Repelita Teheran - Ketegangan di Selat Hormuz mencapai titik didih baru setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran secara resmi menutup kembali jalur perairan tersibuk di dunia ini pada Sabtu malam, 18 April 2026.
IRGC mengeluarkan ancaman yang belum pernah ada sebelumnya bahwa setiap kapal yang mencoba mendekati selat akan dianggap bekerja sama dengan musuh dan akan menjadi sasaran tembakan langsung.
ADVERTISEMENT
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Sayyid Mojtaba Khamenei langsung mengeluarkan pernyataan tegas di Telegram bahwa angkatan laut Iran yang gagah berani siap membuat musuh merasakan kepahitan kekalahan baru.
Keputusan dramatis ini diumumkan oleh Angkatan Laut IRGC melalui kantor berita resmi Sepah News, dengan menyatakan Selat Hormuz ditutup sampai AS mencabut blokade lautnya terhadap kapal dan pelabuhan Iran.
Kami memperingatkan bahwa tidak ada kapal jenis apa pun yang boleh bergerak dari tempat berlabuhnya di Teluk Persia dan Laut Oman, setiap pendekatan ke Selat Hormuz akan dianggap sebagai kerja sama dengan musuh, dan kapal yang melanggar akan menjadi sasaran, bunyi pernyataan IRGC.
Penutupan ini terjadi hanya kurang dari 24 jam setelah Teheran mengumumkan pembukaan sementara selat untuk kapal komersial pada Jumat, 17 April 2026, seiring dengan gencatan senjata di Lebanon.
IRGC menuduh AS melanggar komitmen gencatan senjata dengan tetap mempertahankan blokade lautnya terhadap Republik Islam, sementara Tentara Laut Inggris melaporkan bot bersenjata Iran melepaskan tembakan ke kapal yang mencoba melintas.
Dua kapal dilaporkan terkena tembakan dari kapal-kapal cepat Teheran, sehingga lalu lintas kapal di selat benar-benar lumpuh dan ratusan kapal masih terkandas di Teluk sejak konflik dimulai 28 Februari lalu.
Analis Kajian Strategis Intelijen Universitas Indonesia Ridlwan Habib menyebut ancaman Iran sebagai tindakan sangat berani karena meskipun armada laut Iran kecil, jumlah kapal cepatnya sekitar 50 hingga 100 unit siap melawan destroyer AS.
Kalau ancaman ini benar-benar dilakukan maka akan menjadi pertarungan laut yang sangat-sangat mematikan, kapalnya cuma kecil sekitar 14 meter dengan kemampuan kamikaze, sedangkan destroyer AS rata-rata awaknya 300 sampai 330 orang, jelas Ridlwan dikutip dari YouTube tvOne.
Panglima Angkatan Darat Iran Mayor Jenderal Amir Hatami menekankan kesiapan militer penuh dengan mata terbuka dan jari di pelatuk, siap menghadapi setiap ancaman atau tindakan agresi musuh.
Presiden AS Donald Trump merespons dengan memperingatkan Iran agar tidak menggunakan Selat Hormuz sebagai alat pemerasan, dengan menyatakan Iran tidak bisa memeras kami.
Namun pernyataan Trump justru menjadi salah satu alasan IRGC menutup selat karena mereka menyebut pernyataan presiden AS itu tidak memiliki kredibilitas.
Kapal tanker asal China, Rich Starry, menjadi salah satu kapal yang berhasil melintas sebelum penutupan total, menunjukkan bahwa kepentingan ekonomi global tetap mencari jalannya sendiri di tengah konflik.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyebut keputusan AS untuk memblokade sebagai keputusan yang ceroboh dan bodoh, serta menegaskan bahwa Selat Hormuz berada di bawah kendali Republik Islam.
Wakil Menteri Luar Iran Saeed Khatibzadeh mengatakan belum ada tanggal untuk putaran negosiasi berikutnya karena Iran tidak ingin memasuki pertemuan yang akan gagal dan menjadi dalih untuk eskalasi lain.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok