kawasan Teluk Aden dan perairan Somalia kerap menjadi target empuk kelompok perompak bersenjata yang mencari tebusan .
Insiden pembajakan yang menimpa Honour 25 kembali menunjukkan betapa tingginya risiko yang harus dihadapi oleh para pelaut internasional termasuk warga negara Indonesia yang bekerja di sektor pelayaran global .
Kasus pembajakan kapal tanker Honour 25 ini menjadi perhatian serius publik Tanah Air karena melibatkan empat WNI termasuk kapten asal Gowa yang menjadi tulang punggung keluarga .
Dengan situasi yang masih belum pasti dan penuh ancaman, keluarga korban kini hanya bisa berharap pada langkah cepat pemerintah untuk memastikan keselamatan para sandera sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan .
Perkembangan proses negosiasi dan upaya penyelamatan dari berbagai pihak masih terus dinantikan oleh keluarga dan masyarakat Indonesia yang ikut prihatin .(*)
Editor: 91224 R-ID Elok