Repelita Teheran - Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei, merespons keras gertakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengancam akan mendatangkan "badai" dengan pernyataan bahwa Iran akan membangun bom nuklir.
Pernyataan tegas itu disampaikan Mojtaba Khamenei dalam pidato yang dibacakan melalui televisi pemerintah pada Kamis (30/4/2026) di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara menyusul blokade laut AS di Selat Hormuz.
ADVERTISEMENT
"Kami akan membangun bom nuklir jika diperlukan untuk melindungi bangsa Iran dari ancaman 'Setan Besar'," demikian pernyataan pemimpin tertinggi Iran yang dikutip dari kantor berita Tasnim News pada Jumat (1/5/2026).
Dia menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan pernah bisa memaksakan kehendaknya kepada rakyat Iran melalui ancaman militer maupun tekanan ekonomi.
Mojtaba Khamenei menyebut 90 juta warga Iran menganggap seluruh kemampuan nuklir dan rudal sebagai aset nasional yang akan dipertahankan mati-matian.
"Sembilan puluh juta warga Iran yang bangga dan terhormat di dalam dan luar negeri menganggap seluruh kapasitas berbasis identitas Iran—baik spiritual, manusia, ilmiah, industri, maupun teknologi—dari nanoteknologi dan bioteknologi hingga kemampuan nuklir dan rudal—sebagai sesuatu yang bersifat nasional," katanya.
Pernyataan ini muncul setelah Trump sebelumnya menegaskan akan tetap mempertahankan blokade laut di Selat Hormuz meskipun Iran telah mengajukan proposal untuk membuka kembali jalur perairan strategis tersebut.
Trump menyatakan bahwa blokade yang diberlakukan AS jauh lebih efektif dibandingkan serangan udara untuk mencekik ekonomi Iran.
"Blokade itu sedikit lebih efektif daripada serangan udara. Mereka tercekik. Dan situasinya akan semakin buruk bagi mereka. Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir," ujar Trump kepada Axios pada Rabu (29/4/2026).
Menanggapi ancaman tersebut, Mojtaba Khamenei justru mengambil sikap yang lebih keras dengan menyatakan bahwa Iran tidak akan pernah menyerahkan program nuklirnya kepada tekanan asing.
Dia juga melontarkan retorika pedas terhadap Amerika Serikat dengan mengatakan bahwa satu-satunya tempat bagi warga Amerika di Teluk Persia adalah "di dasar laut".
"Orang asing yang datang dari ribuan kilometer jauhnya dengan niat serakah tidak memiliki tempat di sini kecuali di kedalaman perairannya," tegas pemimpin tertinggi Iran.
Mojtaba Khamenei menyebut Amerika Serikat sebagai "Setan Besar", sebuah istilah yang sejak Revolusi Islam 1979 kerap digunakan pemimpin Iran untuk merujuk pada Washington.
Dia juga menegaskan bahwa Iran akan tetap mempertahankan kontrol atas Selat Hormuz yang menjadi jalur transit sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
"Babak baru bagi Teluk Persia dan Selat Hormuz sedang terbentang," kata Mojtaba Khamenei mengisyaratkan bahwa Iran tidak akan mundur dalam menghadapi tekanan AS.
Sikap keras Iran ini muncul di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat akibat blokade laut yang membatasi ekspor minyak negara tersebut.
Namun demikian, pemimpin tertinggi Iran menegaskan bahwa rakyatnya siap menghadapi segala konsekuensi demi mempertahankan kedaulatan dan program nuklir mereka.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok