Repelita Jakarta - Perbincangan mengenai cara Prabowo Subianto memahami dan menjalankan nilai-nilai Islam kembali menjadi perhatian di media sosial setelah muncul unggahan yang mempertanyakan isi sebuah karya yang membahas sosok Presiden tersebut.
Pada 5 September 2026, akun @opiniym menyoroti tulisan yang disebut memuat pandangan puluhan alim dan akademisi mengenai pengalaman mereka berinteraksi dengan Prabowo.
ADVERTISEMENT
Unggahan itu mempertanyakan apakah kumpulan tulisan tersebut benar-benar menyajikan refleksi objektif atau justru berpotensi memberikan gambaran yang terlalu positif terhadap sosok yang dibahas.
"Islam yang dipahami dan diamalkan Prabowo. Kebaikan yang ia buat dari pemahamannya sebagai Muslim.
Kira-kira begitu puluhan alim, akademisi, menuangkan pandangan dan refleksi interaksinya dengan Presiden. Apakah tulisan-tulisan itu dibuat buat "menjilat" sosok yang ditulis? Saya belum baca, kendati dari judul dan karya serupa para penulis yang berkontribusi, sedikit atau banyak bisa diraba arah kupasannya.
Seberapa lapang ruang kritis atas praktik berislam sosok yang ditulis?"
Dalam unggahan lainnya, akun tersebut menampilkan foto yang disebut merupakan koleksi Ilham Qadir, tanpa memberikan keterangan tambahan mengenai isi gambar tersebut.
Sorotan kemudian berkembang melalui sejumlah komentar pengguna Threads yang mempertanyakan beberapa judul tulisan serta sudut pandang yang digunakan dalam membahas kehidupan keislaman Prabowo.
Salah satu pengguna, @skwahyuni, menyoroti judul "harapan rakyat palestina pd indonesia" dan mempertanyakan keberanian penulis untuk mengulas kebijakan pemerintah dalam isu Palestina.
"Yg paling penasaran tuh judul: "harapan rakyat palestina pd indonesia". Berani jujur gak penulisnya mengatakan betapa prabowo menghancurleburkan harapan itu dg antusiasmenya mendukung kebijakan trump dn setanyahu?"
Komentar lain datang dari akun @mifayihsani, yang mempermasalahkan sebuah pernyataan mengenai posisi Prabowo dalam konteks keagamaan.
"Dengan dia melabeli menempati urutan 99 setelah tuhan itu secara ga langsung dia udah menganggap Rasulullah di bawahnya dia. Naudzubillah. (Tolong yang non Islam jangan bilang kami sok agamis). Karena di syahadat kami aja isinya mengakui Allah dan Rasulullah."
Sementara itu, akun @wardaniadfc menyampaikan komentar singkat dengan menyinggung sejumlah aktivitas keagamaan.
"Jumatan't Solawatan't Ramadan't"
Perdebatan mengenai judul tulisan juga terlihat dalam komentar akun @budi_priyatno86, yang mengusulkan judul berbeda untuk menggambarkan isi tulisan mengenai kehidupan keislaman Prabowo.
"Judulnya lebih tepat "Muslimnya Prabowo Menurut Orang Terdekatnya""
Kritik terhadap penggunaan judul kembali muncul dari akun @aku.marhaen, yang menyoroti frasa "kebangkitan para haji-haji" dalam tulisan Dahnil.
"Langsung ngakak baca judul tulisan Dahnil: kebangkitan para haji-haji. Editornya lagi ngantuk, kah? Kenapa ga sekalian aja para-para haji? 😂😂😂"
Hal serupa disampaikan akun @adhijat, yang mempertanyakan proses penyuntingan judul tersebut serta mengaitkannya dengan kemungkinan adanya kepentingan tertentu di balik penerbitannya.
"Kebangkitan para haji-haji? Kok bisa lolos ya? Penulisnya tidak pernah sekolahkah? Editornya juga asal ngelolosin aja kah? Gak apa-apa, kan asal bapak senang, bukan begitu yang dimau?"
Rangkaian komentar tersebut menunjukkan adanya perbedaan pandangan di ruang digital mengenai cara kehidupan keagamaan Prabowo digambarkan dalam tulisan yang beredar.
Di satu sisi, karya tersebut dipandang sebagai kumpulan pengalaman dan refleksi dari sejumlah tokoh yang pernah berinteraksi dengan Presiden, sementara sebagian pengguna justru mempertanyakan seberapa jauh kritik terhadap praktik keberagamaan Prabowo turut mendapat ruang.
Perdebatan juga melebar ke persoalan kebijakan Indonesia terhadap Palestina serta pilihan kata dalam sejumlah judul tulisan, sehingga pembahasan tidak hanya berkisar pada kehidupan pribadi dan pemahaman agama Prabowo.
Unggahan dan komentar tersebut merupakan pandangan pengguna media sosial yang mencerminkan perdebatan publik, sehingga penilaian mengenai isi karya maupun kebijakan pemerintah tetap perlu dilihat berdasarkan sumber dan konteks yang dapat diverifikasi.( *)
Editor: 91224 R-ID Elok
View on Threads
Innalillahi.. ampyun dah!
— King Purwa (@BosPurwa) September 4, 2026
Frasa "Islam ala..." secara epistemologis sdh ngaco secara makna, MUI sama BAZIS pulak yg gak etis klo diliat independensi institusi pic.twitter.com/WXQYfsJhL4