Repelita [Jakarta] - Kondisi kesehatan mantan Presiden Joko Widodo sempat memicu kekhawatiran publik pasca-kepulangannya dari Vatikan.
Mantan kepala negara tersebut terserang gangguan pada kulit yang mengakibatkan perubahan pada struktur wajah serta kemunculan noda kecoklatan.
ADVERTISEMENT
Meskipun muncul spekulasi di tengah masyarakat bahwa beliau mengidap gangguan autoimun, pria yang akrab disapa Jokowi tersebut segera memberikan klarifikasi.
Ia menegaskan bahwa keluhan yang dialaminya hanyalah penyakit ringan akibat perbedaan cuaca ekstrem yang dialami selama perjalanan.
Spekulasi masyarakat tetap bergulir lantaran perubahan fisik sang mantan presiden dinilai cukup signifikan oleh sebagian kalangan.
Selain perubahan pada area wajah, bentuk tubuh ayah dari Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ini juga dinilai tampak lebih kurus.
Kendati demikian, dalam berbagai kesempatan beliau tetap menyatakan situasi kesehatannya baik-baik saja dan tidak ada hal serius yang perlu dicemaskan.
Langkah ini diambil guna menenangkan publik yang terus menyoroti kondisi fisik beliau.
Setelah melewati masa pemulihan, Jokowi mengumumkan kesiapannya untuk kembali beraktivitas secara penuh di tengah masyarakat.
Beliau menyampaikan bahwa kondisi fisiknya telah kembali prima dan siap melakukan perjalanan ke berbagai wilayah di Indonesia.
Keputusan untuk kembali turun ke lapangan ini diambil guna memenuhi berbagai undangan kegiatan yang telah disampaikan oleh warga dari berbagai daerah.
“Ya saya sudah sehat dan saya akan datangi undangan-undangan yang ada. Ya seperti ini udah memenuhi undangan-undangan di daerah udah siap insyaallah. Tiap hari lihat,” kata Jokowi, Senin (25/5/2026).
Mengenai indikasi adanya muatan politis dalam rangkaian perjalanan tersebut, Jokowi memilih untuk tidak memberikan tanggapan secara mendalam.
Beliau kembali menekankan bahwa esensi dari kunjungan tersebut murni sebagai bentuk pemenuhan undangan dari warga setempat.
“Keberadaan saya di sana karena ada undangan dari daerah. Ini kan saya banyak undangan. Undangan dari daerah-daerah. Dari masyarakat,” tegas Jokowi mengenai motif utama dari rencana perjalanannya tersebut.
Beberapa provinsi yang masuk dalam daftar kunjungan awal beliau di antaranya adalah Lampung, Nusa Tenggara Timur, hingga Jawa Barat.
Selain melakukan silaturahmi dengan masyarakat umum, rangkaian perjalanan ini juga dimanfaatkan untuk berinteraksi dengan struktur kepengurusan partai politik tertentu.
“Dan itu juga untuk memberikan motivasi dan juga ketemu dengan PSI di daerah. Terus juga ketemu relawan di daerah karena ada undangan. Lampung, NTT, Jawa Barat. Ya seperti ini,” jelasnya merinci agenda kerja yang akan dilakoninya.
Di sisi lain, publik kembali dikejutkan dengan pengakuan terbaru dari Presiden ke-7 RI ini mengenai aktivitas masa pensiunnya.
Alih-alih memilih untuk beristirahat total di kediamannya yang berada di Solo, beliau justru bersiap merambah dunia seni peran.
Jokowi secara terbuka menyatakan ketertarikannya untuk terlibat dalam proyek pembuatan film layar lebar yang bertema kolosal Dayak.
“Ya kalau ngajak main film saya harus latihan akting dulu. Siap saja. Pemeran utama siap, pemeran pembantu siap, figuran siap,” ungkap Jokowi saat berada di Sumber, Banjarsari, Solo, Senin (25/5/2026).
Tawaran untuk terlibat dalam dunia akting ini pertama kali dilontarkan oleh Panglima Jilah yang merupakan Pemimpin Besar Pasukan Merah Tariu Borneo Bangkule Rajakng (TBBR).
Gagasan tersebut disampaikan secara langsung saat tokoh adat itu bertandang ke kediaman pribadi Jokowi pada Rabu (20/5/2026).
“Ya ngomong dengan saya seperti itu,” terang Jokowi membenarkan adanya pembicaraan mengenai proyek seni peran tersebut dalam pertemuan mereka.
Panglima Jilah menjelaskan bahwa konsep sinema yang sedang dirancang tersebut akan mengusung format skala besar atau kolosal.
Walaupun demikian, detail mengenai teknis pelaksanaan produksi dan jadwal syuting film masih belum diungkapkan secara mendalam kepada publik.
Menurut penjelasan tokoh Dayak tersebut, alur cerita film akan mengeksplorasi jalinan sejarah masa lalu antara peradaban Dayak, Jawa, dan Majapahit.
"Eh pokoknya peran beliau peran utama, ya. Nanti akan kita buat sebaik mungkin. Filmnya menceritakan cerita-cerita Dayak di masa lampau, bagaimana kolaborasi Dayak dengan Jawa, Majapahit," pungkasnya.
Di samping membicarakan rencana sinematik tersebut, kunjungan tokoh adat ini juga bertujuan menyerahkan undangan resmi terkait acara kebudayaan.
Jokowi diharapkan dapat hadir dalam upacara adat besar masyarakat Dayak yang dijadwalkan berlangsung pada bulan Agustus mendatang.
“Kami silaturahmi dengan beliau mengenai adat budaya. Kami mengundang beliau untuk datang di acara adat Dayak bulan delapan,” ujar Panglima Jilah memberikan keterangan setelah pertemuan selesai.
Pertemuan yang berlangsung hangat tersebut tidak hanya terbatas pada pembahasan undangan adat dan dunia perfilman semata.
Kedua tokoh ini juga menyempatkan diri untuk bertukar pikiran mengenai isu kebangsaan serta strategi pelestarian eksistensi budaya Nusantara.
“Tentang kebangsaan saja,” tambahnya secara singkat ketika ditanya mengenai topik pembahasan lain yang bergulir dalam diskusi tersebut.
Panglima Jilah menambahkan bahwa tingkat penerimaan dan kecintaan masyarakat di wilayah Kalimantan Barat terhadap figur Jokowi masih sangat tinggi.
Hal inilah yang mendasari keyakinannya bahwa kehadiran sang mantan presiden dalam upacara adat nanti akan disambut dengan penuh antusiasme.
“Banyak penggemar beliau,” ucap tokoh adat tersebut optimis mengenai respons positif yang akan diberikan oleh warga pedalaman Kalimantan.
Apabila melihat kembali ke belakang, gangguan kesehatan pada kulit yang dialami oleh Jokowi dilaporkan telah berlangsung selama kurang lebih lima bulan.
Perhatian publik mulai terarah pada masalah ini ketika beredar dokumentasi visual yang memperlihatkan perubahan warna kulit beliau menjadi lebih terang.
Foto yang menampilkan kondisi fisik Jokowi bersama Iriana tersebut pertama kali diunggah oleh akun media sosial X dengan tautan https://x.com/Tan_Mar3M pada Sabtu (4/10/2025).
Dampak dari kondisi kesehatan yang menurun tersebut membuat Jokowi terpaksa absen dari beberapa agenda nasional yang cukup penting.
Salah satunya adalah ketidakhadiran beliau dalam upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) TNI ke-80 yang dipusatkan di kawasan Monas.
Berdasarkan runutan waktu yang ada, gangguan kesehatan kulit tersebut mulai dirasakan oleh Jokowi tak lama setelah beliau menyelesaikan kunjungan dari Vatikan pada 28 April 2025.
Persoalan kesehatan ini turut menuai perhatian dan analisis dari praktisi medis sekaligus pengamat sosial, Tifauzia Tyassuma atau Dokter Tifa.
Melalui pengamatan visualnya, ia menilai bahwa proses penyembuhan penyakit yang dialami oleh mantan wali kota Solo tersebut cenderung berjalan lambat.
Ia menyoroti adanya pembengkakan pada bagian wajah serta leher, ditambah dengan munculnya rona kemerahan pada area kulit kaki ayah Wakil Presiden RI tersebut.
Melihat situasi perkembangan kesehatan yang tidak kunjung menunjukkan grafik kenaikan signifikan, Dokter Tifa menyampaikan rasa prihatinnya melalui ruang digital.
Ia memberikan analisis medis tersendiri dengan menduga bahwa penyakit tersebut berkaitan dengan sistem imun tubuh yang menyerang jaringan sendiri.
"Saya prihatin betul-betul prihatin. Ini sakit berat lho, jangan dikira cuma kudisan," tulis Dokter Tifa melalui akun X pribadinya di https://x.com/DokterTifa pada Rabu (1/10/2025).
Pernyataan dari praktisi kesehatan tersebut langsung memicu perdebatan sengit dan respons beragam dari para pengguna platform media sosial.
Sebagian netizen menyatakan kekhawatiran yang sama, sementara sebagian lainnya meminta agar publik tidak membuat spekulasi medis yang berlebihan.
Tudingan mengenai adanya penyakit autoimun tersebut langsung mendapatkan bantahan resmi dari pihak yang berada di lingkaran terdekat mantan presiden.
Kompol Syarif Muhammad Fitriansyah selaku ajudan menegaskan bahwa informasi mengenai penyakit berat tersebut tidak benar.
Pihak ajudan memberikan klarifikasi bahwa gangguan yang dialami oleh Jokowi murni merupakan manifestasi dari reaksi alergi kulit biasa.
“Betul, tidak hadir. Beliau masih proses penyembuhan dari alergi kulit,” jelas Kompol Syarif saat memberikan konfirmasi pada Senin (2/6/2025).(*)
Editor: 91224 R-ID Elok