Berita, Nasional

Kader PSI Sebut Gibran Sasaran Empuk Kritik Politik Karena Posisi Jokowi

Repelita.net

09 September 2026 20:38 WIB • 379 view

Kader PSI Sebut Gibran Sasaran Empuk Kritik Politik Karena Posisi Jokowi
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Kader Partai Solidaritas Indonesia yakni Deddy Nur Palakka menilai Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebagai salah satu figur muda yang menarik perhatian dalam peta kepemimpinan nasional.

Menurut Deddy, Gibran tidak membutuhkan banyak narasi untuk memperkenalkan dirinya kepada masyarakat luas di tanah air.

ADVERTISEMENT

Putra sulung Presiden ketujuh Joko Widodo tersebut, kata dia, sudah mempunyai rekam cerita politik yang cukup panjang dan beragam di mata publik.

"Kalau anak muda ini enggak perlu saya buatkan narasi, karena di kepala rakyat Indonesia cerita tentang anak muda ini sudah sangat beragam," ujar Deddy, Rabu, 9 September 2026.

Deddy mengemukakan bahwa perhatian publik tersebut menjadi salah satu alasan kuat mengapa Gibran sangat layak diperhitungkan sebagai figur dalam bursa kepemimpinan nasional.

Ia menyebut Gibran sebagai salah satu kandidat pemimpin nasional yang memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat.

"Tapi, satu hal yang cukup jelas bahwa anak muda ini adalah salah satu kandidat pemimpin nasional yang menarik banyak perhatian," kata dia.

Deddy turut menyoroti pentingnya konsistensi Gibran dalam membangun hubungan secara langsung dengan masyarakat luas.

Menurut dia, popularitas seorang tokoh politik tidak cukup hanya ditopang oleh posisi jabatan ataupun latar belakang keluarga semata.

Ia menilai Gibran akan memiliki peluang besar untuk memperkuat penerimaan publik apabila terus menunjukkan kedekatan nyata dengan masyarakat.

"Apalagi kalau dia konsisten berjalan bersama rakyat, pamornya akan semakin mengakar membumi seperti namanya Gibran Rakabuming Raka," ujar Deddy.

Pernyataan tersebut mencuat di tengah perbincangan hangat mengenai arah konstelasi politik nasional menjelang Pemilihan Presiden 2029 mendatang.

Gibran, yang kini mengemban tugas sebagai wakil presiden mendampingi Presiden Prabowo Subianto, menjadi salah satu figur yang kerap dikaitkan dengan kontestasi politik masa depan.

Dalam kesempatan yang sama, Deddy juga turut menanggapi polemik mengenai latar belakang pendidikan Gibran, termasuk pertanyaan publik mengenai kepemilikan ijazah sekolah menengah atas.

Deddy menyinggung pengalaman warga Indonesia yang menempuh pendidikan di luar negeri selama masa sekolah mereka.

Menurut dia, menempuh pendidikan di luar negeri tidak serta-merta berarti seseorang tidak memiliki dokumen kelulusan sekolah menengah yang sah.

"Sepertinya semua anak-anak Indonesia yang belajar di luar negeri enggak punya ijazah SMA," kata Deddy.

Ia kemudian membandingkan polemik tersebut secara santai dengan pengalamannya sendiri ketika dulu menempuh pendidikan di SMA Negeri WTB.

"Kalau sekolahnya macam saya di SMA Negeri WTB jelas enggak ada yang peduli," ujarnya.

Polemik mengenai pendidikan Gibran sebelumnya memang menjadi bagian dari sorotan publik terhadap keluarga besar Joko Widodo.

Latar belakang pendidikan dan dokumen kelulusan sejumlah anggota keluarga tersebut beberapa kali menjadi bahan perdebatan hangat di ruang publik.

Deddy menilai posisi Gibran sebagai anak dari seorang mantan presiden turut memengaruhi tingginya perhatian masyarakat terhadap dirinya.

Ia menyebut dinamika politik yang melibatkan Jokowi dan keluarganya ikut membuat Gibran sasaran kritik.

"Karena ini anak Presiden dan bapaknya secara kebetulan piss-off banyak tokoh-tokoh penting di Republik, makanya ia terus menjadi sasaran empuk," tutur Deddy.

Menurut Deddy, tingginya sorotan terhadap Gibran tidak bisa dilepaskan begitu saja dari posisi politik keluarganya saat ini.

Gibran bukan sekadar putra Jokowi, melainkan juga seorang wakil presiden yang menduduki salah satu posisi politik tertinggi di negara ini.

Di sisi lain, peta kekuatan politik menuju Pilpres 2029 terpantau masih sangat dinamis dan terus berkembang dari waktu ke waktu.

Presiden Prabowo Subianto disebut perlu menjaga serta memperbaiki citra politiknya apabila ingin kembali maju dalam pemilihan presiden berikutnya.

Persaingan elektoral juga mulai memperlihatkan kemunculan sejumlah nama baru yang potensial meramaikan bursa pencalonan.

Salah satu figur tersebut adalah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang elektabilitasnya dalam sejumlah survei disebut mampu bersaing ketat.

Dedi Mulyadi merupakan kader Partai Gerindra dan pernah berada dalam satu garis perjuangan politik yang sama dengan Prabowo.

Kondisi tersebut membuat persaingan menuju tahun 2029 berpotensi menghadirkan babak baru dalam dinamika internal maupun eksternal partai politik.

Kendati demikian, proses pencalonan resmi untuk ajang Pilpres 2029 masih tergolong jauh dari tahap final yang menentukan.

Konstelasi koalisi, hasil pemilihan legislatif, keputusan partai, serta tingkat kepuasan publik tetap menjadi faktor penentu utama.

Dengan posisi strategis Gibran sebagai wakil presiden, pergerakan politiknya tentu akan terus diawasi ketat oleh publik.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Advertisement

Top Articles

Statistik Pengunjung